Waspada! Terlalu Bergantung pada Beras, Sistem Pangan Nasional Justru Rapuh
Jumat, 10 Okt 2025, 00:51 WIBKebergantungan pada satu komoditas membuat sistem pangan sangat rentan terhadap kegagalan panen akibat perubahan iklim, hama, atau bencana alam di sentra-sentra produksi beras.
JAKARTA â Kebijakan pangan yang terfokus pada beras membuat sistem pangan nasional menjadi tidak seimbang dan rentan terhadap gejolak. Kebergantungan tinggi terhadap satu komoditas ini menyebabkan diversifikasi pangan berjalan lambat, sementara potensi sumber karbohidrat lokal seperti jagung, sagu, dan umbi-umbian belum tergarap optimal.
Padahal, secara historis, masyarakat Indonesia memiliki tradisi konsumsi pangan beragam. Ketika beras mendominasi kebijakan dan subsidi, komoditas lain kehilangan daya saing, sehingga menghambat kemandirian dan ketahanan pangan jangka panjang.
Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar), Denpasar, Bali, Dr. I Nengah Muliarta mengungkapkan, selama puluhan tahun, kebijakan pangan Indonesia cenderung terpusat pada beras sebagai satu-satunya tolok ukur ketahanan pangan.
"Kebergantungan pada satu komoditas membuat sistem pangan sangat rentan terhadap kegagalan panen akibat perubahan iklim, hama, atau bencana alam di sentra-sentra produksi beras. Terlalu bergantung pada beras membatasi asupan nutrisi beragam bagi masyarakat. Jagung, selain karbohidrat, juga mengandung serat, vitamin, dan mineral," tegas Muliarta saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (9/10).
Karenanya, Muliarta menekankan pentingnya melakukan diversifikasi pangan yang selama ini terabaikan, salah satunya mengoptimalkan komoditas jagung. Padahal, jagung memiliki peran strategis dalam mengurangi ketergantungan pada beras dan memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
Menanggapi pernyataan Menko Pangan Zulkifli Hasan, Muliarta menekankan bahwa jagung bukan hanya komoditas pertanian, tetapi simbol harapan bagi kemandirian pangan nasional. Jagung, terangnya merupakan bahan pangan yang secara historis sudah dikonsumsi di berbagai daerah di Indonesia (seperti di Nusa Tenggara Timur, Madura, dan sebagian Sulawesi) dan memiliki keunggulan agronomis, yaitu lebih toleran terhadap kondisi kering dibandingkan padi.
âMenggalakkan jagung, termasuk melalui Gerakan Tanam Serentak, adalah upaya yang benar untuk mulai menggeser paradigma dari ketergantungan beras semata,â ujar Muliarta.
Dalam kerangka ketahanan pangan, di mana definisinya mencakup ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas, jagung memegang peran ganda. Pertama, jagung berfungsi sebagai penyangga cadangan pangan strategis. Di sisi lain, jagung sebagai bahan baku industri makanan olahan.
Dijelaskannnya, mengangkat jagung sebagai pangan pokok alternatif atau pendamping beras adalah cara paling efektif untuk mengurangi tekanan pada konsumsi beras. "Jika sebagian masyarakat beralih mengonsumsi jagung (misalnya dalam bentuk nasi jagung atau mencampurkannya dengan beras, permintaan dan impor beras dapat ditekan," paparnya.
Dengan dua sumber karbohidrat utama (beras dan jagung) yang dikelola dengan baik, sistem pangan Indonesia menjadi lebih tangguh terhadap berbagai guncangan, baik dari sisi produksi maupun harga. "Ketika 90 persen perhatian, anggaran, dan infrastruktur diarahkan untuk menjamin pasokan beras, kita secara otomatis mengabaikan potensi komoditas pangan lain yang lebih adaptif, seperti jagung dan umbi-umbian," ungkap Muliarta.
Simbol Kedaulatan
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan jagung bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan menjadi simbol harapan bagi masa depan dan kedaulatan pangan Indonesia. Zulkifli turut serta dalam gerakan tanam jagung serentak kuartal IV yang digelar di Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (8/10), sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
âJagung ini bukan cuma tanaman, tetapi harapan. Dari sini kita bangun kemandirian pangan, kesejahteraan petani, dan stabilitas harga di tingkat rakyat,â ujar pria yang akrab disapa Zulhas itu dalam sambutannya, dikutip dari keterangan pers di Jakarta, Rabu (8/10).
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.