• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Candi Kendalisodo, Jejak S...

Candi Kendalisodo, Jejak Spiritual di Lereng Penanggungan

Jumat, 03 Okt 2025, 02:08 WIB

Di tengah wilayah yang hampir setiap waktu diselimuti kabut tipis di lereng barat laut Gunung Penanggungan, berdiri sebuah situs kuno yang seolah menahan napas sejarah berabad-abad lamanya. Candi Kendalisodo demian disebut, sebuat situs sejarah sarat makna filosofi dan spiritual.

Terletak di ketinggian lebih dari 1253 meter di atas permukaan laut (mdpl), candi ini bukan sekadar tumpukan batu peninggalan masa lalu. Ia adalah jejak peradaban besar yang pernah bersemi di tanah Jawa kala itu. Di sini menjadi tempat manusia, alam, dan keyakinan berpadu menjadi satu kesatuan yang luhur.

Ket. Foto: — Sumber: Marine Schoettel/Museum Nasional Seni Asia

Candi Kendalisodo secara administratif berada Dusun Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Oleh masyarakat Hindu - Buddha kala itu gunung ini dianggap keramat karena dipercaya sebagai representasi Gunung Mahameru, pusat alam semesta dalam kosmologi kuno.

Penempatan situs di lereng gunung mencerminkan konsep mandala kosmos, yakni pandangan bahwa perjalanan spiritual manusia harus dilakukan dari bawah (duniawi) ke atas (rohani), mengikuti struktur vertikal kosmos. Kemungkinan candi ini berfungsi sebagai tahap awal atau menengah dalam perjalanan spiritual menuju puncak gunung yang dianggap sebagai tempat tertinggi dan tersuci.

Lokasinya Candi Kendalisodo terletak di kawasan lereng Gunung Penanggungan dengan ketinggian antara 800-hingga 900 mdpl. Letaknya yang berada di lokasi terpencil dan tidak mudah dijangkau menjadi tempat yang tepat untuk menjauhkan diri dari kehidupan dunia, yang bagi wisatawan menjadi tantangan tersendiri bagi wisatawan.

Jaraknya sekitar 29,7 km dari pusat Kota Mojokerto lewat Mojosari. Sedangkan jaraknya dengan Kecamatan Trowulan yang menjadi 372 km, sebuah nama yang menjadi pusat kerajaan Majapahit di masa lalu.

Berdasarkan survei arkeologis yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, struktur candi diperkirakan dibangun antara abad ke-14 hingga awal abad ke-15 Masehi. Periode ini bertepatan dengan masa kejayaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.

Candi Kendalisodo dibangun sebagai petirtaan sekaligus pertapaan, sebuah lokasi yang ditujukan bagi para resi, pendeta, dan pelaku laku spiritual untuk menyepi, menyucikan diri, dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Dari sisi nama candi ini mengandung makna yang dalam. “Kendali” berarti pengendalian diri simbol kesadaran dan kedewasaan jiwa sedangkan “sodo” berarti tombak atau kekuatan. Gabungan keduanya mencerminkan filosofi luhur masyarakat Jawa masa lalu, bahwa kekuatan sejati lahir dari kemampuan menguasai diri, menaklukkan hawa nafsu, dan menempuh jalan kesunyian demi mencapai kesempurnaan hidup.

Nilai tersebut sejalan dengan ajaran Hindu dan Buddha yang kala itu hidup berdampingan dan mewarnai tatanan spiritual kerajaan-kerajaan Nusantara. Kala itu di masyarakat terjadi sinkretisme suatu proses perpaduan dari beberapa pemahaman kepercayaan atau aliran-aliran agama.

Secara arsitektural, Candi Kendalisodo berbeda dari candi-candi besar seperti Prambanan atau Penataran yang bersifat monumental, yang menjadi simbol kemegahan. Candi ini berukuran relatif kecil dan sederhana, terbuat dari batu andesit yang disusun dengan presisi tanpa menggunakan perekat.

Bentuknya menyerupai altar terbuka atau pelataran suci, lengkap dengan petirtaan alami yang mengalirkan air dari mata air pegunungan. Air ini dahulu dipercaya sebagai tirta amerta air kehidupan yang digunakan dalam upacara penyucian diri sebelum para pertapa memulai meditasi mereka.

Sekeliling candi dipenuhi vegetasi alami, pepohonan tua, dan bebatuan besar yang seolah menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Di sini akar pohon melilit dengan kuatnya di bangunan candi. Suasana yang sunyi, udara yang sejuk, dan aroma tanah basah menciptakan nuansa sakral yang kuat.

Bisa dibayangkan di sini ratusan tahun lalu para brahmana atau resi duduk bersila dalam diam, memusatkan pikiran, dan mengucapkan mantra-mantra suci di tempat ini. Candi ini menjadi ruang pertemuan antara dunia fana dan dunia spiritual, tempat manusia mencari pencerahan dan membebaskan diri dari ikatan duniawi.

Lebih dari sekadar tempat bertapa, Candi Kendalisodo juga merupakan bagian dari jalur suci di Gunung Penanggungan. Bersama sejumlah situs lain seperti Candi Yudha, Candi Bayi, dan Candi Belahan, ia membentuk jaringan tempat suci yang dipercaya merepresentasikan perjalanan spiritual manusia dari kehidupan duniawi menuju kesempurnaan rohani. Tidak mengherankan jika hingga kini, kawasan ini masih sering didatangi para peziarah, pencinta sejarah, hingga pencari ketenangan batin.

Di era modern, ketika masyarakat di sekitarnya bukan lagi menganut kepercayaan tersebut namun Candi Kendalisodo tidak kehilangan pesonanya. Ia tetap berdiri dengan tenang, menyimpan kisah masa lalu sekaligus menjadi pengingat akan kearifan leluhur yang menjunjung tinggi nilai kesederhanaan, kesabaran, dan pencarian makna hidup.

Bagi para pengunjung yang datang, perjalanan menuju candi ini bukan hanya perjalanan fisik menapaki jalur hutan dan tanjakan Gunung Penanggungan. Lebih dari itu juga perjalanan batin yang mengajak untuk merenung dan mengenal diri sendiri lebih dalam.

Bagi masyarakat saat ini Candi Kendalisodo bukan sekadar situs arkeologis. Situs ini cermin kebijaksanaan masa lalu, tempat lahirnya kekuatan dari kesunyian, dan warisan spiritual yang tetap relevan hingga kini.

Di tengah hiruk pikuk dunia modern, keberadaannya mengingatkan bahwa dalam diam, manusia dapat menemukan kekuatan sejati kekuatan yang lahir dari kendali atas diri sendiri. Candi ini seperti mengingatkan manusia akan pencarian makna hidup yang sesungguhnya.

Bangunan Candi Kendalisodo yang terbuat dari batu andesit diperkirakan didirikan pada masa Majapahit, sekitar abad ke-14 hingga ke-15 Masehi bukan sebagai tempat pemujaan massal. Selain untuk “mendekatkan” kepada sang penguasa candi ini berfungsi sebagai petirtaan dan pertapaan.

Lebih dari sekadar tempat bertapa, Candi Kendalisodo juga merupakan bagian dari jalur suci di Gunung Penanggungan. Bersama sejumlah situs lain seperti Candi Yudha, Candi Bayi, dan Candi Belahan, Candi ini membentuk jaringan tempat suci.

Di era modern, Candi Kendalisodo tidak kehilangan pesonanya. Ia tetap berdiri dengan tenang, menyimpan kisah masa lalu sekaligus menjadi pengingat akan kearifan leluhur yang menjunjung tinggi nilai kesederhanaan, kesabaran, dan pencarian makna hidup. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.