Tren Baru! Pembiayaan Emas Multifinance Meledak, Sinyal Investasi Rakyat Meningkat?

Selasa, 14 Okt 2025, 17:25 WIB

JAKARTA – Tren pembiayaan emas oleh perusahaan multifinance belakangan menunjukkan peningkatan seiring naiknya minat masyarakat terhadap aset logam mulia sebagai instrumen investasi aman.

Skema ini menjadi alternatif menarik karena memungkinkan masyarakat memiliki emas tanpa harus langsung membayar penuh di awal.

Ket. Foto: Ilustrasi - Emas yang banyak diminati sebagai investasi oleh masyarakat Sulsel khususnya petani komoditas ekspor seperti cengkeh dan kakao saat setelah panen. — Sumber: ANTARA/ Suriani Mappong

Dengan tenor yang fleksibel dan bunga kompetitif, pembiayaan emas mendorong inklusi keuangan, terutama bagi segmen ritel yang ingin mulai berinvestasi namun memiliki keterbatasan modal.

Dari sisi perusahaan multifinance, produk ini memberikan peluang diversifikasi portofolio pembiayaan sekaligus memperkuat posisi di segmen konsumer.

Namun, tantangannya terletak pada pengelolaan risiko harga emas yang fluktuatif dan perlunya edukasi kepada nasabah agar memahami aspek investasi, bukan sekadar konsumsi.

Jika dikelola dengan baik, pembiayaan emas dapat menjadi instrumen keuangan yang mendukung stabilitas ekonomi dan memperluas akses masyarakat terhadap investasi produktif.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan pembiayaan emas oleh perusahaan pembiayaan (multifinance) melonjak 62,63 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp8,08 miliar per Agustus 2025.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman pun memprediksi pembiayaan emas oleh multifinance akan terus meningkat di masa mendatang.

“Ke depan, pembiayaan segmen ini terus meningkat, seiring dengan tingginya minat masyarakat terhadap pembiayaan emas,” ujar Agusman dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Selasa.

Tidak hanya sektor multifinance, ia menuturkan pembiayaan gadai emas oleh industri pergadaian juga tercatat tumbuh signifikan sebesar 33,43 persen yoy menjadi Rp90,08 triliun pada Agustus 2025.

Ia mengatakan tingginya harga emas juga diproyeksikan akan terus mendukung pertumbuhan kinerja layanan gadai emas.

Untuk memperkuat ekosistem kegiatan usaha emas atau bulion di Indonesia, OJK terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam penyusunan regulasi serta peningkatan transparansi dan keamanan kegiatan usaha tersebut.

“Saat ini, pendalaman terhadap pengembangan ekosistem terus dilakukan,” kata Agusman.

OJK mencatat piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh 1,26 persen yoy pada Agustus 2025 menjadi Rp505,59 triliun, didukung pembiayaan modal kerja yang meningkat sebesar 7,62 persen yoy.

Profil risiko perusahaan pembiayaan terjaga dengan rasio pembiayaan macet atau Non Performing Financing (NPF) gross tercatat sebesar 2,51 persen dan NPF net 0,85 persen. Sedangkan gearing ratio tercatat sebesar 2,17 kali dan berada di bawah batas maksimum sebesar 10 kali.

Pembiayaan modal ventura pada Agustus 2025 tumbuh sebesar 0,90 persen yoy, dengan nilai pembiayaan tercatat sebesar Rp16,33 triliun.

Pada industri pinjaman daring (Pindar), outstanding pembiayaan pada Agustus 2025 tumbuh 21,62 persen yoy, dengan nominal sebesar Rp87,61 triliun. Tingkat risiko kredit secara agregat (TWP90) berada di posisi 2,60 persen.

Pada industri pergadaian, penyaluran pembiayaan pada Agustus 2025 tumbuh sebesar 28,67 persen yoy menjadi Rp108,30 triliun dengan tingkat risiko kredit yang terjaga.

Pembiayaan terbesar industri pergadaian disalurkan dalam bentuk produk gadai, yaitu sebesar Rp90,08 triliun atau 83,17 persen dari total pembiayaan yang disalurkan.

Sementara, pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh perusahaan pembiayaan pada Agustus 2025 meningkat sebesar 79,91 persen yoy, atau menjadi Rp9,97 triliun dengan NPF gross sebesar 2,92 persen.

  • Pembiayaan Emas Multifinance

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.