Produksi Migas Terus Turun, ESDM Andalkan Lelang September untuk Bangkit

Senin, 08 Sep 2025, 22:20 WIB

JAKARTA – Meningkatkan produksi migas nasional melalui mekanisme lelang blok migas menjadi langkah strategis untuk menjaga ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Dengan skema lelang yang transparan, kompetitif, dan menarik bagi investor, pemerintah dapat mendorong masuknya teknologi, modal, serta manajemen modern yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan eksplorasi dan produksi.

Ket. Foto: Ilustrasi - Anjungan Bronang (Bronang Platform) di Laut Natuna, Kepulauan Riau. — Sumber: Antara.

Hal ini penting mengingat cadangan migas Indonesia terus menurun sementara permintaan energi domestik terus tumbuh.

Selain memperkuat penerimaan negara melalui bagi hasil dan pajak, peningkatan produksi migas juga akan mendukung stabilitas harga energi dalam negeri dan memperkuat neraca perdagangan.

Karena itu, lelang blok migas bukan sekadar instrumen investasi, melainkan instrumen vital untuk menjaga kedaulatan energi nasional di tengah tantangan transisi energi global.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman berencana melelang tujuh wilayah kerja (WK) atau blok migas pada September, sebagai bagian dari pelelangan 75 blok migas hingga 2028.

“September ini, bila diizinkan Pak Menteri, ada 7 (blok) lagi (yang akan dilelang),” ucap Laode ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (8/9).

Rencana lelang blok atau WK migas tersebut merupakan langkah yang ditempuh oleh Kementerian ESDM untuk meningkatkan produksi migas nasional.

Laode menjelaskan bahwa rencana lelang 75 blok migas telah berlangsung sejak 2024. Pada 2024, lanjut dia, Kementerian ESDM sudah melelang 9 blok migas. Kemudian, untuk 2025, Kementerian ESDM sudah menyiapkan 17 blok migas untuk dilelang.

“Tiga sudah buka lelang pas Indonesian Petroleum Association (IPA) Covex (Convention & Exhibition),” ucapnya.

Adapun ketiga blok migas tersebut meliputi blok Gagah yang berlokasi di daratan Sumatera Selatan dengan estimasi sumber daya minyak sekitar 173 juta barel minyak (MMBO) dan gas sekitar 1,1 triliun kaki kubik (TCF).

Kemudian, blok Perkasa yang berlokasi di lepas pantai Jawa Timur dengan estimasi sumber daya minyak sekitar 228 juta barel minyak (MMBO) dan gas sekitar 1,3 triliun kaki kubik (TCF).

Terakhir, blok Lavender yang berlokasi di daratan lepas pantai Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara dengan estimasi sumber daya gas sekitar 10 triliun kaki kubik (TCF).

Laode belum merinci 7 blok migas yang akan dilelang pada September. Akan tetapi, berdasarkan data yang dirilis pada IPA Convex, terdapat 11 blok migas yang akan dilelang pada 2025, di luar tiga blok migas yang sudah dilelang saat IPA.

Blok migas tersebut meliputi Meuseuraya, Jalu, Natuna D-Alpha, Kisaran Baru, Barong, Mabelo, Muara Tembesi, Southwest Andaman, Areca, Bruni, dan Carera.

“Jadi, 75 blok migas memang siap kami tawarkan, tetapi tahapannya (lelang) sudah dari tahun 2024,” kata Laode.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.