Buru Cekungan Baru! Badan Geologi Terbangkan Survei Udara Cari Potensi Migas di Sulawesi

Minggu, 07 Des 2025, 23:15 WIB

BANDUNG – Optimalisasi potensi migas menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga stabilitas energi nasional dan memperkuat fondasi fiskal negara.

Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan menurunnya produksi dari beberapa lapangan tua, pemanfaatan potensi migas secara lebih efisien dan terukur menjadi kunci untuk menekan ketergantungan impor.

Ket. Foto: Pesawat tipe fixed wing saat akan lepas landas untuk melakukan survei udara pada eksplorasi sumber daya minyak dan gas di Bandar Udara Tampa Padang, Sulawesi Barat, Minggu (7/12/2025). — Sumber: ANTARA/Rubby Jovan

Optimalisasi ini mencakup percepatan eksplorasi, pemanfaatan teknologi ekstraksi yang lebih maju, hingga skema investasi yang memberikan kepastian bagi pelaku industri.

Selain itu, tata kelola yang transparan, regulasi yang adaptif, dan kepastian perizinan akan memperkuat minat investor serta mempercepat pengembangan proyek-proyek strategis.

Dengan demikian, potensi migas tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi, tetapi juga sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dan penopang penerimaan negara dalam jangka panjang.

Badan Geologi Kementerian ESDM memulai survei udara untuk akuisisi data di Cekungan Lariang (Sulawesi Barat) dan Enrekang (Sulawesi Selatan) guna mengidentifikasi potensi cekungan sedimen dan membuka peluang eksplorasi sumber daya minyak dan gas (migas) baru.

Kepala Pusat Survei Geologi, Badan Geologi KESDM, Edy Slameto mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan agar akuisisi data Full Tensor Airborne Gravity Gradiometry (FT/AGG) dapat menghasilkan informasi bawah permukaan dengan resolusi lebih baik serta meningkatkan minat investor terhadap dua cekungan tersebut.

“Dua cekungan ini masuk kategori prospective basin. Kami berharap data yang dihasilkan memiliki resolusi lebih baik dan meningkatkan daya tarik investasi di kedua cekungan tersebut,” kata Edy dalam keterangan yang diterima di Bandung, Jawa Barat, Minggu (7/12).

Edy menyebut total lintasan survei udara ini mencapai sekitar 33.000 kilometer dengan menggunakan dua moda pesawat yaitu fixed wing dan helikopter.

Ia mengatakan untuk wilayah yang relatif datar digunakan pesawat tipe fixed wing, sedangkan untuk wilayah dengan topografi berbukit digunakan helikopter.

“Dengan dua moda ini, kami optimistis penyelesaian lintasan 33.000 kilometer dapat tuntas dalam 32–35 hari, dengan catatan cuaca mendukung dan tidak terjadi insiden,” katanya.

Edy menjelaskan bahwa pemilihan Lariang dan Enrekang juga mempertimbangkan keberadaan cekungan penghasil migas di wilayah sekitarnya.

Di sebelah selatan kedua cekungan tersebut terdapat Cekungan Sengkang yang telah memproduksi gas dan menjadi salah satu pemasok energi listrik di Sulawesi Selatan.

“Diharapkan Lariang dan Enrekang juga dapat menghasilkan temuan minyak atau gas baru untuk kebutuhan energi di kawasan Sulawesi dan Indonesia,” ujarnya.

Melalui survei ini, kata dia, pemerintah ingin memperoleh data bawah permukaan yang lebih akurat dan beresolusi tinggi agar dapat meningkatkan ketertarikan investor terhadap wilayah kerja migas di kawasan tersebut.

“Sebagaimana program Presiden Prabowo mengenai ketahanan energi, eksplorasi masif pada cekungan-cekungan sedimen sangat penting,” katanya.

Menurut dia, dengan semakin banyak data yang disediakan pemerintah, minat investor diharapkan meningkat sehingga peluang penemuan lapangan migas baru semakin besar.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.