Oposisi Ajukan Mosi Pemakzulan bagi Presiden Macron

Senin, 08 Sep 2025, 02:30 WIB

PARIS - Pemimpin partai kiri jauh France Unbowed (LFI), Jean-Luc Melenchon, pada Sabtu (6/9) mengatakan pihak oposisi telah mengajukan mosi kepada parlemen untuk memakzulkan Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

“Dia harus mundur,” ujar Melenchon dalam konferensi pers di Kota Lille, Prancis utara.

Ket. Foto: Jean-Luc Melenchon — Sumber: AFP/SAMEER AL-DOUMY

Ia juga menyebut pemerintahan Perdana Menteri Francois Bayrou kemungkinan akan jatuh dalam pemungutan suara mosi percaya, Senin (8/9) dan menilai hal itu sebagai kemenangan rakyat.

Prancis kini menghadapi ketegangan politik yang semakin meningkat ketika Bayrou bersiap menghadapi pemungutan suara penting di Majelis Nasional.

Bayrou, yang pada Juli lalu memaparkan kerangka anggaran 2026, berupaya mendapat dukungan atas rencana penghematan hampir 44 miliar euro (sekitar Rp839,56 triliun) sebagai bagian dari upaya menekan utang publik Prancis yang kini mencapai 113 persen dari PDB.

Prancis juga memiliki salah satu defisit anggaran terbesar di Uni Eropa, yakni 5,8 persen.

Bayrou memperingatkan bahwa negara berada di ambang terlilit utang berlebihan dan menyerukan para anggota parlemen untuk memilih tanggung jawab daripada kekacauan.

Partai oposisi dari berbagai spektrum, mulai dari LFI, Partai Sosialis, hingga sayap kanan jauh National Rally (RN), menyatakan akan menolak pemerintahan Bayrou.

Negosiasi anggaran selama ini menjadi sumber utama ketegangan dalam politik Prancis.

Kegagalan mencapai kesepakatan terkait anggaran 2025 tahun lalu menyebabkan jatuhnya pemerintahan Michel Barnier pada Desember, setelah partai kiri dan kanan jauh bersatu mendukung mosi tidak percaya.

Pada Minggu (7/9) PM Bayrou mengatakan bahwa nasib Prancis dipertaruhkan dalam mosi tidak percaya yang akan datang, yang ia serukan untuk menyelesaikan kebuntuan anggaran walau ia diperkirakan akan kalah.

“Pemungutan suara di parlemen tidak semata akan menentukan nasib perdana menteri, tetapi nasib Prancis," kata Bayrou, 74 tahun, saat sesi wawancara dengan franceinfo, LCI, BFMTV, dan CNews. "Hari-hari mendatang sangat penting," imbuh dia

Bayrou menuduh beberapa kekuatan politik di Prancis, khususnya tokoh sayap kiri garis keras Jean-Luc Melenchon, ingin menebar kekacauan.

Mulai Senin, Bayrou berharap dapat mengadakan negosiasi dengan partai-partai oposisi asalkan mereka berkomitmen pada langkah-langkah penghematan untuk mengurangi utang Prancis. Namun, anggota oposisi mengatakan semua itu sudah terlambat. Ant/AFP/Anadolu/I-1

  • emmanuel macron

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.