Waspada! Libur Akhir Tahun Jadi ‘Lahan Empuk’ Para Penjahat Siber
Selasa, 18 Nov 2025, 17:50 WIBJAKARTA â Menjelang liburan akhir tahun, kewaspadaan terhadap kejahatan siber menjadi semakin penting karena aktivitas digital masyarakat cenderung meningkat, mulai dari belanja daring hingga transaksi perbankan.
Lonjakan trafik ini kerap dimanfaatkan pelaku cybercrime untuk melancarkan phishing, penipuan online, pembajakan akun, hingga serangan malware.
Tanpa penguatan literasi digital dan perlindungan keamanan siber, kerentanan individu maupun lembaga dapat meningkat signifikan.
Oleh karena itu, mitigasi risiko melalui penggunaan autentikasi berlapis, kewaspadaan terhadap tautan mencurigakan, serta pembaruan sistem keamanan menjadi langkah krusial untuk menjaga keamanan data dan transaksi di tengah tingginya potensi ancaman siber pada periode liburan.
Kepala Departemen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Farida Peranginangin meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap maraknya kejahatan siber (cybercrime) jelang liburan akhir tahun, terutama di sektor pembayaran digital.
Ia mengatakan, periode liburan kini menjadi salah satu pilihan waktu utama bagi para pelaku kejahatan untuk beraksi, mengingat volume transaksi yang cenderung meningkat sepanjang periode tersebut.
âSaya bahkan sering bilang sama teman-teman saya di Bank Indonesia, âEvery time we have holiday, itâs a harvesting time for the fraudster (setiap kali kita libur, itu adalah waktu panen bagi penipu)â," kata Farida Peranginangin di Jakarta, Selasa (18/11).
Ia menyatakan, fenomena tersebut membuat masyarakat tidak lagi dapat menikmati masa libur mereka dengan tenang karena penipu justru meningkatkan aktivitas mereka pada waktu tersebut. Imbauan tersebut beralasan, mengingat lanskap keuangan Indonesia telah bertransformasi secara signifikan.
Ia menilai, percepatan digitalisasi yang masif, mulai dari QRIS, BI-FAST, mobile banking, hingga pinjaman daring (fintech lending), telah mengubah cara masyarakat bertransaksi.
Namun, Farida mengakui, seiring meningkatnya interkoneksi antara pelaku dalam ekosistem pembayaran, risiko paparan terhadap ancaman siber juga semakin besar.
"Serangan siber, kebocoran data, dan aktivitas penipuan ini meningkat, baik di sisi transaksi maupun kompleksitas," ujarnya.
Ia menuturkan bahwa sektor keuangan secara global merupakan target utama serangan siber. Satu insiden saja, lanjut dia, dapat menggerus kepercayaan masyarakat, mengganggu aktivitas ekonomi, bahkan memicu risiko sistemik jika tidak dikelola dengan baik.
Dengan begitu, ia mengatakan bahwa keamanan data nasabah dan sistem pembayaran tidak lagi bisa dipandang sebagai pertahanan tambahan, melainkan harus menjadi fondasi utama bagi para pelaku jasa keuangan dalam berinovasi.
Meskipun BI dan regulator lainnya, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) telah mengeluarkan berbagai kerangka kebijakan, Farida mengakui industri jasa keuangan masih menghadapi sejumlah tantangan terkait keamanan siber.
Salah satunya adalah masih adanya fragmentasi standar keamanan antara lembaga keuangan serta keterbatasan talenta keamanan siber.
"Kebutuhan terhadap profesional di bidang keamanan siber tumbuh jauh lebih cepat daripada ketersediaan talenta yang siap pakai," ungkapnya.
Selain itu, ancaman siber kini bersifat lintas negara atau global, sehingga para pelaku jasa keuangan perlu menjaga keseimbangan antara kecepatan inovasi dan perlindungan keamanan data.
Farida menyampaikan, untuk mengatasi tantangan tersebut, tidak ada satu lembaga pun yang bisa berjalan sendiri.
Ia pun mendorong semua pihak untuk melakukan investasi terhadap Sumber Daya Manusia (SDM) dan budaya keamanan, menerapkan prinsip âsecurity by designâ dalam setiap inovasi, serta memperkuat kolaborasi.
"Keamanan adalah fondasi kepercayaan. Tanpa keamanan, seluruh kemajuan digital akan kehilangan maknanya. Kita tidak perlu memilih dan tidak sepatutnya memilih antara kemajuan atau keamanan. Inovasi dan keamanan harus selalu berjalan beriringan," ucapnya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Serangan Siber Makin Meningkat: Indonesia Rawan Sekali atas Ancaman Kejahatan Digital
-
Liga Spanyol, Tumben Real Madrid Menang
-
Gelar IFI 2026, Kemenperin Kembangkan Inovasi Produk Antara Pangan Lokal
-
MediaTek Gandeng Starlink Hadirkan Layanan Satelit Darurat pada Perangkat Seluler
-
Harga Minyak Pekan Depan Diperkirakan Tembus USD112 per Barel
-
Menaker: Pelatihan Vokasi Kunci Lulusan Cepat Terserap Dunia Kerja
-
Kebiasaan Digital Sepele yang Bisa Membuka Celah Kejahatan Siber
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.