Menanti Keputusan The Fed, Senin 15 September 2025
Senin, 15 Sep 2025, 08:30 WIBJAKARTA - Rupiah diperkirakan bergerak mendatar pada awal pekan ini dengan potensi pelemahan yang masih terÂbuka. Pergerakan rupiah dipengaruhi sikap investor yang cenÂderung wait and see atau menantikan keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed dan Bank Indonesia (BI).
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede melihat sepekan ke depan rupiah bakal dipengaruhi keputusan raÂpat The Fed. Selain itu, data ekonomi global yang akan rilis juga akan memengaruhi pergerakan rupiah, penjualan ritel AS. Jika penjualan ritel menguat, peluang dollar menguat makin besar, sehingga menekan rupiah.
Dari dalam negeri, lanjutnya, investor menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 17 September menÂdatang. BI diprediksi bakal mempertahankan kebijakan suku bunga acuannya. Josua memproyeksikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang anÂtarbank, Senin (15/9), bergerak sideways di kisaran 16.300â 16.450 rupiah per dollar AS.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada penutupan perdaÂgangan, Jumat (12/9) sore, menguat sebesar 87 poin atau 0,53 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.375 rupiah per dollar AS.
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange ICDX Taufan Dimas Hareva menilai penguatan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi langkah pemerintah menyalurkan dana negara ke perbankan.
âSentimen positif datang dari langkah pemerintah meÂnyalurkan dana negara ke perbankan, dengan tujuan memÂperkuat likuiditas dan mendorong ekspansi kredit,â ujarnya di Jakarta.
Menteri Keuangan (Menkeu) RI Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah menyalurkan dana sebesar 200 triliun rupiah dari Bank Indonesia (BI) ke enam bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mulai hari ini. Meski tidak merinci seluruh nama bank penerima, dia menyebut dua di antaranya merupakan bank syariah, salah satunya Bank Syariah Indonesia (BSI).
Saat ini, bank yang tergabung dalam Himbara yakni Bank Mandiri, BRI, BTN, BNI, BSI dan Bank Syariah NasioÂnal (BSN) yang merupakan spin-off BTN Syariah.
Pembagian dana tersebut nantinya takkan dilakukan seÂcara merata, dan akan dicairkan segera pascapenandatanÂganan yang dilaksanakan malam ini.
Purbaya menegaskan dana tersebut tidak boleh dipaÂkai untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Dengan tamÂbahan likuiditas tersebut, lanjut Menkeu, bank bakal terdoÂrong menyalurkan kredit agar tidak menanggung kerugian akibat biaya dana yang mengendap.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
Pengamat: Roblox dan YouTube Wajib Patuhi Aturan Perlindungan Anak di Ruang Digital
-
Psikolog: Korban Kecelakaan KA Berisiko Alami Gangguan PTSD, Trauma Healing Penting!
-
Pelemahan Rupiah Uji Ketahanan Likuiditas Perbankan Syariah
-
Perkuat Energi Hijau untuk Tarik Investasi Global
-
Hasil Piala Jerman: Bayern Muenchen ke Final Usai Singkirkan Bayer Leverkusen 2-0
-
BI Ungkap Kinerja QRIS Global di Bali, Nilainya Cukup Fantastis
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.