Anggaran Rp112 Juta Boyolali Viral, Isi Bangunan Mirip Toilet Itu Bikin Melongo!

Senin, 22 Sep 2025, 12:28 WIB
Boyolali — Sebuah bangunan berukuran mungil di tengah hamparan sawah di Desa Gagaksipat, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, mendadak viral di media sosial. Bangunan yang sekilas mirip toilet umum itu menjadi sorotan setelah sebuah prasasti mencantumkan biaya pembangunan yang fantastis, mencapai Rp112,8 juta. Warganet ramai mempertanyakan mengapa bangunan berukuran sekitar 1,5 x 1,5 meter itu membutuhkan biaya yang begitu besar.
Sorotan publik ini memaksa Pemerintah Kabupaten Boyolali untuk memberikan klarifikasi. Sekretaris Dinas Pertanian Boyolali, Retno Nawangtari, menjelaskan bahwa anggaran sebesar Rp112,8 juta tersebut bukan hanya diperuntukkan bagi bangunan fisik yang viral. Anggaran itu, tegas Retno, digunakan untuk seluruh rangkaian proyek irigasi perpompaan, yang dananya bersumber dari bantuan pemerintah pusat tahun anggaran 2024.
Dalam keterangannya, Retno merincikan bahwa biaya terbesar dari proyek ini adalah untuk pembuatan sumur bor. "Anggaran Rp112 juta itu bukan untuk bangunan kecil itu saja. Bangunan itu hanya rumah pompa. Paling banyak anggaran untuk pembuatan sumur dalam," ujar Retno, menjelaskan kompleksitas proyek tersebut.
Selain sumur bor yang dalam, anggaran tersebut juga mencakup pembelian mesin pompa air, instalasi jaringan pipa berukuran besar untuk mendistribusikan air ke sawah, serta pemasangan jaringan listrik yang menyuplai daya untuk operasional mesin pompa. Dengan total biaya tersebut, program irigasi perpompaan ini diharapkan mampu mengairi lahan pertanian seluas 10 hektare.
Di lokasi proyek, tim media mendapati bangunan kecil yang viral itu dalam kondisi tergembok. Di sampingnya, terlihat jelas perangkat sumur bor, jaringan pipa, dan tiang listrik yang mendukung keseluruhan sistem. Keberadaan komponen-komponen ini menegaskan bahwa bangunan tersebut hanyalah bagian kecil dari proyek yang lebih besar dan vital bagi pertanian di wilayah tersebut.
Proyek irigasi perpompaan sendiri merupakan salah satu program pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan, terutama di daerah yang pasokan airnya terbatas. Dengan sistem ini, air dari sumber seperti sungai atau mata air dapat dipompa dan dialirkan ke lahan pertanian, sehingga petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada curah hujan. Manfaatnya pun beragam, mulai dari meningkatkan produktivitas panen hingga menjamin ketersediaan air saat musim kemarau.

Redaktur: Andriani Nuraini

Penulis: Andriani Nuraini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.