Rantai Pasok Pangan Nasional Secara Struktural Sangat Rentan
Senin, 08 Des 2025, 01:15 WIBJAKARTA - Dampak lanjutan dari bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dinilai bukan sekadar insiden logistik, melainkan cerminan dari kerentanan struktural dalam rantai pasok pangan nasional.
Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar), Denpasar, Bali, I Nengah Muliarta, mengatakan saat bencana hidrometeorologi memutus akses logistik seperti jalan, jembatan, dan jalur vital, ketersediaan stok pangan yang melimpah di tingkat nasional menjadi tidak relevan bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Hal itu lah katanya sebagai inti dari ujian ketahanan pangan, ketersediaan pangan tanpa kelancaran distribusi sama dengan kelaparan struktural.
âFenomena ekonomi yang terjadi sangatlah cepat dan brutal. Putusnya akses logistik menciptakan "bottleneck" pasokan di wilayah terisolasi. Dalam teori pasar, kondisi ini memicu inflasi pangan sesaat (flash food inflation) yang ekstrem. Harga eceran komoditas pokok seperti beras, telur, atau sayuran bisa melonjak hingga dua kali lipat dalam hitungan jam, bukan karena stok nasional yang habis, tetapi karena biaya dan risiko untuk mengangkut barang ke lokasi tersebut meningkat tajam, atau bahkan mustahil dilakukan,âtegasnya.
Ironisnya, di sisi produksi, petani di daerah yang kini terisolasi mungkin justru mengalami kerugian besar (post-harvest loss) karena produk segar mereka membusuk tanpa ada akses pasar.
Di tengah gejolak tersebut, kebijakan stabilisasi biaya pakan jagung hingga Januari 2026, seperti yang diangkat oleh Ekonom Wijayanto Samirin, adalah langkah yang patut diapresiasi karena berfungsi sebagai bantalan biaya hulu (upstream cost cushion).
Stabilisasi harga pakan adalah kunci untuk menjaga profitabilitas peternak dan mencegah lonjakan harga protein hewani. Namun, efektivitas kebijakan jangka menengah ini akan lumpuh jika tidak didukung oleh mekanisme tanggap darurat yang kuat.
âKita tidak bisa hanya fokus pada stabilisasi biaya produksi, tetapi harus juga mengatasi biaya transaksi (transaction costs) yang melonjak akibat gangguan infrastruktur logistik,â katanya.
Guna mengatasi tantangan distribusi yang berulang itu, Pemerintah menurut Muliarta perlu bergeser dari respons ad hoc menjadi strategi jangka panjang yang lebih terstruktur. Investasi harus diarahkan pada pembangunan infrastruktur utama yang tahan bencana (disaster-resilient).
Setiap koridor logistik pangan utama wajib memiliki jalur alternatif (redundant route) yang dipetakan dan siap digunakan. âIni mengurangi kebergantungan tunggal pada satu titik kritis, seperti jembatan atau ruas jalan tunggal,âungkapnya.
Dalam kondisi kritis, negara harus memiliki protokol yang mengizinkan penggunaan aset non-komersial (TNI/Polri) seperti kapal, helikopter, atau pesawat kargo, untuk airdrop atau distribusi cepat. Ini harus menjadi bagian integral dari protokol supply chain pangan darurat untuk memecahkan blokade pasokan secara cepat.
Bulog dan lembaga pangan daerah harus mengadopsi model manajemen stok dinamis yang mengintegrasikan data cuaca dan risiko bencana. Dengan demikian, mereka dapat melakukan relokasi stok preventif ke gudang-gudang penyangga mini di perimeter wilayah rawan sebelum bencana terjadi, sehingga meminimalkan waktu tunggu pasokan saat krisis tiba.
âSingkatnya, percepatan distribusi hanyalah alat respons, tetapi penguatan rantai pasok yang resilien adalah solusi fundamental. Ujian ketahanan pangan di Sumatera adalah panggilan untuk membangun sistem logistik yang setangguh dan sefleksibel keragaman pangan yang kita miliki,âpungkas Muliarta.
Antisipasi Lonjakan Harga
Dalam kesempatan terpisah, pakar pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, Surabaya, Zainal Abidin, mengatakan, percepatan dan penguatan distribusi pangan memang akan berdampak signifikan dalam mengantisipasi lonjakan harga pangan di kawasan yang habis dilanda bencana.
âDistribusi pangan yang efektif memang dapat menekan lonjakan harga, karena dengan menjaga ketersediaan kebutuhan primer warga ini tetap dapat diperoleh di berbagai wilayah yang habis dilanda bencana, karena dapat mengurangi kelangkaan yang menjadi penyebab utama harga naik,â kata Zainal.
Hal itu katanya tidak mudah karena akses ke lokasi bencana seperti di Aceh dan Sumatera Barat ini banyak yang terputus. Harus ada koordinasi yang rapat dan intervensi pemerintah seperti ikut mengerahkan armada udara dan laut supaya titik-titik yang terisolasi dapat dijangkau.
âPemerintah juga perlu segera membuat rencana dan melaksanakan perbaikan infrastruktur jalan dan jembatan yang rusak karena tidak mungkin distribusi dilakukan terus menerus dengan helikopter,â katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengatakan, tantangan inflasi pangan karena kesulitan distribusi logistik menjadi kekhawatiran utama.
âPerlu ada Satgas khusus untuk memastikan inflasi pangan terkendali terutama jelang akhir tahun. Pemulihan infrastruktur logistik mendesak dilakukan terutama jembatan dan jalan harus direhabilitasi secepatnya,â pungkas Bhima.
- Distribusi Bantuan
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.