Prevalensi Turun, Kota Yogyakarta Fokus Jaga Konsistensi Penanganan Stunting

Selasa, 09 Des 2025, 17:30 WIB

YOGYAKARTA - Upaya pengendalian stunting di Kota Yogyakarta terus menunjukkan perbaikan. Pemantauan terbaru yang dilakukan melalui penimbangan dan pengukuran balita di Posyandu—yang kemudian diverifikasi berlapis oleh Puskesmas hingga Dinas Kesehatan—menunjukkan prevalensi stunting berada pada kisaran sembilan persen pada Oktober. Dari hampir sepuluh ribu balita yang tercatat, sekitar 873 di antaranya masuk kategori pendek dan sangat pendek. Angka tersebut menjadi indikator bahwa berbagai intervensi yang dijalankan pemerintah daerah mulai memberi hasil, meski pengawasan tetap perlu diperketat.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Aan Iswanti, mengingatkan bahwa pencapaian ini tidak boleh membuat pemerintah dan masyarakat lengah.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Pemkot Yogyakarta

“Pak Wali menargetkan satu digit, dan alhamdulillah sudah tercapai. Tapi tidak boleh ayem. Upaya harus terus dilakukan supaya angkanya tidak naik,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Senin (8/12).

Aan menjelaskan bahwa penanganan stunting dilakukan melalui intervensi spesifik dan sensitif. Intervensi spesifik mencakup pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi remaja putri, layanan kesehatan bagi calon pengantin, hingga pemeriksaan antenatal care (ANC) untuk ibu hamil.

ANC meliputi pemeriksaan fisik menyeluruh, tes darah dan urin, USG dua kali, serta layanan terintegrasi seperti konseling gizi dan psikologis, imunisasi TT, hingga skrining triple eliminasi (HIV, Sifilis, Hepatitis B). Seluruhnya harus dilakukan minimal enam kali selama kehamilan.

“Remaja putri kami berikan tablet tambah darah supaya tidak anemia, sehingga nanti ketika menikah dan hamil sudah dalam kondisi yang betul-betul siap. Kemudian ibu hamil minimal harus enam kali ANC di Puskesmas. Semua diperiksa, mulai dari kondisi gigi, psikologis, hingga hemoglobin,” jelasnya.

Bagi ibu hamil atau balita yang menunjukkan indikasi kurang gizi, pemerintah memberikan dukungan berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT) melalui dana BOK Kemenkes dan Dana Keistimewaan. Aan menegaskan bahwa bantuan tersebut harus berlangsung berkelanjutan.

“Upaya yang kita lakukan itu harus terus menerus. Jangan sampai lengah, karena kalau lengah sedikit saja angkanya bisa naik lagi,” tegasnya.

Edukasi mengenai ASI eksklusif juga diperkuat karena menjadi salah satu fondasi penting dalam pencegahan stunting. Pengawasan dilakukan sepanjang tahun agar praktik pemberian ASI berjalan optimal.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Iswari Paramita, menambahkan bahwa tingkat partisipasi penimbangan balita yang sempat menyentuh 100 persen pada Agustus–September, turun menjadi 96,35 persen atau 9.566 balita pada Oktober 2025. Ia menyebut berbagai alasan ketidakhadiran.

“Beberapa kemungkinan itu misalnya karena saat jadwal buka Posyandu anak dan orang tuanya tidak berada di tempat. Ada juga yang ketiduran dan tidak dibangunkan. Jumlah yang tidak hadir itu sebenarnya sedikit jika dibagi dengan 622 Posyandu, rata-rata hanya lima anak,” jelasnya.

Iswari menekankan bahwa aspek lingkungan membawa pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak.

“Lingkungan itu 70 persen. Misalnya minum air yang mengandung bakteri E. coli sehingga sering diare. Kalau diare, makan sebanyak apa pun tidak naik berat badannya. Kalau berat badan tidak naik, tinggi badannya juga tidak naik. Ini seperti efek domino,” terangnya.

Ia juga menyoroti angka anemia pada remaja putri yang masih berada di kisaran 25,6 persen berdasarkan pengukuran Juli 2024–Juni 2025. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi risiko stunting di masa mendatang.

Iswari mengingatkan agar remaja tidak mengonsumsi kopi, teh, atau minuman berkarbonasi karena dapat menghambat penyerapan zat besi.

“Anemia itu bukan keturunan, tapi soal cadangan zat besi. Kalau minum tablet tambah darah tapi pola makannya tidak bagus, ya sama saja. Protein hewani minimal dua kali sehari, nabati tiga kali sehari. Kalau makan tempe, ukuran potongan tipis dua potong sekali makan,” ujarnya.

Ia memastikan bahwa berbagai upaya promotif dan preventif akan diperkuat pada 2026. “Kita lakukan terpadu dari remaja, ibu hamil, sampai balita. Semua harus berjalan bersamaan,” tegasnya.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.