Profesor UB: Indonesia Di Bawah Rata-rata Dunia dalam Pengelolaan Hutan Berkelanjutan
Minggu, 07 Des 2025, 16:59 WIBMALANG - Bencana banjir besar yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera kembali menyoroti persoalan lingkungan dan lemahnya sistem mitigasi bencana di Indonesia. Guru Besar Universitas Brawijaya (UB), Sukir Maryanto, baru-baru ini menilai banyaknya batang kayu yang terbawa arus banjir menunjukkan indikasi kuat adanya penebangan hutan yang perlu segera dievaluasi.
âBanyak kayu-kayu yang terhanyut banjir. Itu indikasinya ada penebangan hutan di situ."
"Deforestasi masih menjadi persoalan krusial, terutama karena Indonesia berada âdi bawah rata-rata duniaâ dalam standar pengelolaan hutan berkelanjutan," tegas ujar Sukir di Malang.Â
Menurutnya, beberapa program pemerintah di masa lalu, seperti ekspansi lahan transmigrasi, perkebunan karet, dan sawit, tidak sedikit yang mengorbankan tutupan hutan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Sukir mengingat masa ketika ia menjadi transmigran di Sumatera, melihat langsung pohon-pohon besar ditebang untuk pembukaan lahan. Ia menyebut kondisi serupa terjadi di berbagai hutan di Sumatera dan Kalimantan.Â
âBanyak kasus pemanfaatan hutan tidak sesuai desain lingkungan, sehingga banjir kerap muncul,â katanya.
Selain faktor deforestasi, cuaca ekstrem juga disebut menjadi pemicu utama terjadinya banjir. Ia menjelaskan bahwa periode September hingga Februari merupakan fase cuaca ekstrem tahunan di Indonesia. âSaat ini kondisi cuaca ekstrem. Siklus ini terjadi tiap tahun,â katanya.
Meski demikian, ia menilai mitigasi bencana dapat dilakukan dengan lebih baik apabila sistem informasi cuaca di Indonesia bekerja secara optimal. Ia membandingkan kemampuan peringatan dini Indonesia dengan Jepang yang dinilai jauh lebih presisi dan terstruktur.
âDi Jepang, ramalan cuaca tersedia per jam dan per wilayah kecil seperti kecamatan. Informasinya ada di TV publik, transportasi umum, hingga situs pemerintah,â jelasnya. Menurutnya, sistem ini memungkinkan masyarakat mengantisipasi hujan, angin kencang, atau bencana lainnya lebih cepat dan akurat.
Ia mengatakan BMKG perlu meningkatkan fungsi informasi dan sosialisasi, termasuk memperkuat kolaborasi dengan BRIN, badan geologi, serta perguruan tinggi. Menurutnya, koordinasi antarlembaga masih lemah sehingga data dan peralatan pemantauan bencana belum terintegrasi dengan baik.
Dalam kesempatan yang sama, Sukir juga mengungkap temuan anomali sinyal MAGDAS (Magnetic Data Acquisition System) di Stasiun Cangar yang dikelola UB. Anomali tersebut muncul berdekatan dengan aktivitas erupsi Gunung Semeru. âAda sinyal besar di Cangar, sementara stasiun lain di Malaysia atau Australia tidak merekamnya,â ujarnya.
Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa akademisi tidak memiliki wewenang memberikan peringatan dini kepada masyarakat. Kewenangan tersebut berada pada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). âKami hanya melakukan analisis. Peringatan resmi adalah kewenangan PVMBG,â tegasnya.
Ia menambahkan bahwa setiap gunung api memiliki karakteristik berbeda, sehingga penelitian khusus diperlukan untuk menentukan pola aktivitas dan ambang batas masing-masing gunung. âGunung api punya napas berbeda-beda. Tidak bisa digeneralisasi,â katanya.
Sukir berharap pemerintah memperkuat pengawasan lingkungan, meningkatkan akurasi informasi cuaca, serta menstandardisasi peralatan pemantauan bencana di seluruh lembaga. Menurutnya, langkah-langkah tersebut penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat dan mengurangi risiko bencana di masa depan.Â
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Dedieselisasi Harus Diperluas dengan Setop Pembangkit Listrik Gas dan Batu Bara
-
Penyaluran MBG 3B di Kota Solo
-
Blokade Berakhir, Aliran Minyak Dunia Melalui Selat Hormuz Kembali Normal
-
Australia Impor 250.000 ton Pupuk dari Indonesia
-
Mendagri Apresiasi Kementerian PKP Pada Program Bedah 21 Ribu Rumah Tidak Layak Huni di Papua
-
Timnas U17 Indonesia Tekuk China 1-0 di Piala Asia U17 2026, Gol Telat Keanu Jadi Penentu
-
Menyaksikan Keindahan Kota Wamena dari Ketinggian Tugu Salib
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.