Waspadai Cuaca Ekstrem hingga Awal Tahun
Selasa, 04 Nov 2025, 03:03 WIBSEMARANG - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat, khususnya di Jawa Tengah, mewaspadai potensi cuaca ekstrem hingga awal tahun depan yang dikhawatirkan berdampak terhadap bencana alam.
âDari BMKG, curah hujan ini akan berlangsung cukup masif untuk Jawa Tengah sampai dengan awal tahun 2026,â kata Kepala BNPB Suharyanto saat meninjau Kolam Retensi Terboyo di Semarang, Senin (3/11).
Peninjauan ke Pompa Retensi Terboyo itu, dalam rangka memantau langkah penanganan banjir di Kota Semarang yang sempat berlangsung selama lebih dari sepekan. âAlhamdulillah. Ini relatif lebih baik. Meski masih ada genangan sedikit-sedikit, tapi dua-tiga hari ini kita pastikan semuanya kering dan terkendali,â katanya.
Menurut dia, hasil koordinasi terpadu antara BNPB dengan unsur instansi terkait menyimpulkan bahwa salah satu pemicu banjir di Kota Semarang tak terlepas dari pengaruh cuaca ekstrem pada dasarian kedua Oktober 2025.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan pada November dan Desember 2025 hingga awal 2026 masih menunjukkan adanya potensi cuaca ekstrem yang masif di Jateng.
Oleh karena itu, kata dia, upaya mitigasi dan kesiapsiagaan serta kapasitas masyarakat harus ditingkatkan. Penanganan jangka pendek dan menengah sebagai langkah mitigasi, kata dia, sudah dilakukan operasi modifikasi cuaca di wilayah Jateng. âBahkan, untuk Jawa Tengah kita kerahkan kekuatan full ya, ada dua pesawat yang terus 1x24 jam melaksanakan reduksi awan-awan hujan yang bisa mengakibatkan hujan lebat,â katanya.
Hujan Lebat
BMKG memperingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat masih dapat terjadi di sebagian besar wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jakarta hingga 7 November 2025.
Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa hasil analisis dan prediksi dari tim Meteorologi Publik menunjukkan pola cuaca basah masih mendominasi wilayah selatan dan tengah Pulau Jawa.
âPrediksi kami menunjukkan hujan intensitas tinggi sudah mulai terjadi sejak pagi hari dan mencapai puncaknya antara pukul 13.00 WIB sampai 16.00 WIB. Setelah itu malam sedikit mereda,â ujarnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan disertai petir dan angin kencang, serta menghindari aktivitas di area rawan banjir dan longsor selama periode cuaca ekstrem berlangsung.
Sebelumnya, BNPB mendorong penguatan budaya sadar bencana sebagai bagian dari strategi membangun ketahanan nasional menghadapi berbagai ancaman bencana alam, non-alam, dan sosial, di Tanah Air.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknis dan infrastruktur, tetapi juga oleh karakter masyarakat yang tangguh, solidaritas sosial, serta kepemimpinan yang kuat di setiap lapisan.
âKetangguhan dalam menghadapi bencana bukan hanya tentang kesiapan teknis, tetapi juga tentang mental, solidaritas, dan kepemimpinan yang kokoh di setiap lapisan masyarakat,â ucapnya saat menjadi penceramah dalam kegiatan Pendidikan Reguler Angkatan XXVI Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI di Jakarta, Jumat.
Dalam paparannya berjudul âKonsep Penanggulangan Bencana Alam dalam Mendukung Keamanan Nasional yang Kokohâ, Suharyanto menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu dari 35 negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia. Menurut dia, kondisi geografis dan geologis menjadikan sebagian besar wilayah Indonesia berada di jalur rawan bencana, baik hidrometeorologi, geologi, maupun non-alam.
BNPB mencatat periode 2021â2025 menunjukkan penurunan jumlah korban jiwa dan kerugian ekonomi akibat bencana masing-masing sebesar 93,49 persen dan 79,76 persen.
Capaian tersebut dinilai sebagai hasil dari peningkatan efektivitas strategi penanggulangan bencana dan kesiapsiagaan pemerintah bersama masyarakat. Dalam membangun ketahanan nasional, kata dia, BNPB terus mengembangkan program Desa Tangguh Bencana (Destana), sistem peringatan dini multi-bahaya (Multi-Hazard Early Warning System/MHEWS), serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengantisipasi bencana hidrometeorologi.
âUpaya ini diiringi dengan peningkatan kapasitas pemerintah daerah dan penguatan sinergi lintas kementerian dan lembaga. BNPB juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan kesadaran bencana sebagai bagian dari karakter nasional dan pilar utama ketahanan bangsa. Ant/S-2
Redaktur: Sriyono
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Buntut Kasus Amsal Sitepu, Kejagung Periksa Jajaran Kejari Karo
-
Cuaca Ekstrem Berpotensi Melanda Banten pada 3-8 Mei, BMKG Minta Warga Waspada
-
Angkasa Pura Indonesia dan AirNav Pastikan Operasional Bandara Soetta Tetap Terkendali Saat Cuaca Buruk
-
Cuaca Ekstrem hingga 24 Mei, BPBD DKI Minta Warga Waspada Banjir
-
Masuki Pancaroba, BMKG Minta Warga Bandung Raya Waspadai Cuaca Ekstrem
-
Kasad Pastikan Negara Akan Penuhi Seluruh Hak Tiga Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon
-
Cuaca Ekstrem dan Potensi Bencana Alam
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.