Gunung Karangetang Mulai Batuk-batuk, Warga Diminta Waspada

Senin, 20 Okt 2025, 01:23 WIB

MANADO – Masyarakat di sekitar Gunung Karangetang diminta waspada karena gunung ini mulai “batuk-batuk” aliasa mengeluarkan guguran lava. Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) dalam laporan aktivitas Gunung Karangetang menyebutkan sesekali terjadi guguran lava pijar dari kawah dua Gunung Karangetang, di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulut.

"Secara visual sinar api  samar-samar 10 meter. Bara api mengecil dan sesekali terjadi guguran lava pijar lebih kurang 50 meter," kata Ketua Pos PGA Karangetang, Yudia P Tatipang dalam laporan pengamatan tanggal 18 Oktober 2025 yang dibagikan dalam grup percakapan 'Info Gunung Api Sitaro', Minggu.

Ket. Foto: penampilang salah satu gunung — Sumber: ist

Luncuran lava pijar tersebut menuju area kawah utara dan selatan, sebagian masuk ke Kali Hiung lebih kurang 50 meter. Selanjutnya, suara atas bunyi gemuruh sering terdengar agak lemah hingga kuat.

Yudia menyebutkan, pada periode pengamatan tersebut terekam gempa embusan sebanyak 174 kali, dengan amplitudo : 5-50 milimeter selama 26.12-30.95 detik, gempa tremor non-harmonik sebanyak dua kali dengan amplitudo 20 milimeter, durasi 62.83-67.67 detik.

Terekam juga gempa tremor harmonik sebanyak satu kali dengan amplitudo 50 milimeter, durasi : 64.38 detik, gempa hybrid/fase banyak sebanyak satu kali dengan amplitudo : 5 milimeter, S-P : 0 detik, Durasi : 11.12 detik.

Selanjutnya, gempa vulkanik dalam sebanyak dua kali dengan amplitudo : 5-20 milimeter, S-P : 0.44-1.72 detik, durasi : 10.17-11.38 detik) serta gempa tektonik jauh sebanyak lima kali dengan amplitudo 7.5-50 milimeter, S-P : 13.67-17.22 detik, durasi : 50.24-72.7 detik. "Gempa embusan masih mendominasi seismogram, sementara tingkat aktivitas pada Level II (Waspada)," katanya menambahkan.

Yudia berharap warga mematuhi radius bahaya yang direkomendasikan di antaranya, masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1.5 kilometer dari puncak kawah dua (kawah utara) dan kawah utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah selatan barat daya sejauh 2.5 kilometer.

Masyarakat juga diimbau mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material lava sebelumnya karena kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan barat daya.

Gunung Lawu

Sementara itu, demi menghormati dan melestarikan sejarah, budaya, dan spiritual Gunung Lawu, maka tak dimasukkan ke dalam wilayah kerja pertambangan (WKP). Pemerintah menegaskan bahwa kawasan Gunung Lawu, yang terletak di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, tidak termasuk dalam wilayah kerja pertambangan (WKP) panas bumi.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan keputusan tersebut menjadi bukti komitmen kementeriannya dalam menjaga kelestarian nilai sejarah, budaya, dan spiritual kawasan tersebut, sekaligus memastikan pengembangan energi dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

"Kami tegaskan Gunung Lawu tidak masuk dalam wilayah kerja pertambangan panas bumi. Tidak ada proses lelang maupun aktivitas eksplorasi di kawasan tersebut," katanya, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu. Menurut dia, pemerintah berpegang pada prinsip kehati-hatian dan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat di sekitar Gunung Lawu.

Rencana pengembangan panas bumi di Gunung Lawu sebenarnya pernah diajukan sejak 2018. Namun, setelah melalui evaluasi menyeluruh, wilayah kerja tersebut resmi dihapus pada 2023. Sebagai tindak lanjut, pada 2024, pemerintah pusat melakukan audiensi dengan Pemerintah Kabupaten Karanganyar, Jateng, dan akademisi dari Universitas Sebelas Maret (UNS).

Dari hasil diskusi itu, Kecamatan Jenawi, Karanganyar, diusulkan sebagai lokasi alternatif karena berada jauh dari kawasan cagar budaya, situs spiritual, dan wilayah yang memiliki keterikatan erat dengan Gunung Lawu. Eniya menjelaskan bahwa kegiatan yang direncanakan di Jenawi hanya berupa survei pendahuluan dan eksplorasi (PSPE) dan bukan eksplorasi atau pengeboran langsung.

PSPE dimulai dengan survei geosains, yakni kajian ilmiah untuk memetakan potensi panas bumi sekaligus memastikan seluruh situs budaya, kawasan sakral, dan hutan konservasi tidak termasuk dalam area survei. Kajian di Jenawi ini diharapkan menjadi dasar ilmiah bagi pemanfaatan energi panas bumi dengan potensi hingga 40 megawatt (MW) atau setara kebutuhan listrik lebih dari 40.000 rumah tangga.

"PSPE ini sifatnya baru survei pendahuluan. Pengeboran nanti akan dilakukan setelah ada hasil survei pendahuluan yang tidak menyentuh kawasan sakral maupun hutan konservasi. Semua tahapan akan dilakukan secara transparan dan partisipatif," jelas Eniya.

Kementerian ESDM juga menegaskan kegiatan PSPE belum akan dilaksanakan sebelum seluruh proses audiensi, sosialisasi, dan diskusi terbuka dengan para pemangku kepentingan rampung. Dengan mempertimbangkan seluruh aspek sosial, budaya, dan lingkungan, PSPE Jenawi dipastikan tidak akan dilakukan pada 2025.

"Kami ingin memastikan semua proses berjalan dengan penuh kehati-hatian dan dapat diterima semua pihak. Selama dialog masih berlangsung dan tahapan belum tuntas, PSPE di Jenawi tidak akan kami laksanakan terlebih dahulu," jelas Eniya.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.