• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Kering dan Panas Sekali, K...

Kering dan Panas Sekali, Kondisi Ora Umum Cuaca Indonesia

Rabu, 15 Okt 2025, 01:46 WIB

JAKARTA – Hari-hari belakangan cuaca terasa sangat panas. Apakah kira-kira yang terjadi sehingga kondisi demikian? Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), temperatur terasa lebih panas di sejumlah wilayah Indonesia akibat posisi matahari sekarang sudah bergeser di selatan tanah air. Ditemui usai Ekspose Pengendalian Karhutla Tahun 2025 di Kantor Kemenhut, Jakarta, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menjelaskan bahwa temperatur ideal untuk wilayah perkotaan rata-rata maksimum adalah 31-34 derajat Celcius.

"Saat ini kenapa terlihat panas? Karena di sisi selatan matahari sekarang itu udah bergeser di selatan wilayah Indonesia," jelasnya. "Ini juga menyebabkan pertumbuhan awan hujan itu juga sudah jarang di wilayah selatan," tambahnya. Minimnya pertumbuhan awan menyebabkan tidak ada awan yang menutup sinar matahari sehingga terasa secara langsung. Hal itu menyebabkan temperatur terasa sangat panas di sejumlah wilayah Indonesia.

Ket. Foto: ramalan cuaca — Sumber: ant

Terkait potensi hujan, dia menjelaskan bahwa Indonesia sudah memasuki musim hujan sejak Agustus. Namun, karena wilayah yang luas maka periode musim hujan tidak dialami serentak di seluruh daerahnya. Menurut prakiraan BMKG, sekitar bulan November hampir semua daerah di Indonesia sudah mengalami musim hujan. BMKG juga memprakirakan potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah dalam sepekan ke depan, termasuk di wilayah Sumatera Utara serta di wilayah Jawa bagian tengah. "Nanti di Desember, Januari, Februari itu sudah serentak," jelasnya.

Sebelumnya, prakiraan BMKG memperlihatkan temperatur tinggi di sejumlah kota pada Senin (13/10), yang berkisar antara 27 sampai 35 derajat Celcius. Termasuk wilayah Serang, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya yang memiliki temperatur 32 sampai 35 derajat Celcius.

Bencana Basah

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengingatkan kesiapsiagaan mengantisipasi bencana hidrometeorologi basah di sejumlah wilayah memasuki bulan November.

"Kami mohon untuk lebih mulai siaga untuk bencana hidrometeorologi basah ini. Terutama untuk masuk di bulan November," kata Dwikorita ditemui saat Ekspose Pengendalian Karhutla Tahun 2025 di Kantor Kemenhut, Jakarta, Senin.

Secara khusus dia merujuk wilayah-wilayah rawan seperti Sumatera Utara atau sejumlah titik di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Beberapa bencana hidrometeorologi basah termasuk ancaman banjir bandang sering menimbulkan korban jiwa ketika terjadi.

"Sehingga perlu kesiapsiagaan berikutnya setelah karhutla sudah dikoordinasikan mulai saat ini," jelasnya.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto di kesempatan yang sama menjelaskan bahwa Indonesia saat ini memasuki periode peralihan musim yang dapat mengakibatkan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah.

"Itu ada di wilayah Sumatera Utara, kemudian kita juga ada di wilayah Jawa pun juga di sebelah tengah ya, tapi itu yang terjadi," jelasnya.

Dia menjelaskan bahwa musim hujan sendiri sudah dimulai sejak Agustus. Namun karena wilayah Indonesia yang luas, maka musim hujan tidak dialami secara serentak di seluruh tanah air.

"Namun, nanti di bulan November itu sudah hampir semua. Nanti di Desember, Januari, Februari itu sudah serentak," ujat Guswanto.

Dia memastikan BMKG terus melakukan sosialisasi dengan masyarakat untuk melakukan kesiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem, selain juga meminta masyarakat terus memantau prakiraan cuaca dan iklim yang terdapat di beragam kanal BMKG.

  • Anomali Cuaca
  • Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.