Rupiah Loyo, Cermin Kekhawatiran atas Tata Kelola Fiskal Pemerintah
Kamis, 25 Sep 2025, 17:55 WIBJAKARTA â Rupiah kembali melemah, dan kali ini salah satu sorotan datang dari persoalan disiplin fiskal pemerintah. Investor global biasanya sangat sensitif pada bagaimana negara mengelola anggaranâapakah defisit terjaga, belanja produktif, dan utang terkendali.
Ketika ada tanda-tanda disiplin fiskal longgar, pasar jadi waspada, karena risiko jangka panjang terhadap stabilitas makro ikut naik.
Pelemahan rupiah bukan hanya soal pergerakan kurs harian, tapi sinyal kepercayaan. Jika disiplin fiskal bisa ditegakkan, rupiah akan lebih tahan terhadap guncangan eksternal.
Sebaliknya, keraguan atas pengelolaan fiskal bisa memperbesar tekanan meski faktor global relatif stabil.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Kamis (25/9) sore, melemah sebesar 65 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.749 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.684 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga melemah ke level Rp16.752 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.680 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menganggap pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi disiplin fiskal pemerintah di tengah belanja yang ekspansif.
âBelanja ekspansif pemerintah akan dibiayai lebih dominan dengan hutang di tengah minat asing terhadap obligasi negara yang turun,â ujarnya di Jakarta, Kamis (25/9).
Dulu, kepemilikan asing disebut sempat mendekat 40 persen. Adapun saat ini berada di bawah 20 persen, sehingga Bank Indonesia (BI) dipaksa untuk membantu menutupi kekurangan pembiayaan melalui sharing burden, dengan menyerap obligasi negara.
Kebijakan tersebut dinilai berisiko meningkatkan angka inflasi Indonesia.
âSementara pembiayaan dari pajak melemah terindikasi oleh tax ratio di bawah 10 persen, karena sumber penerimaan pajak terbesar dari pajak penghasilan industri pengolahan yang di dalamnya ada buruh sebagai pajak penghasilan per orang,â ucap dia.
Rully memberikan solusi, yakni keharusan adanya akselerasi lebih cepat proses industrialisasi agar dapat pajak pendapatan dari perusahaan dan pajak payroll (sistem penggajian) dari pekerja.
âSemaksimal mungkin (perlu) mengurangi ketergantungan pembiayaan belanja dari utang,â katanya.
Pelemahan rupiah juga masih berasal dari pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell yang kurang dovish perihal potensi pemangkasan suku bunga AS.
Powell disebut menyampaikan penurunan suku bunga ke depan masih akan terbatas karena risiko inflasi akibat kebijakan tarif. Hal tersebut semakin memperuncing perpecahan dengan anggota The Fed lain yang menginginkan penurunan suku bunga lanjutan. Selain itu juga menambah ketidakpastian kebijakan suku bunga ke depan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
PMI Salurkan Bantuan Medis untuk Warga Iran Terdampak Konflik
-
Kloter 27 Tutup Pemberangkatan Jamaah Haji Karawang Tahun Ini.
-
Lestari Moerdijat: Perlu Komitmen Bersama dari Semua Pihak untuk Pemenuhan Hak Disabilitas
-
Peringatan Dini Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Kaltim
-
Ungkapan Kasus Penyelundupan, 23 Personel Avsec Bandara Soetta Terima Apresiasi
-
Puncak Ibadah Haji, Kemenhaj Imbau Jamaah Jaga Kesehatan Selama Armuzna
-
Juara Empat Kali di Roland Garros, Iga Swiatek Tersingkir
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.