Jadwal Kompetisi Tenis Dunia Kembali Disorot di Tengah Maraknya Cedera dan Kritik

Kamis, 02 Okt 2025, 09:00 WIB

HONG KONG, TIONGKOK - Carlos Alcaraz menambah suara kritik terhadap padatnya jadwal tur tenis dunia setelah memutuskan mundur dari Shanghai Masters karena mengalami “masalah fisik”. Keputusan itu semakin menyoroti beban kompetisi yang kini kian dipertanyakan oleh para pemain papan atas.

Menjelang berakhirnya musim, sejumlah juara Grand Slam seperti Alcaraz, Iga Swiatek, dan Coco Gauff melontarkan keluhan atas jadwal yang mereka nilai terlalu padat. Isu ini bukan hal baru, mengingat kalender kompetisi tenis putra maupun putri memang sudah lama menuai sorotan.

Ket. Foto: Carlos Alcaraz. — Sumber: AFP

Para bintang besar, yang memang diganjar bayaran tinggi, berulang kali mengeluhkan beban pertandingan. Kritik itu kian menguat pekan ini setelah sejumlah laga di China Open berakhir prematur akibat cedera. Hanya pada hari Senin lalu, lima pemain terpaksa mundur di tengah pertandingan di Beijing.

Sehari kemudian, publik menyaksikan Daniil Medvedev tertatih-tatih di lapangan sebelum akhirnya menyerah saat tertinggal 0-4 di set penentuan melawan remaja Amerika Serikat, Learner Tien. Lawan Tien di babak sebelumnya, Lorenzo Musetti, juga mundur karena cedera.

Alcaraz sendiri mengalami cedera pergelangan kaki pada laga pembuka Tokyo Open yang membuatnya harus menggunakan perban tebal. Meski begitu, ia tetap mampu menaklukkan Taylor Fritz di final untuk meraih gelar kedelapan musim ini.

Namun, saat ditanya soal komentar Swiatek dan Gauff mengenai jadwal kompetisi, Alcaraz tak ragu menilai, “Kalender terlalu padat. Mereka harus melakukan sesuatu untuk memperbaikinya.”

Tak lama setelah itu, petenis nomor satu dunia berusia 22 tahun tersebut resmi mundur dari turnamen prestisius Shanghai Masters demi “istirahat dan pemulihan”. Ia tidak memastikan kapan akan kembali bertanding.

Salah satu keluhan utama para pemain elite adalah semakin panjangnya durasi turnamen besar non-Grand Slam, seperti Shanghai, yang kini menjelma menyerupai turnamen dua pekan ala Grand Slam. Meski demikian, sebagian kritikus menilai para pemain top kerap menolak kesempatan beristirahat karena memilih tampil dalam laga ekshibisi berbayaran tinggi.

Musim tur Asia kali ini memang dipenuhi drama cedera. Petenis nomor satu dunia putri, Aryna Sabalenka, absen dari China Open setelah mengalami “cedera kecil” usai menjuarai US Open bulan lalu. Sementara itu, Swiatek mengingatkan bahwa dirinya bisa saja melewatkan turnamen wajib demi menjaga kesehatan.

“Banyak pemain yang cedera,” kata Swiatek. “Saya pikir penyebabnya karena musim ini terlalu panjang dan terlalu intens.”

Sejak tahun lalu, Asosiasi Tenis Putri (WTA) mewajibkan pemain top tampil di setiap Grand Slam, 10 turnamen level WTA 1000, termasuk Beijing, serta enam turnamen level 500. Aturan serupa juga berlaku di tenis putra.

Coco Gauff, juara bertahan Beijing sekaligus peringkat tiga dunia, mengaku mustahil bermain lebih banyak dari yang sudah ia jalani. “Saya ingin melihat solusi untuk mempersingkat musim selama saya masih aktif di tur,” kata petenis Amerika berusia 21 tahun itu.

Gauff menutup musim 2024 pada 9 November dengan menjuarai WTA Finals di Arab Saudi, namun hanya berselang beberapa pekan ia sudah kembali beraksi di United Cup, Australia, akhir Desember.

Zheng Qinwen, juara Olimpiade tunggal 2024 dan harapan tuan rumah, termasuk salah satu dari lima pemain yang mundur di Beijing setelah buru-buru kembali pasca operasi siku. Meski begitu, ia menolak menganggap kalender terlalu padat.

“Menurut saya, bagi pemain profesional, kalender tidak berlebihan,” ucap Zheng. “Karena hanya pemain terkuat yang mampu bertahan. Itulah aturan main di kepala saya.”

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.