The Fed Mulai Melihat Ruang Melonggarkan Kebijakan Moneter

Jumat, 17 Okt 2025, 01:05 WIB

WASHINGTON - Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, Jerome Powell pada Selasa (15/10) mengisyaratkan posisinya mendekati titik di mana mereka akan menghentikan pengurangan kepemilikan obligasi (quantitative tightening), sekaligus mengirim sinyal akan pemangkasan suku bunga yang lebih banyak.

Dalam konferensi National Association for Business Economics di Philadelphia, Powell memaparkan posisi The Fed terkait “quantitative tightening”, yaitu upaya mengurangi lebih dari 6 triliun dollar AS surat berharga yang saat ini berada di dalam neraca bank sentral.

Ket. Foto: Gubernur Federal Reserve, Jerome Powell — Sumber: Jim WATSON/AFP

Meskipun Powell tidak memberikan tanggal pasti kapan program itu akan berakhir, ia mengatakan ada tanda-tanda bahwa The Fed mulai mencapai target cadangan “berlimpah” (ample reserves) bagi perbankan.

“Rencana kami yang telah lama disampaikan adalah menghentikan pengetatan neraca ketika cadangan berada sedikit di atas tingkat yang kami nilai sesuai dengan kondisi cadangan berlimpah,” kata Powell dalam pidato tertulisnya.

“Kami mungkin akan mencapai titik itu dalam beberapa bulan mendatang, dan kami sedang memantau berbagai indikator untuk membantu pengambilan keputusan ini,” tambahnya.

Pidato powel juga menyiratkan bahwa The Fed menilai cadangan perbankan sudah mendekati tingkat yang cukup aman. Jika pengetatan neraca terus dilakukan, ada risiko likuiditas bagi perbankan.

Seperti diketahui tiga tahun setelah memulai kebijakan quantitative tightening dan pengetatan moneter, neraca The Fed turun 13 miliar dollar AS pada akhir Juni 2025.

Ini menandai konsistensi The Fed dalam menyusutkan likuiditas sejak pertengahan 2022, setelah sebelumnya melakukan ekspansi besar-besaran selama pandemi Covid-19.

Menurut Wolf Richter, pendiri wolfstreet.com yang kerap mengulas kebijakan The Fed dan dampaknya pada ekonomi global, pengetatan 13 miliar dollar AS itu membuat neraca The Fed turun menjadi 6,66 triliun dollar AS pada Juni 2025.

Angka tersebut merupakan posisi terendah sejak April 2020, berdasarkan data mingguan neraca The Fed per Kamis (3/7).

Ritcher menjelaskan bahwa The Fed menghentikan program quantitative easing atau pelonggaran moneter pada April 2022, lalu memulai program QT pada Juni 2022.

Hingga Juni 2025, setelah tiga tahun quantitative tightening, The Fed telah memangkas 2,31 triliun dollar AS atau 25,7 persen dari total asetnya.

Tekanan Likuiditas Reda

Peneliti ekonomi Core, Yusuf Rendi Manilet, mengatakan pernyataan Powell itu menunjukkan bahwa The Fed mulai melihat ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter setelah periode pengetatan yang cukup panjang.

Ketika quantitative tightening mendekati akhir, artinya tekanan likuiditas di sistem keuangan mulai mereda dan kondisi perbankan dinilai cukup stabil. Isyarat pemangkasan suku bunga yang lebih lanjut juga mempertegas bahwa fokus kebijakan kini mulai bergeser dari pengendalian inflasi menuju stabilisasi pertumbuhan ekonomi.

“Bagi negara emerging market seperti Indonesia, sinyal pelonggaran ini berpotensi membawa dampak positif. Arus modal asing cenderung mengalir kembali ke negara berkembang ketika suku bunga di AS turun, karena investor mencari imbal hasil yang lebih tinggi,”papar Rendi.

Hal itu juga dapat memperkuat nilai tukar rupiah dan menurunkan tekanan terhadap yield surat utang pemerintah. Namun di sisi lain, Indonesia juga perlu tetap waspada, karena jika pelonggaran dilakukan terlalu cepat dan memicu ketidakstabilan di pasar keuangan global, volatilitas nilai tukar dan arus modal bisa meningkat kembali.

“Jadi, meskipun sinyal The Fed kali ini memberi angin segar bagi pasar keuangan domestik, respons kebijakan di dalam negeri tetap harus menjaga keseimbangan antara stabilitas dan daya saing ekonomi,”pungkasnya.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.