Misi Kebangkitan Spalletti: Selamatkan Juventus dan Reputasi di Liga Champions

Selasa, 04 Nov 2025, 08:38 WIB

MILAN, ITALIA – Luciano Spalletti memulai babak baru dalam karirnya dengan misi ganda: menghidupkan kembali Juventus dan memulihkan reputasinya sendiri. Rabu (5/11) dini hari WIB, pelatih veteran itu akan memimpin Bianconeri menghadapi Sporting Lisbon dalam laga penting Liga Champions.

Spalletti, yang baru ditunjuk menggantikan Igor Tudor pada awal pekan, langsung memberi sinyal perubahan. Hanya dua hari setelah resmi menjabat, ia sukses membawa Juve menang 2-1 di markas Cremonese pada hari Sabtu lalu. Dalam laga itu, sentuhan khas Spalletti sudah terlihat jelas: permainan lebih hidup, struktur pertahanan lebih rapat, dan ide-ide segar dalam formasi yang berani.

Ket. Foto: Luciano Spalletti — Sumber: AFP

Pelatih berusia 66 tahun itu bahkan membuat langkah tak biasa dengan menurunkan gelandang Belanda Teun Koopmeiners sebagai bek tengah dalam formasi tiga pemain belakang,keputusan berani yang justru menambal kelemahan utama Juve di lini belakang. Langkah eksentrik semacam ini bukan hal baru bagi Spalletti, yang dikenal sebagai pelopor taktik “false nine” kala mengubah peran Francesco Totti di AS Roma, jauh sebelum Pep Guardiola melakukan hal serupa dengan Lionel Messi di Barcelona.

“Yang terpenting adalah tim, bukan individu. Jika semua orang punya semangat yang sama, suatu hari kamu akan sadar telah naik satu level,” ujar Spalletti seusai laga di Cremona. “Kamu harus berani,ini bukan situasi di mana tak ada yang memperhatikan. Entah kamu bermain dengan cara yang benar, atau kamu harus menyingkir.”

Bagi Spalletti, mengambil alih Juventus adalah kesempatan penebusan. Setelah periode suram bersama timnas Italia yang ia sebut sebagai “luka dalam karier”, mantan pelatih Napoli ini ingin membuktikan bahwa dirinya masih salah satu otak terbaik dalam sepak bola Italia.

Kegagalannya di Azzurri, yang berakhir dengan pemecatan pada Juni lalu, membuat reputasinya sempat meredup. Namun, bagi para tifosi Juve, nama Spalletti tetap identik dengan kesuksesan luar biasa di Napoli,klub yang ia antar meraih Scudetto pertama dalam 33 tahun pada 2023. Mereka berharap keajaiban serupa bisa diulang di Turin.

Meski penuh pengalaman, Spalletti datang ke klub yang tengah berada dalam krisis. Juventus hanya mengoleksi dua poin dari tiga pertandingan fase grup Liga Champions, menempati peringkat 25 keseluruhan dan terancam tersingkir lebih awal.

Di tengah tekanan itu, badai cedera pun menerpa. Spalletti kehilangan beberapa pemain kunci seperti Kenan Yildiz dan Lloyd Kelly, yang diragukan tampil melawan Sporting. Yildiz absen karena cedera lutut ringan, sementara Kelly mengalami masalah punggung. Daftar absen semakin panjang dengan cedera Juan Cabal dan Gleison Bremer, dua bek utama yang sudah lebih dulu menepi.

Situasi ini memaksa Spalletti berimprovisasi. Perpindahan Koopmeiners ke lini belakang menjadi solusi darurat yang efektif, sementara gol-gol dari Filip Kostić dan Andrea Cambiaso memberi angin segar di lini serang.

Karir Spalletti selalu berjalan di antara dua sisi: jenius taktik dan kepribadian sulit. Ia dikenal sebagai pelatih yang berani, keras kepala, dan kadang bertabrakan dengan bintang-bintang besar. Di Roma, hubungannya dengan Totti berakhir tegang karena ia enggan memberi menit bermain bagi ikon tua yang sudah mendekati pensiun. Di Inter Milan, ia juga sempat berseteru secara terbuka dengan Mauro Icardi dan istrinya sekaligus agen, Wanda Nara, yang kerap mengkritik Spalletti di acara televisi.

Bahkan selama melatih timnas Italia, laporan tentang ketegangan dengan pemain juga mencuat,sesuatu yang kini tidak boleh terulang. “Yang terpenting adalah membangun hubungan dengan para pemain,” kata Spalletti. “Itu yang selalu saya coba lakukan. Semoga kali ini berhasil, karena dengan timnas dulu saya gagal.”

Kini, Spalletti datang ke Turin bukan sekadar untuk memperbaiki hasil di papan skor, tetapi juga memulihkan wibawanya sebagai salah satu pelatih besar Italia. Laga kontra Sporting di Allianz Stadium akan menjadi ujian pertama.

Dalam situasi genting seperti ini, Spalletti mungkin sekali lagi harus mengandalkan nalurinya yang nyentrik,dan mungkin pula, sedikit keajaiban yang dulu membuat Napoli menjadi legenda baru Serie A.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

Berita Terbaru

Mandi di Pantai Tuturuga Berujung Petaka, 4 Orang Terseret Ombak

Niat Awal Ingin Inspeksi, GM Pelindo Maumere Justru Berjibaku Selamatkan Korban Gempa Jatuh ke Laut

Hebat Prestasi Mendunia! Lima Mahasiswa UI Tembus Program Geosains di Houston

Jalan layang Bomang Buka Akses Warga Bojonggede dan Parung Langsung ke Cibinong

Pemkot Pariaman dan KKP Koordinasi Realisasikan Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih

Beras Indonesia Surplus 3,67 Juta Ton, Kok Harga di Daerah Masih Bisa Rp30 Ribu?

Inter Milan Rekrut Curtis Jones dari Liverpool, Kontrak hingga 2031

Kirab Ancak Agung Jember Kembali Bikin Sejarah, Rekor MURI Berhasil Dipecahkan!

Pemprov Gorontalo Perkuat Sektor Agro Maritim

Sungai Musi Bersih, Kota Palembang Asri! Wali Kota Dorong Aksi Peduli Lingkungan

Pemkot Palu Sasar 31.316 Penerima Manfaat Bantuan Pangan

Hasil Liga Spanyol: Mourinho Awali Periode Kedua di Madrid dengan Kemenangan 2-1 Atas Espanyol

Dari yang Paling Horor Hingga yang Mengecewakan: Ranking Enam Film Insidious

Kabut Asap Makin Pekat, Dinkes Palembang Imbau Warga Gunakan Masker

Karang Taruna Nasional Kerahkan Personel Turut Tangani karhutla di Kalbar

Pemain Timnas Indonesia Ole Romeny Kena Kartu Merah, Fortuna Sittard Harus Akui Keunggulan AZ Alkmaar

Pemprov Sumut Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak Transformasi Digital

Gelar Bazar Harkop Harnas, Pemkab Lebak Bantu Pasarkan Produk UMKM ‎

Produk UMKM Lebak Makin Laris! Pemkab Bantu Pasarkan Lewat Bazar

Pacu Daya Saing sebagai Kota Global, Pemprov DKI Dorong Penguatan Ekosistem Musik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.