Jalur Lingkar Kaldera Tengger Ditata, Pariwisata Bromo Semeru Tak Hanya Indah tapi Juga Berbudaya
Jumat, 12 Sep 2025, 21:40 WIBMALANG â Penataan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) merupakan langkah strategis untuk memperkuat konektivitas destinasi wisata Bromo Tengger Semeru sekaligus meningkatkan daya saing pariwisata regional.
Dengan infrastruktur jalan yang lebih tertata, akses wisatawan akan semakin mudah, distribusi logistik lebih lancar, serta peluang ekonomi lokal, khususnya bagi pelaku UMKM dan jasa wisata, akan terbuka lebih lebar.
Selain fungsi ekonomi, penataan JLKT juga penting untuk aspek keberlanjutan. Jalur yang terkelola baik dapat mengurangi risiko kerusakan lingkungan akibat jalur liar, mengatur arus kendaraan agar tidak menimbulkan kemacetan, serta menjaga kelestarian kawasan konservasi.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengatakan penataan Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) dilakukan sebagai upaya memperkuat aspek kearifan lokal, konservasi dan pariwisata.
"Penataan bukan membangun konstruksi tapi menata jalur khusus yang dapat berjalan selaras dengan pelestarian alam dan pengembangan pariwisata berkelanjutan. Lalu, mengantisipasi rusaknya titik yang disakralkan oleh oleh Masyarakat Tengger," kata Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha di Kota Malang, Jawa Timur, Kamis (11/9).
Pola penataan JLKT itu pun, menurut dia, telah disetujui oleh para tokoh budaya Tengger melalui diskusi kelompok terarah (FGD) yang diselenggarakan, pada Selasa (9/9). Penataan dilakukan terintegrasi dengan penataan zonasi di kawasan TNBTS.
Rudi mengkhawatirkan ketika penataan tidak beriringan, maka hadirnya potensi mass tourism pada beberapa titik, seperti di savana dan lautan pasir justru akan berdampak negatif pada kelestarian lingkungan.
Kerusakan lingkungan yang di maksud, ia mengatakan seperti timbulnya degradasi terhadap potensi sumber daya alam, ekosistem, dan objek dengan daya tarik wisata alam.
Apalagi kawasan itu juga menjadi habitat beberapa flora dan fauna endemik, seperti anggrek tosari atau habenaria tosariensis, suket malelo atau styphelia javanica, dan ular bhumi tengger atau tetralepis frushtorferi, ujar dia.
"Jalur kendaraan wisata ditata rapi dengan tetap memperhatikan kaidah dan norma pengembangan sarana dan prasarana di kawasan konservasi," ujar dia.
Keberadaan, air Widodaren untuk ritual masyarakat Tengger dan sumber air dari Jantur yang digunakan oleh masyarakat Argosari perlu dilakukan pengelolaan komprehensif.
"Saat Hari Raya Yadnya Kasada semua berjalan kali menuju ke puncak Kawah Bromo dari Pura Luhur Ponten," katanya.
Kemudian, pola penataan JLKT turut dimaksudkan untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan wisatawan, salah satunya dengan menata warung pedagang kaki lima (PKL) sehingga memberikan kesan estetik bagi pengunjung.
Pihaknya turut mempertimbangkan pengaturan usaha piknik, yang dilakukan dalam bentuk menyediakan lokasi khusus dan pembatasan kuota.
"Akan ada spot untuk berjalan kaki dan foto, serta tempat parkir untuk jip, ada bahu jalan, pagar, pintu, dan lokasi darurat," ujar dia.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Tips Sukses Menjadi “Influencer”
-
Pemasangan patok di Jalur Lingkar Kaldera Tengger
-
Pemprov DKI Jakarta akan revitalisasi Blok M
-
Deeskalasi AS dan Tiongkok Diharapkan Bisa Akhiri Perang Dagang
-
Kunjungan wisata Bromo selama libur Lebaran
-
Dilengkapi Mesin Cuci Sprei Sutra, Khofifah Tingkatkan Fasilitas SMKN Sukapura Bromo Probolinggo
-
21.791 Wisatawan Kunjungi Bromo saat Libur Panjang Waisak 2025
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.