Bikin Aman Lansia di Pengungsian: Yuk Cegah RSV Bareng-Bareng! Berikut Ini Tipsnya
Rabu, 03 Des 2025, 15:15 WIBJAKARTA â Di tengah situasi bencana, para lansia yang harus tinggal di pengungsian memang menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Tinggal di tempat yang serba terbatas dan ramai membuat mereka lebih rentan tertular virus atau penyakit. Kondisi tubuh yang sudah menurun membuat risiko itu jadi lebih besar.
Salah satu yang perlu diwaspadai adalah infeksi Respiratory Syncytial Virus (RSV). Virus ini bisa mudah menyerang, apalagi pada lansia yang punya penyakit bawaan seperti PPOK, asma, masalah jantung, diabetes, atau gangguan ginjal.
Karena itu, perhatian ekstra untuk menjaga kesehatan para lansia di pengungsian sangat pentingâmulai dari menjaga kebersihan, memastikan ventilasi baik, sampai menjaga jarak bila ada yang sedang sakit. Sedikit perhatian bisa membuat mereka jauh lebih aman dan nyaman.
Dalam acara temu media di Jakarta, Rabu (3/12), dokter spesialis penyakit dalam Robert Sinto menyampaikan bahwa infeksi RSV dapat memperburuk kondisi lansia dengan komorbiditas.
"Lansia sehat sekalipun, kalau terkena RSV, terlepas dari dia punya komorbid atau tidak, itu sudah membuat risiko bisa menjadi lebih tinggi untuk masuk ke infeksi berat," kata dr. Robert Sinto, Sp.PD, K-PTI, DPhil, FINASIM, FHEA.
Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya menjalankan langkah-langkah untuk mencegah penularan RSV pada lansia, termasuk lansia terdampak bencana yang harus tinggal di pengungsian.
Dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Pelni itu mengatakan, penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sudah terbukti dapat menekan risiko penularan virus, termasuk virus COVID-19 dan RSV.
Dalam hal ini, lansia sebaiknya dianjurkan untuk menjaga jarak dengan orang yang mengalami gejala infeksi RSV seperti hidung berair, sakit tenggorokan, sakit kepala, kelelahan, dan demam.
Orang-orang yang merasa daya tahan tubuhnya melemah sebaiknya disarankan agar tidak mendekati lansia.
"Jaga jarak. Dalam keadaan skala pengungsian, semuanya berkumpul begitu kan, itu peran baru dari pemerintah untuk membantu supaya PHBS itu bisa dikerjakan di tingkat individu," kata dokter Robert.
Dokter Robert mengemukakan perlunya penyediaan dukungan agar para lansia bisa tinggal di tempat yang bersih, mendapat makanan yang bergizi, menjaga kebersihan diri, dan berolahraga bila memungkinkan.
Pemerintah bisa menugaskan pendamping untuk memastikan pemenuhan kebutuhan para lansia yang terdampak bencana.
Dokter Robert mengatakan bahwa vaksinasi juga dapat dilakukan pada lansia yang tinggal di pengungsian untuk menghindarkan mereka dari infeksi RSV.
Menurut dia, vaksin RSV dapat diberikan kepada orang berusia 60 tahun ke atas. Pasien berusia 18 sampai 60 tahun dengan komorbiditas juga bisa diberi vaksin RSV berdasarkan rekomendasi dari dokter.
Selain itu, dr. Robert mengemukakan bahwa pemerintah dapat memperbaiki sistem pendataan untuk mendeteksi dini penularan RSV di daerah bencana.
Menurut dia, dokter atau tim medis dapat didatangkan ke lokasi bencana untuk melakukan pemeriksaan lanjutan kalau ada lansia yang sakit dan kondisinya tidak membaik setelah tiga hari.
Karena gejala infeksi RSV agak mirip dengan gejala flu biasa, ia mengatakan, dokter perlu melakukan pemeriksaan untuk memastikan jenis virus yang menyebabkan lansia sakit.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Kodim 0501/Jakarta Pusat Gelar Kegiatan Cinta Anak Yatim Piatu
-
Maresca Akui Liverpool Mustahil Dikejar Klub Lain Musim Ini
-
Pengungsi Desa Sahraja belum mendapatkan akses huntara
-
Pelajar Yogyakarta Tampil di Festival Budaya Internasional Korea Selatan
-
Untuk Memburu Kapal Induk AS, Beijing Kerahkan Pesawat Pengebom H-6K dengan Rudal Jelajah Anti-Kapal Mach 3+ di Selat Taiwan
-
Warga Padarincang masih mengungsi pascabencana longsor
-
KPK Koordinasi dengan Dirjen Pajak Pasca Penetapan Tersangka
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.