Dimonitor Kemendukbangga, SPPG Wonosari 2 Siap Pasok MBG Bagi Ibu Hamil, Menyusui, dan Balita

Kamis, 25 Sep 2025, 20:38 WIB

GUNUNGKIDUL — Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya diberikan kepada siswa sekolah saja, melainkan juga kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Kelompok penerima manfaat ini dikenal dengan 3B atau Bumil (ibu hamil), Busui (ibu menyusui), dan Balita Non PAUD. 

Dasarnya adalah Perjanjian Kerjasama antara Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN dengan Badan Gizi Nasional (BGN). Tujuannya untuk mencegah terjadinya stunting baru.

Ket. Foto: Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wonosari 2 Kabupaten Gunungkidul siap memasok makan bergizi gratis (MBG) bagi ibu hamil, menyusui, dan balita — Sumber: istimewa

Untuk memastikan kelancaran distribusi bagi sasaran 3B tersebut, Kepala Perwakilan BKKBN DI Yogyakarta, Mohamad Iqbal Apriansyah, bersama Ketua Tim Kerja dan Humas, Kamis (25/9), mengunjungi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wonosari 1 dan SPPG Wonosari 2.

Kedua SPPG yang terletak di Kabupaten Gunungkidul tersebut masing-masing memiliki kapasitas produksi 4.000 porsi dan melayani wilayah Kapanewon Wonosari.

SPPG Wonosari 1 yang berada di Dusun Tawarsari selain memasok MBG bagi siswa sekolah, juga melayani sasaran 3B, namun masih terbatas pada Balita Non PAUD saja dan belum melayani Busui dan Bumil. Dari kapasitas yang ada, saat ini SPPG tersebut memproduksi 2.840 porsi, termasuk untuk 132 balita.

“Sejak Maret kami telah mendistribusikan MBG kepada balita di wilayah kami. Namun demikian, kami saat ini sedang mendata Bumil dan Busui agar juga bisa segera kami siapkan dan distribusikan MBG untuk melaksanakan kerjasama BGN dengan BKKBN,” ujar Kepala SPPG Wonosari 1 Hyndun Astry. 

Menanggapi Hyndun, Iqbal berpesan kepada Penyuluh KB Umi Wasriati agar membantu penyediaan data ibu hamil dan menyusui agar distribusi MBG bisa segera dilaksanakan bagi kelompok ini.

Mengenai kontrol kualitas produk makanan yang dihasilkan, Hyndun menjelaskan bahwa setiap bahan yang masuk dari supplier telah melalui pengecekan kualitas dan sortir barang satu demi satu. 

Selanjutnya, setelah diolah dengan peralatan yang bersih dan proses masak yang sehat, sebelum didistribusikan dilakukan uji organoleptik (uji menggunakan panca indra) oleh Ahli Gizi untuk memastikan tidak ada indikasi penurunan kualitas atau indikasi basi.

Setelah melalui proses distribusi kepada balita, kader Posyandu yang menerima juga dibekali pengetahuan uji organoleptik untuk kembali melakukan penilaian produk sebelum akhirnya sampai dan dikonsumsi sasaran.

Sementara SPPG Wonosari 2 yang terletak di Dusun Jeruksari hampir mencapai full kapasitas produksi dengan melayani 3.585 siswa dan 355 bumil, busui, dan balita. Faizal, Kepala SPPG tersebut menjelaskan bahwa MBG diberikan bagi balita yang berumur 1-3 tahun dan di atas 3 tahun namun tidak tergabung di PAUD.

“Karena untuk PAUD sudah termasuk sasaran kami,” jelas Faizal. Sedang usia di bawah 1 tahun tidak diberikan MBG karena pada usia tersebut pencernaan bayi masih sensitif dalam memproses makanan pendamping ASI. 

“Keluhan yang sering kami terima terkait variasi sayur, yang kami upayakan sebisa mungkin membuat berbagai variasi dengan bahan yang ada,” ahli gizi Maya memberikan penjelasan. 

Sedangkan keluhan masakan agak anyep atau kurang mantab rasanya, menurut Maya, karena SPPG sangat membatasi penambahan penyedap rasa untuk menghadirkan menu yang sehat. 

  • Gunungkidul
  • Program Makan Bergizi Gratis
  • Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)
  • Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.