• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Ekspedisi Balasan yang Ber...

Ekspedisi Balasan yang Berakhir Tragis

Kamis, 20 Nov 2025, 07:22 WIB

DALAM Perang Raja George (1744-1748) sebuah konflik kolonial besar ketiga yang terjadi di Amerika Utara antara Britania Raya dan Prancis, Prancis tidak akan menerima jatuhnya Louisbourg begitu saja. Pada awal 1746, mereka mulai mempersiapkan ekspedisi militer mereka sendiri untuk merebut kembali benteng tersebut.

Perebutan kembali benteng Louisbourg yang megah di Pulau Cape Breton, melibatkan 11.000 orang dan 64 kapal di bawah komando Adipati d’Anville. Pasukan besar ini berlayar dari Prancis pada Juni 1746, tetapi segera menemui bencana.

Ket. Foto: Digambarkan di sini adalah pemandangan dari Pengepungan Louisbourg tahun 1745, pertempuran besar dalam Perang Raja George (1744-1748). — Sumber: Foto: Museum Angkatan Darat Nasional, London

Pertama, mereka terjebak badai di Teluk Biscay, merusak kapal-kapal dan memperlambat laju. Kemudian, penyakit mematikan seperti tifus dan kudis mewabah, menewaskan atau melumpuhkan ratusan pelaut dan prajurit.

Tepat ketika ekspedisi tampaknya tak akan lebih sial lagi, salah satu kapal tersambar petir, menyebabkan sebuah magasin meledak dan menewaskan atau melukai 30 orang. Pada akhir September, ekspedisi akhirnya mencapai Nova Scotia setelah hampir tiga bulan di laut. Namun, tak lama setelah mereka tiba, d’Anville terserang stroke dan meninggal dunia.

Pria yang menggantikannya sebagai komandan ekspedisi mengalami gangguan saraf dan mengundurkan diri setelah upaya bunuh diri yang gagal. Meskipun kurangnya kepemimpinan ini, tentara Prancis tetap bergerak maju untuk menyerang Annapolis Royal. Namun mereka tak pernah berhasil.

Penyakit terus menggerogoti pasukan mereka dan segera memaksa mereka untuk berbalik arah. Maka, pada akhir Oktober, ekspedisi itu dibatalkan sebuah kegagalan yang pahit dan membawa bencana.

Sementara itu, Prancis Baru dan sekutu Pribuminya terus menyerbu permukiman Inggris. Pada 28 November 1745, 600 tentara Prancis dan prajurit Pribumi menyerbu kota Saratoga, New York, membakarnya, dan membunuh atau menangkap lebih dari 100 penduduknya.

Serangan itu berhasil dan menimbulkan gelombang kepanikan di seluruh permukiman perbatasan New York dan New England. Para kolonis Inggris meninggalkan setiap kota di utara Albany, New York, untuk menghindari serangan di masa mendatang.

Pada Juni 1746, Sir William Johnson, seorang penghubung kelahiran Irlandia antara New York dan Konfederasi Iroquois, mendekati Iroquois untuk meyakinkan mereka agar bergabung dalam perang melawan Prancis.

Perang tersebut memang telah memakan korban di koloni-koloni menurut beberapa perkiraan, Massachusetts telah kehilangan 8% populasi pria usia perangnya tetapi perasaan bahwa semua itu sia-sia menyebabkan kebencian membara di antara para kolonis Inggris dan Prancis. hay

  • Perang Raja George

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.