Kurangi Ketergantungan Impor, Kemenperin Perkuat Industri Petrokimia Nasional
Jumat, 14 Nov 2025, 23:38 WIBJAKARTA-Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa penguatan sektor petrokimia nasional menjadi langkah strategis dalam menjaga stabilitas pasokan bahan baku bagi berbagai industri hilir. Sebab, industri petrokimia memiliki peran fundamental sebagai pemasok utama bahan baku untuk plastik, serat sintetis, karet sintetis, bahan kimia fungsional, hingga berbagai bahan kebutuhan industri tekstil dan farmasi.
âKebutuhan industri petrokimia nasional terus meningkat pesat, namun kapasitas produksi dalam negeri belum mampu mengimbanginya. Ini menyebabkan ketergantungan yang sangat besar terhadap impor. Karena itu, penguatan struktur industri hulu menjadi urgensi nasional,â ujar Direktur Industri Kimia Hulu, Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Wiwik Pudjiastuti pada Gatehring Forum Wartawan Industri (Forwin) di Sentul, Bogor, Jumat (14/11).
Wiwik menyampaikan bahwa sektor IKFT secara keseluruhan masih menunjukkan daya tahan yang kuat. Pada Triwulan III-2025, sektor IKFT mencatat pertumbuhan 5,92%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan, subsektor Industri Kimia, Farmasi, dan Obat Tradisional melonjak 11,65%, menunjukkan permintaan bahan baku kimia yang terus menguat.
Dari sisi kontribusi ekonomi, IKFT tetap stabil dengan menyumbang 3,88% terhadap PDB nasional. Kinerja perdagangan juga berimbang, di mana ekspor IKFT pada JanuariâAgustus 2025 mencapai USD 32,25 miliar, hampir menyamai nilai impor sebesar USD 32,31 miliar. Investasi ke sektor IKFT juga terus masuk, mencapai Rp 142,15 triliun, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
âTren positif ini menunjukkan bahwa industri kimiaâtermasuk petrokimiaâtetap menjadi fondasi penting bagi kinerja manufaktur nasional,â jelas Wiwik.
Wiwik menekankan bahwa Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar berupa ketimpangan besar antara pasokan dan kebutuhan petrokimia domestik. Dalam berbagai komoditas kunci, utilisasi pabrik yang ada belum mampu menutup lonjakan permintaan.
Pada produk olefin, seperti etilen dan propilen, tingkat utilisasi memang cukup tinggiâmencapai 75%ânamun pasokan tetap tidak mencukupi. Kekurangan etilen bahkan dapat mencapai 800 ribu ton, sehingga impor tetap harus dilakukan. Begitu pula pada produk aromatik seperti p-xylene, yang tingkat utilisasinya hanya 44%. Kesenjangan pasokan p-xylene mencapai 500 ribu ton, padahal bahan baku tersebut sangat penting untuk produksi Purified Terephthalic Acid (PTA) yang digunakan pada poliester dan PET.
Untuk bahan kimia fungsional berbasis minyak, kekurangan terbesar terjadi pada Mono Ethylene Glycol (MEG) dengan gap mencapai 400 ribu ton. MEG bersama p-xylene merupakan dua komponen vital bagi keberlanjutan industri tekstil hilir berbasis polyester.
Sementara itu, sektor bahan baku plastik menghadapi salah satu kesenjangan pasokan terbesar. Dari kebutuhan nasional sebesar 4.879 KTA, pasokan domestik baru mampu menyediakan 2.957 KTA, sehingga terdapat gap mencapai 1.922 KTA. Tingginya permintaan terhadap polimer seperti Polyethylene (PE) dan Polypropylene (PP) mendorong kebutuhan impor yang nilainya mencapai USD 2,9 miliar pada 2024.
âSelama gap supply-demand masih selebar ini, kita tidak punya pilihan selain mengimpor. Namun ke depan, kondisi ini harus ditekan melalui pembangunan kapasitas baru dan integrasi industri dari hulu ke hilir,â tegasnya.
Tantangan Strategis
Wiwik memaparkan sejumlah tantangan strategis yang membatasi berkembangnya industri petrokimia nasional. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar bahan baku seperti nafta dan LPG masih harus diimpor, sementara integrasi antara kilang minyak dan pabrik petrokimia belum optimal sehingga proses produksi kurang efisien.
Di sisi lain, industri yang membutuhkan gas bumi juga terdampak pembatasan dalam kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dan alokasi Gas Industri Tertentu (AGIT). Keterbatasan infrastruktur serta belum terbentuknya chemical cluster terintegrasi juga memperlemah daya saing.
Selain itu, pembukaan pasar melalui perjanjian perdagangan bebas seperti UAE-CEPA membuat Indonesia harus bersaing langsung dengan produk petrokimia berbiaya rendah dari negara yang memiliki akses bahan baku murah dan kapasitas produksi besar.
âDi tengah persaingan global yang sangat ketat, industri petrokimia kita hanya bisa bertahan bila memiliki pasokan bahan baku yang kuat, terintegrasi, dan biaya produksi yang efisien,â ujarnya.
Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, Kemenperin telah menyiapkan serangkaian kebijakan yang bersifat struktural dan jangka panjang. Kebijakan tersebut mencakup penyediaan kemudahan akses bahan baku, penyempurnaan pengaturan ekspor-impor, hingga usulan pembebasan bea masuk bahan baku petrokimia. Perlindungan industri juga dilakukan melalui pengenaan tindakan antidumping serta Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) pada produk impor tertentu.
Kemenperin juga mendorong peningkatan daya saing melalui penerapan HGBT, akselerasi transformasi Industri 4.0, dan penguatan standar industri hijau. Pengintegrasian industri hulu ke hilir menjadi prioritas utama, termasuk penyusunan roadmap kimia dasar berbasis migas dan batubara, serta perluasan penggunaan TKDN.
Selain itu, pemerintah mendorong pengembangan kawasan industri tematik dan chemical cluster terintegrasi, termasuk kawasan ekonomi khusus yang menawarkan fasilitas fiskal dan kemudahan perizinan.
Wiwik menjelaskan bahwa proyek-proyek besar seperti Chandra Asri Pacific 2, Lotte Chemical Indonesia, dan TPPI Olefin Complex Tuban menjadi bagian penting dari upaya membangun substitusi impor. âJika proyek-proyek besar ini berjalan optimal, Indonesia dapat menghemat impor hingga USD 9,5 miliar dan menciptakan lompatan besar bagi daya saing industri nasional,â ungkapnya.
Wiwik menegaskan bahwa penguatan industri petrokimia bukan hanya soal pengurangan impor, tetapi juga strategi jangka panjang untuk menopang seluruh ekosistem manufaktur Indonesia. âIndustri petrokimia adalah jantung dari banyak sektor industri. Ketika hulu kita kuat, seluruh industri hilir akan tumbuh dengan lebih kokoh dan kompetitif. Inilah fondasi hilirisasi yang sesungguhnya,â pungkasnya.Â
- Industri Petrokimia
- Kementerian Perindustrian
- Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT)
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Setop Jadi Penonton! Kemenperin Bongkar Jurus Cetak SDM Industri Jemput Investasi Tiongkok
-
Kemenperin: Asesor Kompetensi Kunci Transformasi Manufaktur yang Adaptif
-
Industri Petrokimia Alami Tekanan, Inaplas Dorong Diversifikasi Bahan Baku untuk Kemandirian
-
Jaga Keberlanjutan, Kemenperin Dorong Rumah Sakit Patuhi Standar Lingkungan
-
Lawan Serbuan Impor! Kemenperin Resmikan Pabrik Kawat Baja Rp300 M di Subang, 40% Buat Ekspor
-
Perkuat Ekosistem, Kemenperin Libatkan IKM Komponen Masuk Rantai Pasok Kendaraan Listrik
-
Bungkus Produk Asal-asalan? Menperin: IKM Bisa Kalah Saing Kalau Kemasan Nggak Naik Kelas
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.