Jalan Aceh Terputus! Alat Berat Kementerian PU Turun Tangan Lakukan Penyelamatan Akses
Jumat, 28 Nov 2025, 20:45 WIBPIDIE JAYA â Rehabilitasi jalan yang terputus akibat bencana di Aceh menjadi urgensi utama untuk memulihkan konektivitas wilayah dan memastikan distribusi bantuan berjalan efektif.
Kerusakan akses transportasi tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga mengganggu alur logistik, layanan kesehatan, serta aktivitas ekonomi lokal.
Pemulihan cepat dengan standar konstruksi tahan bencana diperlukan untuk mengurangi risiko kerusakan berulang di masa mendatang.
Upaya ini juga memerlukan koordinasi lintas lembaga agar proses rehabilitasi berjalan terukur, efisien, dan memberikan dampak nyata bagi percepatan pemulihan sosial-ekonomi di Aceh.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh mengerahkan belasan alat berat untuk menyambung Jalan Lintas Sumatera rute Banda Aceh-Medan yang terputus akibat bencana hidrometeorologi di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
"Targetnya kita membersihkan sedimen lumpur selesai dalam dua hari dan menyambung jalan yang terputus ke Jembatan Mereudue," kata Pejabat Pembuat Komitmen 1.2 BPJN Aceh Rita Marleni di Pidie Jaya, Jumat (28/11).
Ia menjelaskan alat berat mulai bekerja sejak Jumat pagi setelah banjir mulai surut di daerah Mereudue. Alat berat yang dikerahkan antara lain 12 dump truk, dua eskavator, dua grader dan loader.
Hingga Jumat sore, menurut dia, alat berat belum bisa menjangkau titik longsor utama di Jembatan Mereudue karena lumpur yang tebal menutupi badan jalan nasional itu.
"Banjir sudah surut, tapi sedimen lumpur sangat tebal yang mencapai 50 sentimeter hingga satu meter," kata Rita.
Ia mengatakan tantangan yang dihadapi petugas dalam bekerja adalah akses untuk BBM alat berat dan tidak ada jaringan telekomunikasi. Hingga kini jaringan listrik dan komunikasi masih terputus.
Tim BPJN Aceh merencanakan akan menimbun jalan yang terputus ke Jembatan Mereudue. Namun, itu baru bisa dilakukan setelah material lumpur di badan jalan sudah bersih dan ketika arus sungai tidak lagi deras.
"Bagian jalan yang terputus ke jembatan panjangnya 50 meter dan lebar 11 meter. Kita akan melakukan penimbunan saja dan memperkuat kedua sisinya karena konstruksi jembatan masih berdiri," katanya.
Aceh kini berstatus tanggap darurat bencana hidrometeorologi. Proses penyaluran bantuan dan evakuasi masih terhambat karena banyak jalan dan jembatan yang terputus, salah satu titik yang terparah di Kecamatan Mereudue, Kabupaten Pidie Jaya.
Alat berat Kementerian PU akan bekerja siang dan malam agar proses penyambungan jalan cepat selesai.
- Pemulihan Pascabencana
- banjir aceh
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pembukaan Akses Jalan di Bener Meriah Mencapai 60-70 Persen
-
Pengerahan Alat Berat untuk Membersihkan Lingkungan di Aceh Tamiang
-
Destinasi Wisata di Aceh Tamiang Belum Pulih Pascabencana
-
Care for Sumut: Charity Run, Penggalangan Dana untuk Pemulihan Pascabencana Sumatera Utara
-
BNPP RI Kebut Penanganan Pascabanjir di Aceh Jelang Lebaran
-
Mempermudah Akses Warga dengan Membangun Dua Jembatan Bailey di Agam
-
Diduga Dibunuh, Polres Jombang Usut Kematian Ibu dan Anak
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.