Pulau Pasoso, Rumah Penyu di Tepi Laut Sulawesi
Jumat, 19 Sep 2025, 07:44 WIBTERLETAK di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, sekitar enam puluh kilometer dari Kota Palu, Pasoso bukan sekadar pulau tropis dengan air laut sebening kaca. Ia adalah rumah bagi penyu hijau yang datang setiap tahun untuk bertelur.
Di Pasoso saat malam tiba, wisatawan bisa menyaksikan momen langka yang menjadi pengalaman seumur hidupnya. Penyu yang menepi dari arah laut perlahan-lahan merayap ke darat, menggali pasir, lalu bertelur menitipkan generasi baru di jantung pulau ini.
Sedangkan di pagi hari, tukik-tukik kecil yang baru menetas berusaha kembali ke laut, sebuah ritual kehidupan yang mengingatkan wisatawan betapa rapuh sekaligus kuatnya alam ini. Dari sini mendapatkan manusia ilmu tentang perlunya pelestarian penyu.
Para ahli berpendapat dari 1000 tukik hanya akan ada 1 tukik yang mampu bertahan hidup hingga dewasa. Padahal penyu memiliki peran ekologis sebagai pemangsa ubur-ubur, dan ledakan jumlah ubur-ubur bisa berdampak buruk bagi lingkungan.
Itulah mengapa, pulau yang secara administratif yang terletak dalam wilayah administrasi Desa Manimbaya, Kecamatan Balaesang Tanjung, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah ditetapkan masuk dalam kawasan suaka margasatwa pada tahun 1989 untuk perlindungan penyu. Kawasannya seluas 200 hektar termasuk kawasan pantai di Tanjung Manimbaya yang pengelolaannya di bawah Balai Konservasi Sumber Daya Alam.
Secara alami Pulau Pasoso memang ditakdirkan menjadi habitat penyu. Namanya saja berasal dari bahasa Kaili yang berarti âmenghisap telur penyu.â Istilah ini mirip dengan bahasa Bajo yang juga artinya adalah sosot-mensosot atau âdiisap telur penyu.â
Bukan hanya di pantainya yang berpasir putih bersih, kawasan bawah airnya juga sangat menawan. Bagi para pecinta laut, Pulau Pasoso menyuguhkan dunia bawah air yang memesona, kaya dengan keragaman biota. Di sini segala macam ikan karang tersaji dengan lengkap.
Terumbu karang berwarna-warni, ikan tropis yang berlarian di sela karang, dan kejernihan air menjadikan snorkeling maupun diving pengalaman yang tak terlupakan. Sementara itu, bagi pecinta ketenangan, pulau tak berpenghuni ini menawarkan ruang refleksi: hanya ada angin, debur ombak, dan hamparan langit malam bertabur bintang.
Namun, keindahan itu perlu didukung dengan sikap yang amanah. Pulau Pasoso adalah kawasan konservasi, dan setiap pengunjung diajak menjaga kelestariannya. Mereka diminta untuk tidak meninggalkan sampah, tidak mengganggu penyu, serta menghormati alam, sebagai syarat mutlak untuk tetap bisa menikmati anugerah ini.
Mengamati Penyu
Ada berbagai aktivitas yang bisa dilakukan di Pasoso. Salah satu pembeda pulau ini dengan yang lainnya adalah ada penyu yang hidup di sini. Seperti diketahui tukit betina ketika dewasa akan akan kembali ke tempatnya berasal. Artinya penyu akan kembali ke tempat ia dilahirkan atau juga tempat induknya bertelur.
Inilah pentingnya konservasi penyu di Pulau Pasoso. Karena pulau ini sejak lama menjadi tempat bagi penyu untuk bertelur dan menetas menjadi tukik. Wilayahnya yang jauh dari gangguan manusia menjadikannya ideal untuk melanjutkan keturunan
Salah satu yang bisa dilakukan adalah pengamatan penyu. Sebagai kawasan konservasi penyu, menawarkan pengalaman unik untuk mengamati penyu hijau, terutama saat mereka datang bertelur di pantai. Pengunjung bisa menyaksikan momen berharga tersebut langsung dari pantai.
Dikelilingi oleh terumbu karang, Pulau Pasoso juga menjadi destinasi yang cocok untuk snorkeling dan menyelam. Air laut yang jernih menawarkan pengalaman snorkeling dan menyelam yang menakjubkan.
Wisatawan dapat menjelajahi keindahan dunia bawah laut dan menikmati pemandangan terumbu karang serta beragam spesies laut tanpa gangguan. Air lautnya yang sebening kaca membuat visibilitasnya di sini sangat baik.
Salah satu spot terbaik di sini adalah sebuah area dengan karang dangkal di tepi pulau. Masyarakat setempat menyebutnya Parumbia. Dari spot ini wisatawan bisa membuktikan keanekaragaman hayati bawah lautnya.
Di Pulau Pasoso pengunjung bisa berkemah dan piknik. Terkenal pantai pasir putihnya yang indah dan hamparan pohon kelapa merupakan tempat yang sempurna untuk berkemah atau piknik bersama keluarga dan teman-teman.
Bagi pecinta fotografi pulau tersebut menjadi objek luar biasa karena pemandangan yang spektakuler. Mulai dari matahari terbit dan tenggelam yang indah, hingga kehidupan laut yang mempesona, semua dapat menjadi subjek foto yang mengagumkan.
Bagi yang ingin lepas dari rutinitas dan sejenak mengasingkan diri untuk menikmati ketenangan Pasoso pilihan tepat. Tempat yang berjarak menawarkan suasana tenang dan damai, jauh dari kebisingan kota, membuatnya merupakan tempat yang ideal untuk âme timeâ atau meditasi.
Betapa tidak jarak terdekat ke Pulau Pasoso adalah di Desa Awesang, Kecamatan Balaesang Tanjung. Jarak yang dibutuhkan untuk mencapai desa ini sekitar 2 jam perjalanan dengan menggunakan kapal kayu. Dewa Awesang merupakan lokasi untuk menyeberang ke Pulau Pasoso.
Namun selain dari Desa Awesang, Pulau Pasoso juga dapat ditempuh melalui beberapa jalur. Jalur utama adalah melalui desa Tambu di Kecamatan Balaesang yang berjarak 108 km di utara kota Palu. Selanjutnya perjalanan akan dilanjutkan dengan perahu motor selama satu jam. Jalur lainnya adalah dari Tanjung Karang dan merupakan jalur pariwisata.
Meskipun menyuguhkan berbagai aktivitas yang menarik, perlu diingat bahwa fasilitas di Pulau ini masih terbatas. Sehingga, pengunjung disarankan untuk membawa keperluan mereka sendiri, termasuk peralatan snorkeling atau menyelam jika berniat untuk menjelajahi keindahan bawah lautnya.
Alamnya yang masih terjaga dan statusnya yang berada di kawasan cagar alam menjadikan Pulau Pasoso sebuah destinasi yang bukan hanya tentang berwisata, melainkan juga tentang belajar mencintai dan merawat kehidupan. hay
- Pulau Pasoso, Rumah Penyu
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.