- Home
-
- Luar Negeri
-
- Indonesia Harap COP30 Capa...
Indonesia Harap COP30 Capai Keputusan Besar untuk Tangani Perubahan Iklim
Sabtu, 22 Nov 2025, 09:08 WIBBELEM - Pemerintah Indonesia berharap Konferensi Perubahan Iklim ke-30 Perserikatan Bangsa-bangsa (COP30) menghasilkan kesepakatan besar dalam upaya menangani perubahan iklim.
"Karena memang kita punya semangat bersama bahwa COP 30 itu harus menghasilkan sesuatu atau suatu keputusan yang akan memberikan landasan bagi pelaksanaan, baik itu dari COP secara umum, Paris Agreement melalui CMA-nya, maupun kemudian pelaksanaan dari kesepakatan Kyoto Protocol," kata Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Ary Sudijanto di sela-sela COP30 di Belém, Brasil, pada Jumat (21/11) waktu setempat.
Ia mengatakan pada hari terakhir penyelenggaraan COP30 ini negosiasi masih terus dilakukan demi mencapai keputusan bersama.
Hal ini dampak dari hari sebelumnya dimana negosiasi dihentikan sejak siang pasca-terjadinya insiden kebakaran di zona biru COP30.
"Sejak kejadian kemarin sore, kegiatan sidang-sidang negosiasi dihentikan sampai tadi pagi, dimana mulai jam 8 kita bisa masuk, dan jam 10 pagi tadi kita sudah mulai lagi pelaksanaan sidang-sidang negosiasi untuk berbagai agenda, termasuk untuk negosiasi yang akan menjadi andalan dari Presidensi Brasil yaitu Belém Political Package," kata Ary Sudijanto.
Negosiasi masih dilakukan terkait dengan catatan-catatan yang masih belum menemukan kata sepakat. Presidensi Brasil pun melakukan pertemuan-pertemuan bilateral demi mengupayakan tercapainya keputusan akhir.
"Presidensi Brasil melakukan pertemuan bilateral dengan pihak-pihak yang memang masih belum sepakat terhadap beberapa teks yang diusulkan menjadi keputusan. Sebagai contoh, misalnya kemarin Indonesia melakukan pertemuan bilateral dengan tim presidensi terkait dengan satu isu, yaitu gender," katanya.
Pada dalam COP30 diusulkan untuk memasukkan definisi gender progresif, yang artinya bukan hanya laki-laki dan perempuan.
"Untuk keputusan yang dilakukan terkait dengan gender itu memasukkan definisi gender progresif. Jadi gender progresif itu tidak hanya laki-laki dan perempuan, lebih luas daripada itu. Nah, itu kan termasuk red line bagi Indonesia, sehingga Indonesia dengan beberapa negara lain yang itu tidak bisa diterima atau setidaknya ada catatan, bahwa itu dimaksudkan berdasarkan kondisi negara masing-masing. Itu kita perjuangkan," katanya.
- Perubahan Iklim
- Indonesia
- COP30 Brasil
Redaktur: Sriyono
Penulis: Sriyono
Berita Terkait:
-
Tiket Kereta Final Piala Dunia Tembus 2,4 Juta Rupiah, Fans Sebut “Tidak Masuk Akal”
-
Old Trafford Tamat? Bos Proyek MU Buka Suara Soal Kapan Stadion Baru Resmi Dibuka
-
Banjir Bandang Aceh Tengah Hantam Lagi, 2 Jembatan Ambruk dan Desa Terisolasi
-
Presiden Prabowo Terbang ke Rusia, Agendakan Pertemuan Khusus dengan Vladimir Putin
-
BI Percaya Diri, Inflasi 2026–2027 Tetap Jinak di Kisaran Target
-
Badan Pegal-pegal dan Otot Tak Seimbang? Ini 4 Kebiasaan yang Harus Anda Perbaiki
-
Asik, Kini Ratusan Pramuwisata Kalbar Terima Tip via QRIS GoPay Merchant
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.