QRIS Lampaui Kartu Kredit, Transaksi Digital Kian Menguat
Jumat, 10 Okt 2025, 00:00 WIBJAKARTA â Jumlah penggunaQuick Response Code Indonesian Standard (QRIS) kini melampaui pemakai kartu kredit, menandai pergeseran signifikan dalam perilaku transaksi masyarakat. Peningkatan ini menunjukkan adopsi sistem pembayaran digital yang semakin kuat, didorong oleh kemudahan penggunaan, jangkauan luas, serta dukungan ekosistem fintech dan perbankan.
Tren ini menjadi sinyal positif bagi akselerasi inklusi keuangan, Meski demikian, pergeseran tersebut menuntut penguatan keamanan siber dan literasi digital agar pertumbuhan tetap berkelanjutan.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan jumlah pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Indonesia sudah melampaui kartu kredit. âPayment QRIS itu terus meningkat dan jumlah penggunanya di Indonesia sudah lebih dari 50 juta. Ini sudah lebih tinggi dari pengguna kartu kredit,â kata Airlangga Hartarto di Jakarta, Kamis (9/10).
Tingginya minat masyarakat untuk menggunakan QRIS, tutur Airlangga, menyebabkan penyedia jasa e-payment atau pembayaran elektronik mulai khawatir. Sebab, tak hanya di Indonesia, QRIS juga mulai merambah negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Selain itu, QRIS juga mulai menyentuh negara-negara Asia Timur, seperti Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan. âKami sedang mendorong untuk di Uni Emirat Arab. Kalau ini kita bisa lakukan, maka kita tidak menggunakan mata uang lain untuk transaksi di luar negeri. Ini akan menjaga stabilitas rupiah kita,â kata Airlangga.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan total nilai transaksi QRIS antarnegara di Malaysia, Singapura, dan Thailand mencapai 1,66 triliun rupiah hingga Juni 2025. Adapun BI melaporkan volume transaksi pembayaran digital melalui QRIS secara umum tumbuh signifikan, yakni sebesar 162,77 persen (year-on-year/yoy) per Juli 2025.
Peningkatan QRIS sejalan dengan pertumbuhan pembayaran digital yang meningkat di seluruh komponen sehingga tumbuh 45,30 persen (yoy) dan mencapai 4,44 miliar transaksi. Volume transaksi aplikasi mobile dan internet meningkat masing-masing sebesar 26,07 persen (yoy) dan 12,68 persen (yoy).
Integrasi Ekonomi
Sebelumnya, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Asean periode 2009-2011 William Sabandar menilai integrasi ekonomi Asean via pembayaran QR dinilai sebagai langkah tepat. Hal itu merespons pertanyaan soal apakah Asean perlu mengadopsi mata uang bersama seperti Uni Eropa yang memiliki mata uang euro, yang ia anggap belum diperlukan Asean saat ini.
William, yang saat ini menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) di Indonesian Business Council (IBC) itu, mengatakan bahwa yang saat ini patut dilakukan Asean antara lain adalah memudahkan transaksi lintas batas melalui integrasi pembayaran kode QR.
âDi Indonesia, misalnya, penggunaan (sistem pembayaran) kode QR membantu memberdayakan 66 juta UMKM. Mereka menggunakan sistem transaksi yang begitu sederhana seperti ini,â kata mantan pejabat di Asean itu, pekan lalu.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Peluncuran QRIS antarnegara Indonesia-Jepang
-
Bulu Tangkis Mampukah Bangkit di Japan Open
-
Masyarakat Papua Diimbau Gunakan Hak Pilih di PSU
-
Arsenal Akan Lakukan Parade Juara Sehari Setelah Lawan PSG di Liga Champions
-
Arsenal dan Villarreal Ukur Kekuatan Terakhir
-
Unpad Nonaktifkan Dosen Terkait Dugaan Kekerasan Seksual di Kampus
-
Tantangan Digitalisasi Pemilu dan Bonus Demografi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.