Sprinter Putra Jamaika Muncul Lagi

Selasa, 16 Sep 2025, 00:56 WIB

TOKYO – Pelari Jamaika Oblique Seville akhirnya menepati janji besarnya. Sprinter  berusia 24 tahun itu merebut gelar juara dunia nomor 100 meter putra, Minggu (14/9) malam waktu setempat. Dia mengakhiri penantian satu dekade negeri Karibia itu sejak era Usain Bolt. Seville mencatat waktu 9,77 detik. Dia menyingkirkan nama-nama besar seperti Noah Lyles asal Amerika Serikat, juara bertahan dunia sekaligus peraih emas Olimpiade, serta rekan senegaranya, Kishane Thompson.

Kemenangan ini sebenarnya bukan kejutan. Seville sudah lama ditempa di lintasan, bahkan tumbuh dengan sosok Bolt sebagai panutan. “Sejak ayah meninggal, Usain menjadi motivator saya,” ujar Seville. Perjalanan menuju podium dunia tidaklah mulus. Di Olimpiade Tokyo 2021, dia hanya sampai semifinal.

Ket. Foto: Oblique — Sumber: ist

Dua tahun berturut-turut di Kejuaraan Dunia 2022 dan 2023, Seville finis di posisi keempat. “Dari situ saya belajar. Lawan-lawan sangat kuat. Jadi, saya harus memaksimalkan kemampuan. Selama ini cedera membuat saya tidak pernah benar-benar bugar,” ucapnya.

Seville dibesarkan di daerah pedesaan Ness Castle. Jalanan rusak dan fasilitas terbatas tak menghalangi masa kecilnya yang diwarnai sepak bola, kriket, hingga berenang di sungai. Namun lintasan atletiklah yang menjadi jalannya. Dia menimba ilmu di Calabar High School, sekolah yang juga melahirkan banyak sprinter ternama.

Kini, Seville ditangani pelatih legendaris Glen Mills, sosok yang membimbing Bolt meraih 11 emas dunia dan delapan emas Olimpiade. “Sejak kecil saya ingin dilatih Coach Mills. Sekarang impian itu jadi kenyataan,” kata Seville. Bolt pun masih sesekali hadir di sesi latihan, memberi wejangan singkat namun berharga.

Bagi Jamaika, kemenangan Seville menjadi penanda kebangkitan. Kali terakhir sprinter putra negera itu juara dunia ialah Bolt pada 2015. “Kami generasi muda,  saya, Ackeem Blake, Kishane Thompson. Semuanya di bawah 25 tahun. Sementara pelari Amerika sudah di atas 25. Masa depan ada di tangan kami,” tegasnya.

Di sektor putri, Amerika Serikat juga meraih kejayaan lewat Melissa Jefferson-Wooden. Atlet 24 tahun itu memecahkan rekor kejuaraan dengan 10,61 detik, catatan tercepat ketiga sepanjang sejarah, untuk merebut emas pertamanya. Jamaika masih menancapkan kuku dengan Tina Clayton yang meraih perak (10,76 detik), disusul juara Olimpiade Julien Alfred (10,84).

Legenda Jamaika, Shelly-Ann Fraser-Pryce, menjalani final dunia terakhirnya di nomor individu. Berambut dicat warna bendera nasional, sprinter 38 tahun itu finis keenam. “Saya senang gantung sepatu dengan cara saya sendiri,” ujarnya.

Di luar lintasan sprint, drama juga tersaji di nomor maraton. Pelari Tanzania, Alphonce Felix Simbu, meraih emas setelah menyalip Amanal Petros dari Jerman di garis akhir dengan catatan sama, 2 jam 09 menit 48 detik. Perunggu menjadi milik Iliass Aouani dari Italia. 

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.