- Home
-
- Luar Negeri
-
- EBRD: Populasi Menua adala...
EBRD: Populasi Menua adalah “Bom Waktu” bagi Pertumbuhan PDB
Rabu, 26 Nov 2025, 01:00 WIBLONDON - Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan atau European Bank for Reconstruction and Development (EBRD) dalam laporan setengah tahunan pada Selasa (25/11), mengatakan bahwa negara-negara harus bertindak sekarang untuk mencegah perlambatan pertumbuhan penduduk yang dapat merusak prospek ekonomi jangka panjang mereka.Â
Dikutip dari The Straits Times, laporan itu menyebutkan bahwa populasi yang menua telah mulai menghambat pertumbuhan ekonomi di beberapa negara dan bahwa di Eropa kawasan berkembang, penurunan proporsi penduduk usia kerja diproyeksikan mengurangi pertumbuhan PDB per kapita tahunan rata-rata hampir 0,4 poin persentase per tahun antara 2024 dan 2050.
âBahkan saat ini, faktor demografi sudah mengikis pertumbuhan taraf hidup, dan ke depan akan menjadi hambatan bagi pertumbuhan PDB,â kata Kepala Ekonom EBRD, Beata Javorcik.
Negara-negara pascakomunis, katanya, âmenjadi tua sebelum menjadi kaya,â dengan usia median mencapai 37 tahun sementara rata-rata PDB per kapita berada di kisaran 10.000 dollar AS.
Angka tersebut hanya seperempat dari jumlah yang tercatat ketika usia median mencapai tingkat itu di negara-negara maju pada 1990-an.
Laporan tersebut menyoroti berbagai faktor yang mendorong penurunan angka kelahiran. Mulai dari perubahan norma sosial hingga penurunan pendapatan karier perempuan akibat memiliki anak.
Namun meskipun hampir semua negara EBRD telah menerapkan berbagai insentif untuk meningkatkan angka kelahiran, Javorcik mengatakan langkah-langkah itu belum menghasilkan perubahan yang berarti dan berkelanjutan di negara mana pun.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa migrasi dalam skala yang dibutuhkan untuk menyeimbangkan penurunan angka kelahiran tidak dapat diterima secara politis di banyak negara, dan sebagian besar warga pun âambivalenâ terhadap peningkatan penggunaan AI untuk mendorong produktivitas.
Tuver terbesar, kata Javorcik, adalah memperpanjang usia kerja masyarakat yang juga akan membutuhkan sebagian pelatihan ulang dan, kemungkinan, perubahan pada skema pensiun.
Tidak ada satu pun kebijakan yang dapat mengimbangi penurunan angka kelahiran yang benar-benar populer secara politik.
Usia Pemimpin
Namun, laporan tersebut menemukan bahwa populasi yang menua, termasuk para pemimpin membuat situasinya semakin sulit, karena mereka cenderung mempertahankan anggaran pensiun dan membatasi migrasi.
Di negara rata-rata secara global, usia pemimpin kini mencapai 60 tahun 19 tahun lebih tua dari usia median orang dewasa. Kesenjangan ini melebar di negara-negara otokratis menjadi 26 tahun pada 2023, naik dari 19 tahun pada 1960.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Aksi Kader Jumantik Garda Terdepan Pencegahan Wabah DBD
-
Pemerintah Kabupaten Subang Usulkan Pemekaran Desa untuk Efisiensi Pelayanan
-
Masjid di Sleman Borong 11 Ton Singkong, Bantu Petani Gunungkidul Terselamatkan dari Harga Anjlok Cuma Rp500/Kg
-
Latihan Timnas Indonesia jelang final ASEAN U-23 Championship
-
Pasar Tak Bergairah, IHSG Terkoreksi Meski Tipis Sepekan Ini
-
Dari Deteksi hingga Prediksi: AI Mengubah Cara Indonesia Hadapi Serangan Siber
-
Mahfud MD Nilai Polri Berkinerja Baik, Jamin Rasa Aman dan Nyaman di Masyarakat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.