Tetap Pakai Masker! Kualitas Udara Jakarta Terburuk ke-8 di Dunia, Tak Sehat Bagi Kelompok Sensitif

Selasa, 30 Sep 2025, 08:12 WIB

JAKARTA - Menurut situs pemantau kualitas udara IQAir, kualitas udara di DKI Jakarta pada Selasa (30/9) pagi menduduki peringkat kedelapan terburuk di dunia.

Berdasarkan pantauan pada pukul 08.08 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta, yaitu 124, dengan angka partikel halus (particulate matter/PM) 2.5 atau masuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Ket. Foto: Warga DKI mengenakan masker saat menunggu bus. — Sumber: Antara

Peringkat pertama kota dengan kualitas udara terburuk di dunia pada Selasa, yakni Lahore, Pakistan, dengan indeks kualitas udara 199. Kemudian, Dhaka, Bangladesh, dengan indeks kualitas udara 167 di posisi kedua dan Kmapala, Uganda, dengan indeks kualitas udara 158 pada peringkat ketiga.

Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta berencana meniru kota-kota besar di dunia, seperti Paris dan Bangkok dalam menangani polusi udara.

“Belajar dari kota lain, Bangkok memiliki 1.000 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU), Paris memiliki 400 SPKU. Jakarta saat ini memiliki 111 SPKU dari sebelumnya hanya 5 unit. Ke depan, kita akan menambah jumlahnya agar bisa melakukan intervensi yang lebih cepat dan akurat,” kata Kepala DLH DKI Jakarta Asep Kuswanto pada 18 Maret 2025..

Menurut dia, keterbukaan data merupakan langkah penting dalam memperbaiki kualitas udara secara sistematis.

Oleh karena itu, penyampaian data polusi udara harus lebih terbuka agar intervensi bisa lebih efektif. Dia pun menilai intervensi yang dibutuhkan bukan hanya bersifat sesaat, tetapi berkelanjutan dan luar biasa dalam menangani pencemaran udara.

DLH DKI Jakarta menargetkan penambahan 1.000 sensor kualitas udara berbiaya rendah (low-cost sensors) sehingga pemantauan kualitas udara lebih luas dan akurat.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Antara, Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.