- Home
-
- Megapolitan
-
- Jakarta Incar Status Kota ...
Jakarta Incar Status Kota Sinema UNESCO, Industri Film Lokal Terus Bergeliat
Selasa, 23 Sep 2025, 19:30 WIBJAKARTA â Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menegaskan bahwa ibu kota saat ini masih berproses untuk meraih status sebagai kota sinema UNESCO. Tahapan yang tengah dijalani adalah melengkapi berbagai dokumentasi yang diperlukan untuk pengajuan.
"Jakarta sudah layak menjadi kota sinema, dan kami bersama Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO sedang melengkapi untuk dokumentasi Jakarta menjadi kota sinema dalam konteks UCCN, yakni The UNESCO Creative Cities Network," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta Andhika Permata di Jakarta, Selasa.
Andhika menyampaikan hal itu dalam acara dialog bertajuk JEF Dialogue: Unlocking Jakartaâs Potential Through Tourism and Creative Economy. Ia mengingatkan, Jakarta sebelumnya sudah mendapat pengakuan UNESCO sebagai city of literature pada 2020.
Status kota sinema masuk dalam visi besar Jakarta untuk menjadi pusat industri kreatif, khususnya perfilman. Kota ini diharapkan tumbuh sebagai pusat produksi film dan ekonomi kreatif di tingkat nasional maupun internasional.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Pemprov DKI aktif memfasilitasi para sineas lokal maupun internasional agar dapat melakukan syuting di Jakarta. Salah satu dukungan itu diwujudkan melalui platform bernama Filming in Jakarta.
"Jakarta akan bantu berbagai fasilitasi untuk syuting di Jakarta, kami memiliki platform namanya Filming in Jakarta," ujar Andhika.
Selain mempermudah izin syuting, Pemprov DKI juga fokus membangun ekosistem kondusif bagi pertumbuhan industri film. Ekosistem ini diharapkan mampu memperkuat daya saing Jakarta dalam peta perfilman global.
Andhika menegaskan bahwa geliat industri film di Jakarta terus meningkat dari tahun ke tahun. Data 2024 mencatat lebih dari 42.000 judul film masuk ke Lembaga Sensor Film untuk proses penilaian.
"Artinya, film Indonesia bergeliat. Kemudian, 285 judul lulus sensor. Yang menjadi hal menarik, terdapat 141 rumah produksi yang 80 persen berdomisili Jakarta," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa produksi film tidak hanya melahirkan karya kreatif, tetapi juga membuka banyak lapangan kerja. Rata-rata, satu produksi film mampu menyerap 100 hingga 150 tenaga kerja selama enam bulan masa syuting.
"Bayangkan, yang punya Hotel Tavia Heritage, jadi kalau syuting di Jakarta stay-nya di hotel enam bulan, bayangkan demand creation-nya," tutur Andhika.
Dengan berbagai potensi ini, Pemprov DKI optimistis Jakarta dapat meraih pengakuan sebagai kota sinema UNESCO. Status tersebut dinilai akan semakin menguatkan posisi Jakarta di kancah industri film global.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Normalisasi Kali Cakung Lama Ditarget Selesai 2028, Diproyeksi Redam Banjir 20 Persen
-
Progres LRT Jakarta Velodrome–Manggarai 97,9 Persen, Siap Operasi Akhir Agustus
-
Lantik 1.500 Pengurus FUHAB, Gubernur Pramono Tekankan Pentingnya Toleransi
-
Batal Rilis 26 Agustus, Ini Rincian Rute LRT Kelapa Gading-Manggarai yang Disempurnakan
-
Arah Kebijakan MUI DKI 2025–2030 Resmi Didukung Pemprov DKI Jakarta
-
Beijing Ditetapkan sebagai Ibu Kota Arsitektur Dunia UNESCO-UIA 2029
-
FIFA ASEAN Cup 2026: Pemprov DKI Siapkan Lapangan Soemantri dan Banteng
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.