Prasasti Nilai Pertumbuhan RI pada Kuartal III-2025 Masih di Kisaran 5 Persen, Ekonomi Jalan di Tempat?
Minggu, 02 Nov 2025, 15:25 WIBJAKARTA - Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III-2025 diperkirakan stagnan dibandingkan periode sebelumnya akibat tekanan dari dinamika ekonomi global.Â
Perlambatan perdagangan internasional, ketidakpastian suku bunga global, serta fluktuasi harga komoditas menjadi faktor utama yang menahan laju ekspansi domestik.Â
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia masih rentan terhadap gejolak eksternal. Karenanya, diperlukan strategi penguatan sektor riil, diversifikasi ekspor, dan peningkatan daya saing industri dalam negeri untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian global.
Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh stabil di kisaran 5 persen pada kuartal III 2025 atau relatif tidak berubah dibandingkan periode sebelumnya.
Untuk diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III 2025 pada Rabu (5/11), berdasarkan kalender resminya.
âUntuk saat ini, laju pertumbuhan sekitar 5 persen dinilai tetap kokoh dan mencerminkan ketahanan fundamental ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang belum menentu,â kata Research Director Prasasti Gundy Cahyadi dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (1/11).
Prasasti menilai, konsumsi mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan dan investasi tetap solid. Keseluruhan data mengindikasikan bahwa laju pertumbuhan saat ini lebih bersifat stabil daripada menguat secara signifikan.
Prasasti melihat terdapat kenaikan data penjualan ritel sebesar 5,8 persen secara tahunan pada September. Itu, menurut dia, merupakan laju tertinggi sejak awal 2024 dan menunjukkan adanya sedikit peningkatan permintaan rumah tangga.
Namun inflasi inti yang hanya mencapai 2,2 persen menunjukkan bahwa dorongan belanja masyarakat masih terbatas. Kepercayaan konsumen juga belum pulih sepenuhnya, tertekan oleh pertumbuhan pendapatan yang tidak merata serta kekhawatiran terhadap biaya hidup.
âKonsumsi memang membaik, tetapi lajunya masih jauh dari kata kuat. Yang kita lihat saat ini adalah stabilisasi, bukan lonjakan. Kabar baiknya, fondasi dasarnya tetap kokoh,â ujar Gundy.
Dari sisi moneter, kondisi likuiditas menunjukkan perbaikan. Jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh 8 persen secara tahunan pada September, didorong oleh pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang telah memangkas suku bunga acuan sebesar 150 bps (basis poin) sejak September 2024.
Menurut Prasasti, dampak dari kebijakan ini mulai terasa, meski penyalurannya ke sektor kredit dan konsumsi masih berlangsung secara bertahap.
Sementara dari sisi fiskal, realisasi belanja pemerintah hingga September baru mencapai 59,7 persen dari target tahunan, dibandingkan 64,7 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dorongan fiskal pada kuartal ketiga masih terbatas, namun membuka ruang untuk percepatan belanja pada akhir tahun ketika kementerian dan lembaga biasanya mempercepat penyerapan anggaran.
Investasi tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, meskipun mulai menunjukkan tanda perlambatan. Impor barang modal, yang menjadi indikator aktivitas proyek, tumbuh 32,5 persen (year-on-year/yoy) pada kuartal II, namun melambat menjadi sekitar 11,2 persen pada Juli-Agustus.
Pertumbuhan kredit perbankan juga melemah ke 7,6 persen. Meski demikian, data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi naik 13,9 persen secara tahunan pada kuartal III, dipimpin oleh sektor pusat data, logistik, dan infrastruktur digital.
âInvestasi masih menjadi jangkar pertumbuhan, namun momentumnya mulai menurun. Arus investasi ke sektor jasa dan digital memang positif, tetapi tahap berikutnya perlu difokuskan pada revitalisasi sektor industri agar daya saing jangka panjang tetap terjaga,â kata Gundy.
Sementara dari sisi eksternal, neraca perdagangan terus menjadi bantalan penting bagi stabilitas ekonomi. Surplus perdagangan mencapai 5,49 miliar dolar AS pada Agustus, tertinggi sejak awal 2024.
Kinerja ekspor masih didukung oleh permintaan yang stabil dari pasar utama serta harga komoditas yang relatif kuat, terutama minyak sawit mentah (CPO).
Surplus yang berkelanjutan itu turut membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat cadangan devisa, sehingga menopang ketahanan makroekonomi Indonesia.
âKombinasi kebijakan moneter dan fiskal tetap terjaga dengan baik. Pelonggaran moneter BI menjaga likuiditas tanpa menimbulkan gejolak arus modal, sementara pengelolaan fiskal yang disiplin memberi ruang bagi stimulus yang lebih terarah. Sinergi ini menopang pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan,â kata Gundy.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Ekonom: Industri Game Indonesia Berpotensi Dukung Pertumbuhan Ekonomi
-
Disdikpora Bikin Rancangan Kesepakatan Sekolah dan Orang Tua Siswa untuk SPMB 2026
-
Ekonomi Tangerang Ditopang Tiga Sektor
-
KemenPPPA Dorong Penguatan Layanan Perlindungan Perempuan Anak di Daerah
-
Ekonomi Jakarta Nyaris Capai 6 Persen
-
Investasi Penting untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah
-
Final Four Proliga 2026: LavAni Pastikan Lolos ke Grand Final Setelah Libas Garuda Jaya
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.