Paradoks, Ketika Swasembada Hampir Tercapai, Harga Beras Tetap Tinggi
Jumat, 12 Sep 2025, 01:05 WIBJAKARTA - Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) memprediksi swasembada beras dapat tercapai pada tahun ini atau lebih cepat dari target yang dicanangkan sebelumnya pada 2027.Â
Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwijono Hadi Darwanto, menilai secara kuantitas target tersebut memang memungkinkan untuk dicapai. Dari target sekitar 4,4 juta ton panen padi pada musim gadu tahun ini, realisasinya sudah mencapai kurang lebih 3,3 juta ton.
âSecara kuantitas, swasembada mungkin saja akan terjadi. Panen gadu ini cukup besar, dan bila serapan gabah berjalan lancar, target bisa tercapai,â kata Dwijono di Yogyakarta, Kamis (11/9).
Namun, ia mengingatkan bahwa capaian kuantitas tidak serta-merta menjamin kestabilan harga. Justru di lapangan terjadi paradoks, ketika swasembada hampir tercapai, harga beras tetap tinggi. âParadoksnya, mengapa saat swasembada harga justru tinggi?â kata Dwijono.
Ia menuturkan, salah satu penyebabnya adalah proses serapan gabah oleh Bulog yang masih berjalan lambat. Banyak gabah yang diserap berkualitas kurang baik sehingga tidak memenuhi syarat giling. Akibatnya, beras di pasaran berkurang sementara gabah menumpuk di gudang tanpa segera diproses.
âDampaknya aneh, ketika swasembada tercapai, harga beras di pasar malah naik. Hal ini karena Bulog agak lambat memproses gabahnya sehingga harga beras terus naik,â tegasnya.
Selain masalah keterlambatan, Dwijono juga menggarisbawahi persoalan kualitas beras yang beredar. Ia menilai beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang disalurkan Bulog mutunya sudah menurun.
âMutunya kurang baik, banyak butir kuning. Diperkirakan stok di Bulog sekarang hampir 300 ribu ton yang berpotensi rusak atau busuk bila tidak segera digiling,â jelasnya.
Stok gabah yang terlalu lama menumpuk di gudang tambahnya akan memperbesar risiko penurunan kualitas, terutama di tengah kondisi cuaca yang lembab. Jika kualitas gabah menurun, maka beras yang dihasilkan juga tidak mampu bersaing di pasar dan justru bisa memperburuk persepsi konsumen terhadap program stabilisasi pangan.
Karena itu, Dwijono menekankan pentingnya Bulog lebih selektif dan cepat dalam menyerap gabah petani agar kualitas tidak merosot dan harga beras di pasaran tetap terkendali. âSemoga serapan gabah musim ini tidak multi kualitas seperti sebelumnya,â pungkas Dwijono.
Lahan Tidur
Deputi Bidang Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan Nani Hendiarti mengatakan tercapainya swasembada pangan, khususnya beras, pada tahun ini berkat program ekstensifikasi lahan dan kebijakan percepatan pembangunan kawasan pangan.
Pemerintah menekankan pemanfaatan lahan tidur sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas produksi nasional, sehingga ketersediaan pangan dapat terpenuhi tanpa bergantung pada impor.
Selain meningkatkan produksi, pemerintah juga menaruh perhatian serius pada dampak perubahan iklim, dengan memastikan ketahanan pangan tetap terjaga meski menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.
Program ekstensifikasi dijalankan dengan prinsip ramah lingkungan, memastikan pembangunan sistem pangan tetap memperhatikan tata guna lahan, restorasi, dan keberlanjutan ekosistem pertanian secara nasional.
- Ketahanan pangan
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Gubernur Khofifa Bangga, Jatim Pertahankan Juara Umum OPSI 2025
-
Ujian Berat Juventus Hadapi Dortmund di Laga Pembuka Liga Champions
-
OJK Dukung Langkah Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Bangun Ekonomi dan Ketahanan Pangan
-
Wamen PPPA Panen Padi Bersama Masyarakat di Buleleng
-
10,8 Juta Rumah Tangga Berpeluang Dapat Internet Murah pada 2030, Bagaimana Caranya?
-
Bermitra dengan Kadin Indonesia, SCMP Hadirkan China Conference Southeast Asia 2026
-
Termasuk Jakarta! BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang Ancam Indonesia Seminggu Kedepan, Awas Potensi Bencana!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.