Inilah Sumber Mikroplastik di Udara dan Air Hujan Jakarta serta 18 Kota Lainnya

Jumat, 24 Okt 2025, 17:50 WIB

Koran Jakarta Online -- Jakarta tercatat sebagai kota dengan tingkat kontaminasi mikroplastik di udara tertinggi di Indonesia. Temuan ini merupakan hasil penelitian bersama Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (ECOTON) dan Masyarakat Jurnali Lingkungan Indonesia (SIEJ) pada Mei-Juli 2025 di 18 kota. Jakarta Pusat menduduki puncak daftar dengan 37 partikel mikroplastik per 2 jam, diikuti oleh Jakarta Selatan (30 partikel), Bandung (16), Semarang (13), dan Kupang (13).

A. Metode Penelitian:

Ket. Foto: Identifikasi mikroplastik pada Sampel udara di 18 Kota Indonesia Mei-Juli 2025. — Sumber: ECOTON SEIJ 2025

Riset ini menggunakan metode passive deposition dengan menempatkan cawan petri berlapis kertas Whatman basah steril pada ketinggian 1–1,5 meter (zona pernapasan manusia). Partikel yang tertangkap selama 2 jam kemudian dianalisis menggunakan mikroskop stereo dan spektroskopi FTIR untuk mengidentifikasi bentuk, ukuran, dan jenis polimernya.
 
Tingginya mikroplastik di udara ini berhubungan langsung dengan temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang mengungkap adanya partikel mikroplastik dalam air hujan di Jakarta. Lantas, dari mana asal muasal mikroplastik yang mencemari udara dan air hujan tersebut?

B. Sumber Utama Mikroplastik di Udara Perkotaan

Para peneliti mengidentifikasi beberapa sumber primer yang berkontribusi besar terhadap pencemaran ini:

1. Pembakaran Sampah Plastik: 

Aktivitas pembakaran sampah plastik dan rumah tangga secara terbuka disebutkan sebagai penyumbang utama. "Lebih beragamnya jenis polimer mikroplastik di udara karena 57% kebiasaan membakar sampah plastik, yang dipicu oleh buruknya layanan sampah di Indonesia, menyumbang tingginya temuan partikel mikroplastik di udara kita," ungkap Sofi Azilan Aini, Koordinator Relawan Riset Mikroplastik.

Proses pembakaran ini menghasilkan partikel mikroplastik dan aerosol sintetis yang dapat bertahan lama di atmosfer dan terbawa angin hingga ratusan kilometer.


2. Emisi Kendaraan Bermotor: 

Debu dari gesekan ban kendaraan dan rem merupakan sumber mikroplastik yang signifikan. Penelitian BRIN menemukan polimer polibutadien—bahan penyusun ban kendaraan—dalam sampel air hujan. Lalu lintas padat di kota-kota besar seperti Jakarta memperparah kontribusi sumber ini.
Degradasi Produk Plastik dan Tekstil: Plastik sekali pakai yang tercecer dan terpapar cuaca akan terdegradasi menjadi partikel-partikel kecil.

Selain itu, serat sintetis dari pakaian (terutama poliester dan nilon) terlepas ke udara selama produksi, penggunaan, dan pencucian.


3. Aktivitas Industri dan Perdagangan: 

Titik sampling di Pasar Tanah Abang, pusat perdagangan tekstil terbesar di Asia Tenggara, dikonfirmasi sebagai hotspot mikroplastik. Kombinasi dari pelepasan serat tekstil, aktivitas bongkar muat barang, penggunaan plastik sekali pakai, dan lalu lintas kendaraan yang tinggi menciptakan konsentrasi mikroplastik yang sangat padat di kawasan tersebut.


C. Mekanisme Terbentuknya "Hujan Mikroplastik"


Partikel-partikel mikroplastik dari berbagai sumber tersebut kemudian terdispersi oleh angin dan melayang di atmosfer. "Tingginya mikroplastik di udara Jakarta berdampak pada tingginya kadar mikroplastik dalam air hujan, karena air hujan menyerap material di atmosfer sehingga mikroplastik yang ada di udara tertangkap dan larut di dalamnya," jelas Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik ECOTON.

Ketika partikel mikroplastik bereaksi dengan uap air di atmosfer, mereka akan turun bersama air hujan, membentuk fenomena yang kini dikenal sebagai "hujan mikroplastik". Dalam setiap 1 meter persegi air hujan di Jakarta, BRIN menemukan setidaknya 15 partikel mikroplastik yang didominasi oleh bentuk serat sintetis dan fragmen.

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Winoto Wahyu

Berita Terbaru

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.