G2G, India akan Borong 114 Jet Tempur Rafale dari Dassault Prancis

Selasa, 07 Okt 2025, 00:01 WIB
NEW DELHI - Dalam langkah besar untuk memperkuat kekuatan udaranya, Kementerian Pertahanan India baru-baru ini secara resmi meminta informasi harga dari perusahaan kedirgantaraan Prancis, Dassault Aviation, untuk potensi pembelian jet tempur Rafale dalam skala besar.
Sebuah laporan dari publikasi Prancis, La Tribune, mengindikasikan bahwa sebuah surat telah dikirim pada awal Agustus 2025, yang menanyakan tentang biaya untuk minimal 40 hingga maksimal 114 pesawat.
Dilansir oleh Defense In, inisiatif ini merupakan strategi baru untuk perluasan armada, terpisah dari program pengadaan Pesawat Tempur Multi-Peran (MRFA) yang sedang berlangsung di negara tersebut.
Angkatan Udara India (IAF) saat ini beroperasi dengan kekuatan skuadron yang menipis, jauh di bawah kapasitas yang disetujui, yaitu 42 skuadron. Hal ini menciptakan kebutuhan mendesak untuk modernisasi dan perluasan guna menghadapi ancaman keamanan regional.
Jet Rafale sudah menjadi aset utama bagi IAF setelah perjanjian pembelian 36 pesawat pada tahun 2016. Performanya yang telah terbukti dalam berbagai latihan dan kapabilitasnya yang canggih telah mendorong New Delhi untuk mempertimbangkan akuisisi lebih banyak pesawat tempur multiperan Prancis guna meningkatkan kesiapan tempurnya dengan cepat.
Investasi baru ini berbeda dari tender MRFA yang lebih besar, sebuah proses pengadaan kompetitif senilai lebih dari 20 miliar dolar AS.
MRFA bertujuan untuk mengakuisisi 114 jet dengan penekanan kuat pada transfer teknologi dan produksi dalam negeri di bawah kebijakan "Buatan India", yang melibatkan pesaing global seperti Rafale, Eurofighter Typhoon, dan F-21 buatan Lockheed Martin.
Sebaliknya, permintaan harga langsung kepada Dassault menunjukkan bahwa India mungkin sedang menjajaki kesepakatan antarpemerintah untuk menghindari proses tender yang panjang, dengan memprioritaskan pengiriman cepat guna memenuhi kebutuhan operasional yang mendesak.
Menurut laporan tersebut, surat Kementerian Pertahanan secara khusus meminta rincian biaya untuk pembelian siap pakai.
Pesanan 40 jet akan cukup untuk membentuk dua skuadron baru, sementara akuisisi 114 jet akan menjadi kesepakatan penting yang hampir menyamai skala kompetisi MRFA. Pesanan semacam itu akan memberikan dorongan signifikan bagi produksi dan backlog pesanan Dassault Aviation.
Bagi India, pembelian langsung akan secara signifikan mempercepat upaya IAF untuk mencapai target 42 skuadron pada tahun 2030, sebuah tujuan penting karena Tiongkok dan Pakistan terus memodernisasi angkatan udara mereka.
Kemampuan Rafale untuk menjalankan berbagai misi, termasuk superioritas udara, serangan penetrasi dalam, dan pencegahan nuklir, menjadikannya aset berharga bagi kebutuhan strategis India. 
Lebih lanjut, pengoperasian armada yang lebih besar dengan jenis pesawat yang sama menyederhanakan logistik, perawatan, dan pelatihan, sehingga meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan.
Kesepakatan potensial ini juga akan menjadi kemenangan besar bagi Dassault Aviation, yang memperkuat posisi India sebagai mitra strategis utama dan pelanggan ekspor utama.
Pesanan dalam jumlah besar akan mengamankan lini produksi perusahaan untuk tahun-tahun mendatang, melanjutkan kesuksesan penjualan baru-baru ini ke UEA dan india.
Hal ini juga dapat membuka pintu bagi kerja sama industri yang lebih erat, termasuk kemungkinan membangun jalur perakitan akhir di India.
Langkah ini menyoroti penguatan hubungan pertahanan antara India dan Prancis, yang telah diperkuat oleh perjanjian-perjanjian penting seperti kesepakatan awal 36 Rafale dan kontrak baru-baru ini yang ditandatangani pada April 2025 untuk 26 jet angkatan laut Rafale-M bagi kapal induk Angkatan Laut India.
Namun, penyelesaian kesepakatan baru ini akan membutuhkan penyelesaian tantangan terkait negosiasi harga, kewajiban kompensasi, dan penyelarasan pembelian langsung dengan tujuan jangka panjang India untuk mencapai kemandirian dalam manufaktur pertahanan.
 Para ahli yakin jika negosiasi berjalan lancar, kontrak berpotensi ditandatangani pada pertengahan 2026.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.