Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Jangan Cuma Parkir Dana! Ekonom Desak Rp200 Triliun Digelontorkan ke Sektor Produktif Jika Ingin Perekonomian Ngebut

📅 Rabu, 08 Okt 2025, 15:18 WIB | Oleh: Tim Penulis
Jangan Cuma Parkir Dana! Ekonom Desak Rp200 Triliun Digelontorkan ke Sektor Produktif Jika Ingin Perekonomian Ngebut Doc: Antara.
Ket. Ilustrasi - Bank Mandiri menjadi salah satu bank BUMN yang menerima injeksi likuiditas dari pemerintah.

JAKARTA – Penempatan dana Rp200 triliun oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ke sektor perbankan memang berpotensi menggerakkan ekonomi, tapi efektivitasnya sangat bergantung pada arah penyalurannya.

Jika dana ini hanya parkir di instrumen likuid atau pembiayaan konsumtif, dampaknya terhadap perekonomian akan minim. Namun, bila diarahkan ke pembiayaan produktif—seperti UMKM, sektor riil, atau proyek inovatif—dan dikelola dengan manajemen risiko yang tepat, maka langkah ini bisa menjadi dorongan nyata bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Direktur Insight Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian menilai uang negara itu seharusnya berperan sebagai “pemantik keberanian” bagi lembaga keuangan untuk menyalurkan dana ke sektor riil, bukan sekadar mempertebal likuiditas pada sistem perbankan tanpa arah produktif.

“Kita tidak kekurangan uang, yang kita kekurangan adalah keberanian menyalurkannya dengan cara yang sehat. Kalau dana ini hanya berhenti di deposito atau reverse repo, efeknya minimal,” ujar Fakhrul, di Jakarta, Selasa (7/10).

Ia menilai, agar dampak penempatan dana tersebut optimal, dibutuhkan kolaborasi dengan lembaga keuangan non-bank yang siap mengambil risiko secara terukur. Karena itu, pendekatan stimulus fiskal perlu diperluas menjadi kolaborasi berbagi risiko (risk-sharing ecosystem) antara pemerintah, perbankan, lembaga penjamin, dan industri modal ventura.

Selama ini ekosistem pembiayaan di Indonesia masih didominasi lembaga perbankan yang cenderung berhati-hati, sementara lembaga pembiayaan berbasis ekuitas seperti modal ventura belum diberdayakan secara sistemik.

“Modal ventura bisa menjadi lapisan keberanian di sistem keuangan kita. Bank menjaga likuiditas, pemerintah menanggung sebagian risiko, dan venture capital menyalurkan dana ke sektor inovatif. Itu sebabnya industri modal ventura perlu dilihat bukan sebagai sektor kecil, tapi sebagai missing middle antara kebijakan fiskal dan dunia usaha,” ujarnya.

Fakhrul menilai, peran modal ventura akan sangat penting bagi sektor-sektor dengan potensi pertumbuhan tinggi tetapi belum sepenuhnya bankable, seperti agrikultur modern, industri hijau, logistik, dan pengolahan daerah.

Jika sebagian kecil dari dana Rp200 triliun diarahkan ke skema kolaboratif dengan modal ventura, maka efek penggandanya akan jauh lebih besar dibanding penyaluran kredit konvensional.

Selain itu, Fakhrul menyoroti perlunya reformasi regulasi, agar industri modal ventura bisa menjadi kanal resmi pembangunan.

Ia mengusulkan agar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuka model tiered licensing, yang memungkinkan terbentuknya micro venture fund dengan modal minimum Rp5 miliar-Rp10 miliar sehingga modal ventura dapat berkembang di berbagai daerah di Indonesia.

“Regulasi kita masih memperlakukan modal ventura seperti lembaga keuangan biasa. Padahal venture capital itu sejatinya mesin keberanian. Kalau lisensinya dibuat bertingkat dan fleksibel, ekosistemnya akan tumbuh dari bawah,” ujar dia pula.

Fakhrul juga menilai, pertumbuhan industri modal ventura yang sehat dapat menarik kembali dana Indonesia yang saat ini banyak tersimpan di luar negeri.

“Kalau ekosistem risikonya jelas, dana diaspora dan investor domestik akan berani kembali ke rumah,” ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Rona
7 Drama Korea Baru Wajib Di...
Ekonomi
Sompo Indonesia selenggarak...
Luar Negeri
Dua Kapal Tanker Minyak Dis...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.