Dukungan Pembiayaan Pemerintah Makin Gairahkan Sektor Riil
Rabu, 17 Sep 2025, 01:15 WIBJAKARTA - Penempatan dana Pemerintah di bank-bank milik negara (Himbara) akan memberi multiplier effect ke perekonomian, jika bank penerima bentul-betul menjalankan amanah dengan menyalurkannya ke sektor produktif.
Pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Maruf mengatakan penempatan dana besar itu tidak otomatis mampu mendorong sektor riil secara berkelanjutan. Sebab, kunci utamanya adalah pada perbaikan daya saing ekonomi dan iklim investasi nasional.
âSektor riil baru akan bergerak jika pelaku usaha merasa yakin bahwa tata kelola dan iklim investasi benar-benar kondusif,â kata Maruf.
Sektor riil katanya akan tumbuh apabila pencairan dana dari perbankan benar-benar tersalurkan ke industri dan dunia usaha.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri sebagai regulator perbankan menilai kebijakan Pemerintah menempatkan dana 200 triliun rupiah pada lima bank Himbara dapat memperkuat likuiditas perbankan nasional sekaligus membuka ruang lebih luas bagi penyaluran kredit.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar seusai rapat bersama Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Selasa (16/9) mengatakan guyuran dana tersebut langsung berdampak pada dua aspek penting, yakni likuiditas dan kemampuan bank menyalurkan pinjaman.
âRasionya antara alat likuid dengan dana pihak ketiga (AL/DPK) itu sebelumnya berada di bawah 20 persen, dengan adanya kemasukan dana 200 triliun rupiah ini sekarang sudah berada di atas 20 persen, dan memang 20 persen itu threshold yang baik untuk mengukur likuiditas dalam AL/DPK,â kata Mahendra.
Selain itu, penempatan dana Pemerintah itu juga memperbaiki rasio kredit terhadap DPK (loan to deposit ratio/LDR) perbankan. Ia mengatakan beberapa Himbara sebelumnya mencatat LDR di atas 90 persen, namun dengan tambahan dana pemerintah kini turun di bawah 90 persen. Sedangkan, secara keseluruhan rasio LDR perbankan per Juli 2025 berada di level 86,54 persen.
Dia juga yakin, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) bank Himbara bakal tetap terjaga.
âIni pada gilirannya akan diserahkan kepada bank untuk menilai (penyaluran kredit) mana yang baik untuk bisa dilakukan,â kata Mahendra.
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini mengaku mendukung penuh langkah Pemerintah dalam memperkuat perekonomian nasional melalui penempatan dana sebesar 55 triliun rupiah di bank tersebut.
Penempatan dana itu jelas Novita menjadi bagian dari strategi Pemerintah bersama bank-bank Himbara untuk menjaga likuiditas perbankan tetap kuat, memperperat sinergi strategis dalam akselerasi pembiayaan sektor riil, dan menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Tambahan likuiditas memberi ruang lebih besar bagi perseroan untuk menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas yang mendukung agenda pembangunan nasional.
âDengan tambahan 55 triliun rupiah, kapasitas pembiayaan kami semakin kuat untuk menopang sektor-sektor produktif yang meningkatkan daya saing ekspor dan memperluas lapangan kerja, sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan,â kata Novita.
Bank Mandiri pun berkomitmen menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor strategis seperti perkebunan dan ketahanan pangan, hilirisasi Sumber Daya Alam dan energi terbarukan, infrastruktur, layanan kesehatan, manufaktur, kawasan industri, serta Usaha Mikro Kecil dan Menengah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Bank Mandiri katanya secara bank only mencatat pencairan kredit untuk nasabah baru rata-rata 24,63 triliun rupiah dari total 45 triliun rupiah per bulan, yang menunjukkan tingginya minat pembiayaan dan potensi pertumbuhan sektor riil di tengah dukungan kebijakan Pemerintah.
Perseroan jelasnya telah menyalurkan pembiayaan sebesar 960,2 triliun rupiah ke sektor riil berorientasi ekspor dan padat karya, atau 71,88 persen dari total portofolio. Capaian itu menegaskan peran Bank Mandiri sebagai agen pembangunan dan mitra Pemerintah dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Apalagi, seluruh pembiayaan tetap dijalankan dengan prinsip kehati-hatian.
Memacu Penyaluran Kredit
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa meyakini penempatan dana itu bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lewat likuiditas sistem keuangan. Dari pengalaman sebelumnya, kebijakan serupa mampu menggerakkan kredit sekaligus menjaga keseimbangan antara sisi permintaan dan penawaran.
âJadi, ketika uang bertambah ke sistem, dua sisi akan bergerak. Yang pertama sebenarnya likuiditas bertambah kan. Itu otomatis pelan-pelan bunga di pasar akan turun. Tadinya orang menaruh uang di bank senang, karena bunganya tinggi pasti akan turun karena banknya juga kelebihan duit,â kata Purbaya.
Pengamat Kebijakan Publik Fitra, Badiul Hadi mengatakan, penempatan dana pemerintah di Himbara memang langsung memperkuat likuiditas perbankan seperti ditunjukkan naiknya rasio AL/DPK di atas ambang aman 20 persen.
âDengan likuiditas yang lebih longgar, bank punya ruang lebih luas menyalurkan kredit ke sektor riil, terutama UMKM, infrastruktur, dan sektor prioritas. Hal ini sejalan dengan tujuan menjaga stabilitas sistem keuangan,â katanya.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
LG Batal Investasi di Indonesia untuk Baterai Kendaraan Listrik, BKPM Jajaki Kerja Sama dengan Huayou
-
Nahas! Niat Bersihkan Sumur Seorang Warga Malah Tewas, Basarnas Jambi Berhasil Evakuasi Korban
-
Presiden Prabowo Sambut Tahun Baru 2026 Bersama Pengungsi Korban Bencana
-
Dukung Stimulus Ekonomi Pemerintah, ASDP Berikan Diskon Tarif Pelabuhan hingga 100 Persen
-
RUPST Bank bjb Sepakat Bagikan Dividen Rp896,95 Miliar, Per Saham Dapat 65,50 Persen
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.