Santri Harus Mampu Menjadi Garda Depan Memerangi Hoaks dan Radikalisme

Rabu, 22 Okt 2025, 12:53 WIB

KUKAR -  Dalam rangka hari santri, diingatkan para santri harus bisa menjadi ujung tombak atau garda depan memerangi hoaks dan radikalisme. Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, mengajak para santri setempat berlomba melawan hoaks dan radikalisme karena keduanya merupakan perbuatan yang bisa memicu amarah, membuat suasana tidak kondusif, bahkan dapat memecah persatuan dan kesatuan.

"Gunakan ilmu dan kekuatan mental untuk melawan hoaks, radikalisme, dan segala bentuk perilaku negatif," ujar Bupati Kukar Aulia Rahman Basri saat memimpin upacara peringatan Hari Santri Nasional 2025 di Tenggarong, Rabu. Ilmu yang diperoleh selama mondok di pesantren, lanjutnya, harus digunakan untuk aktif membawa solusi, kreativitas, dan inovasi, di tengah-tengah masyarakat pada bidang apapun, baik kreativitas di bidang agama, ekonomi, pendidikan, sosial, dan lainnya.

Ket. Foto: para santri — Sumber: ist

Peran santri, katanya, sangat penting dan dibutuhkan di berbagai lini kehidupan, terlebih Kabupaten Kukar merupakan daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), sehingga kualitas SDM santri akan menentukan seberapa tangguh dan sukses Kukar dalam menjalankan peran strategis pada banyak lini tersebut.

Peringatan Hari Santri  bertema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia” diikuti ratusan santri dan santriwati dari berbagai sekolah Islam dan pondok pesantren di Kukar, diawali pengibaran Bendera Merah Putih, pembacaan UUD 1945, Ikrar Santri Nasional, pembacaan Resolusi Jihad, diakhiri penyerahan bantuan hibah untuk sejumlah pesantren.

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam sambutan tertulis yang dibacakan Bupati Kukar, mengatakan Hari Santri tahun ini merupakan peringatan yang istimewa, karena tepat 10 tahun sejak pertama kali ditetapkan pemerintah pada tahun 2015. "Selama rentang waktu 10 tahun ini, kita menyaksikan makin kuatnya peran pesantren dan santri dalam berbagai bidang kehidupan," ujar Menag Nasaruddin dalam sambutannya.

Sebelum Indonesia merdeka, lanjutnya, pesantren telah membuat pusat pendidikan di Nusantara, menjadikan tempat para santri menimba ilmu sekaligus menempa diri dalam akhlak dan karakter, sehingga dari pesantren lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan moral.

Dari pesantren juga lahir para tokoh besar bangsa Indonesia, kata Menag, mulai dari pejuang kemerdekaan hingga pemimpin umat. Bahkan saat ini banyak alumni pesantren yang menjadi tokoh nasional, pejabat publik, pengusaha, ilmuwan, hingga pemikir dunia.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.