Industri Kreatif Didongkrak Holding UMKM: Terobosan Baru atau Tambahan Birokrasi?

Rabu, 19 Nov 2025, 21:50 WIB

YOGYAKARTA – Memperkuat ekosistem rantai pasok industri kreatif menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan sektor ini.

Tanpa infrastruktur pendukung yang solid—mulai dari ketersediaan bahan baku, akses teknologi, layanan produksi, hingga distribusi—pelaku industri kreatif akan kesulitan meningkatkan kapasitas dan memperluas pasar.

Ket. Foto: Ilustrasi - Salah seorang pekerja di sektor industri kreatif klaster fesyen dan kerajinan tangan di Klaten, Jawa Tengah, diambil pada Rabu (19/11/2025). — Sumber: ANTARA/HO-Kementerian UMKM

Hilirisasi digital, integrasi platform pemasaran, serta kolaborasi dengan sektor logistik dan pembiayaan menjadi faktor strategis untuk menciptakan rantai pasok yang efisien.

Dengan ekosistem yang lebih matang, industri kreatif dapat bergerak lebih cepat, responsif terhadap tren global, dan mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi bagi ekonomi nasional.

Pemerintah melalui Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat ekosistem rantai pasok industri kreatif nasional dengan meluncurkan program Holding UMKM klaster fesyen dan kerajinan tangan.

“Holding UMKM membangun ekosistem kemitraan UMKM berbasis klaster produk unggulan daerah, yang menjadi penghubung antara usaha mikro dan kecil dengan usaha menengah serta industri besar,” ujar Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rachman dalam keterangannya yang diterima di Yogyakarta, Rabu (19/11).

Melalui Holding UMKM, pengusaha menengah diharapkan menjadi poros yang menghubungkan pelaku mikro dan kecil dalam klaster yang sama, sehingga mereka memperoleh akses pembiayaan, pendampingan, dan pemasaran yang lebih kuat untuk mendorong pertumbuhan usaha.

Bagus mengatakan usaha menengah dapat membantu menyelesaikan berbagai kendala yang kerap dihadapi usaha mikro dan kecil, seperti kesulitan produksi, terbatasnya akses pembiayaan, belum optimalnya standardisasi mutu, serta lemahnya rantai pasok.

“Holding UMKM adalah langkah strategis dalam transformasi struktural berbasis klaster agar ekosistem UMKM semakin terintegrasi, sistematis, dan berkelanjutan,” ujar Bagus.

Peluncuran Holding UMKM klaster fesyen dan kerajinan tangan, lanjut dia, dilakukan karena kedua sektor ini merupakan kekuatan utama industri kreatif Indonesia.

Sektor fesyen berkontribusi sebesar Rp249,67 triliun terhadap PDB dan mencatat nilai ekspor Rp238,37 triliun pada 2024.

Sementara itu, industri kerajinan tangan yang terdiri dari lebih dari 700 ribu unit usaha menghasilkan ekspor sekitar Rp11,03 triliun. Permintaan yang terus meningkat menjadi alasan perlunya penguatan ekosistem agar produk lokal mampu bersaing di pasar global.

PT Lurik Prasojo dan CV Agil Craft Indonesia ditunjuk sebagai operator Holding UMKM sektor fesyen dan kerajinan tangan. Menurut dia, kedua perusahaan dinilai memiliki kemampuan mengagregasi pelaku mikro dan kecil, menjalankan fungsi inkubasi, menjaga kesinambungan pemasaran, serta memfasilitasi akses pembiayaan dalam ekosistem kreatif.

PT Lurik Prasojo berkomitmen melestarikan wastra nusantara, khususnya lurik, sebagai kekayaan budaya bangsa, sekaligus memberdayakan masyarakat dengan melibatkan lebih dari 250 perajin perempuan dan 66 tenaga kerja tetap.

Sementara itu, CV Agil Craft Indonesia membangun ekosistem kerajinan tangan bersama 150 perajin. Sebanyak 95 persen produknya telah diekspor ke Jepang, Argentina, Belanda, Jerman, Portugal, Prancis, Norwegia, Maroko, dan Afrika Selatan, sementara lima persen lainnya dipasarkan di dalam negeri.

  • industri kreatif

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.