Sri Sultan Ajak Jaga Persatuan Lewat Dialog dan Kebudayaan

Senin, 27 Okt 2025, 17:00 WIB

YOGYAKARTA - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa persatuan bangsa tidak dapat dibangun hanya melalui semboyan, melainkan lewat kesadaran bersama untuk menghargai perbedaan dan memperkuat keadaban publik. Ia menilai semangat kebangsaan harus terus dipupuk agar masyarakat tidak mudah terpecah di tengah dinamika sosial dan politik nasional.

Pernyataan itu disampaikan Sultan saat membuka Dialog Kebangsaan untuk Indonesia Damai di Sasana Hinggil Dwi Abad, Alun-alun Selatan Yogyakarta, Minggu (26/10). “Kebangsaan itu bukan sekadar simbol atau seremonial. Ia hidup dalam cara kita memperlakukan sesama, bagaimana kita menempatkan nilai kemanusiaan di atas kepentingan kelompok,” ujarnya.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. @humasjogja

Sultan menekankan pentingnya menjaga ruang dialog terbuka menjelang tahun politik agar perbedaan pandangan tidak menimbulkan perpecahan. Indonesia, menurutnya, memiliki modal sosial dan budaya yang kuat untuk menjaga harmoni.

“Kita ini bangsa yang besar, dengan perbedaan suku, agama, dan bahasa. Tapi yang membuat kita tetap satu adalah kesediaan untuk saling mendengar. Dialog seperti ini harus terus dijaga sebagai sarana memperkuat kebangsaan,” imbuhnya.

Dialog tersebut sekaligus menjadi momentum untuk meneguhkan kembali nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa. Sultan mengingatkan bahwa stabilitas sosial dan kedamaian bukan semata tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat.

“Yogyakarta sejak lama menjadi ruang perjumpaan berbagai gagasan dan keyakinan. Dari sini pula semangat Indonesia damai dapat terus kita hidupkan,” ujar Sultan.

Dalam kesempatan itu, Sultan juga menyinggung kontribusi DIY terhadap pembangunan nasional melalui kekuatan kebudayaan. Menurutnya, kebudayaan tidak hanya tampak dari wujud fisik seperti bangunan atau artefak, tetapi juga dari nilai, etika, dan seni.

“Budaya takbenda itu seperti tari, nilai, dan etika. Budaya tidak tetap, tapi selalu bergerak mengikuti tantangan zamannya. Karena kehidupan ini pun terus berganti generasi, berganti cara pandang,” katanya.

Ia menilai setiap masa menghadirkan tantangan baru bagi budaya agar tetap hidup dan relevan. “Cara pandang setiap generasi berbeda, karena budaya itu sendiri diceritakan oleh tantangan. Dinamis, tidak stagnan. Itu fakta yang bisa kita lihat,” tutur Sultan.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya gotong royong dan saling menghormati sebagai penopang utama harmoni sosial. Kesadaran membangun hubungan yang baik di lingkungan sekitar menjadi kunci menjaga keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat.

Terkait dinamika sosial dan pemerintahan, Sultan menyoroti perlunya jembatan pemahaman antara generasi tua dan muda agar kebersamaan tetap terjaga. Perbedaan pengalaman dan cara pandang, menurutnya, wajar terjadi, namun harus disikapi dengan komunikasi terbuka.

“Terhadap perbedaan-perbedaan karena zaman lahir yang berbeda, tidaklah jahat jika ada kebijakan yang mencoba menutup gap. Namun, hal ini harus dilakukan dengan komunikasi yang baik agar tidak menimbulkan masalah dalam membangun kebersamaan dengan seluruh warga,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa generasi muda perlu memahami pentingnya pengalaman dalam pengambilan keputusan, sementara generasi tua harus mau mendengar aspirasi kaum muda.

“Kalau yang muda suruh mengikuti saya, tidak bisa karena mereka tidak memiliki pengalaman seperti orang yang lebih tua. Yang penting, antar generasi bisa berdialog untuk menghindari kesalahpahaman,” kata Sultan.

Menurut Sultan, tantangan komunikasi antargenerasi juga pernah muncul pada masa reformasi ketika perbedaan pola pikir tidak dikelola dengan baik. “Yang lebih tua harus menyesuaikan diri dan mendengar aspirasi generasi muda. Dialog semacam ini penting agar masyarakat merasa aman dan nyaman. Kita berharap jalur-jalur dialog ini bisa merambat ke lapisan masyarakat lainnya,” jelasnya.

Ia pun menutup dengan ajakan untuk terus menumbuhkan harapan dan menjaga suasana damai di masyarakat. “Dengan kekurangan yang ada, saya mohon maaf. Semoga jalur dialog seperti ini bisa terjadi di segala lapisan masyarakat,” ucapnya.

Acara tersebut dihadiri tokoh masyarakat, akademisi, mahasiswa, serta perwakilan ormas. Sejumlah tokoh nasional turut hadir, antara lain GKR Hemas beserta para putri dan menantu, Prof. Mahfud MD, Prof. Edy Suandi Hamid, Prof. Sutaryo, jurnalis Rosiana Silalahi, serta seniman Butet Kartarajasa dan Soimah Pancawati.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.