Spektakuler! Ribuan Penari Warnai Festival Gandrung Sewu 2025 di Pantai Marina Boom Banyuwangi

Jumat, 24 Okt 2025, 17:55 WIB

BANYUWANGI – Festival Gandrung Sewu bukan sekadar pertunjukan seni, tapi juga simbol kuat bagaimana budaya lokal bisa menjadi motor penggerak ekonomi daerah.

Ribuan penari gandrung yang menari serempak di tepi Pantai Boom Banyuwangi menciptakan pesona visual dan emosional yang memikat wisatawan, sekaligus mempertegas posisi Banyuwangi sebagai kota festival yang konsisten mengangkat kearifan lokal ke panggung dunia.

Ket. Foto: Penari mengikuti ritual Meras Gandrung sehari sebelum pelaksanaan Festival Gandrung Sewu di Pantai Marina Boom Banyuwangi, Jatim. — Sumber: ANTARA/ HO-Pemkab Banyuwangi

Dari sisi ekonomi kreatif, festival ini memberikan multiplier effect yang besar—mulai dari meningkatnya okupansi hotel, penjualan produk UMKM, hingga promosi pariwisata yang masif lewat media sosial.

Namun, di balik kemeriahannya, tantangan tetap ada: bagaimana menjaga orisinalitas budaya tanpa kehilangan daya tarik modernnya.

Dengan pengelolaan yang berkelanjutan dan inovasi di sisi promosi, Festival Gandrung Sewu berpotensi menjadi model ideal bagaimana tradisi bisa diolah menjadi daya saing pariwisata berbasis budaya, yang tidak hanya menghibur, tapi juga menumbuhkan ekonomi lokal dan memperkuat identitas bangsa.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada 2025 mengambil tema Selendang Sang Gandrung dalam gelaran agenda Festival Gandrung Sewu yang akan digelar pada Sabtu (25/10).

Pada tahun ini, Gandrung Sewu yang merupakan pertunjukan kolosal yang masuk dalam agenda Kharisma Event Nusantara Kementerian Pariwisata ini diikuti sekitar 1.300 penari dan digelar di Pantai Marina Boom Banyuwangi.

"Tahun ini temanya adalah Selendang Sang Gandrung yang bermakna tentang warisan budaya, cinta kasih dan perjuangan masyarakat Osing dalam pelestarian tradisi," kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Banyuwangi, Jumat (24/10).

Menurut dia, penari gandrung yang tampil bukan hanya anak-anak berbakat dari Banyuwangi saja, dari 1.300 penari, 200 di antaranya adalah anak muda dari daerah lain seperti Malang, Kediri, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Probolinggo, Bali dan Situbondo.

Bahkan, lanjut Bupati Rio, penari diaspora asal Banyuwangi dari Sorong Papua dan Sumatera Selatan serta penari diaspora Amerika Serikat juga turut tampil dalam festival tahunan ini.

"Gandrung Sewu bukan sekadar pagelaran seni, tapi juga ajang konsolidasi sosial, dan di sini semua pihak turut berpartisipasi demi suksesnya Festival Gandrung Sewu," ujar Bupati Ipuk.

Pada hari ini sebelum gandrung sewu digelar, kata dia, terlebih dahulu digelar ritual Meras Gandrung dan Banyuwangi Percussion Festival di Pantai Marina Boom.

Bupati menjelaskan, Meras Gandrung merupakan ritual merayakan kelulusan atau wisuda menjadi penari gandrung, dan dalam ritual ini penari gandrung menjalani prosesi sakral yang dipimpin oleh penari gandrung senior.

"Prosesi ini menampilkan keseluruhan tahap seorang penari, mulai awal belajar hingga akhirnya resmi diwisuda sebagai penari gandrung profesional," ujar Ipuk.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.