Rokok Tier-2 Makin Diminati, Gerus Margin Produsen Besar

Minggu, 07 Sep 2025, 00:13 WIB

Koran-jakarta.com - Pola konsumsi masyarakat tampak bergeser secara masif, meninggalkan rokok-rokok "tier-1" atau premium yang telah lama menjadi ikon, seperti Djarum, Gudang Garam, Dji Sam Soe, A Mild, dan Wismilak, beralih ke merek-merek "tier-2" yang harganya jauh lebih terjangkau.

Saya menggunakan istilah tier-1 dan tier-2 untuk memudahkan pengklasifikasian saja, bukan bermaksud merendahkan merk tertentu.

Ket. Foto: Ilustrasi: rokok merk tidak terkenal, makin naik daun — Sumber: PNGTree

Akar pergeseran ini dapat ditelusuri pada sebuah persamaan ekonomi sederhana yang pahit: harga rokok yang meroket tidak diimbangi dengan kenaikan daya beli masyarakat. Kebijakan kenaikan cukai hasil tembakau (CHT) yang diterapkan pemerintah setiap tahun secara agresif memang bertujuan untuk menekan prevalensi merokok. Namun, di tengah tekanan ekonomi global, inflasi, dan stagnasi upah, dampaknya justru memicu perubahan perilaku yang tidak sepenuhnya diharapkan: downtrading atau penurunan tingkat konsumsi.

Masyarakat tidak serta merta berhenti merokok, tetapi mereka mencari alternatif yang lebih murah. Harga sebungkus rokok premium (tier-1) kini dengan mudah menembus Rp 25.000 hingga Rp 70.000. Bagi jutaan perokok dengan pendapatan yang ajeg atau bahkan menurun, angka ini sudah tidak masuk akal lagi. Akibatnya, mereka beralih ke rokok tier-2 yang harganya berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 15.000 per bungkus. Meski kerap disebut "rasanya tidak begitu enak" atau lebih keras, faktor harga menjadi penentu utama.

Rokok Merk Tidak Terkenal yang Mulai Naik Daun

Merek-merek seperti Apache, Win, dan Tentrem dari Jawa Timur, Kopi Mas dari Madura, kemudian rokok merk Sukun, Raven, dan Probo dari Jawa Tengah, serta Mencos, dan Arja dari Jawa Barat saat ini makin naik daun. Mereka menawarkan solusi keuangan bagi para perokok yang kecanduan namun terjepit secara ekonomi. Popularitas mereka meroket, terutama di kalangan menengah ke bawah dan anak muda yang sensitif terhadap harga. Omset mereka dipastikan membesar secara drastis, merebut porsi pasar yang selama ini dikuasai oleh raksasa-raksasa industri.

Dampak dari pergeseran pasar ini sangat nyata dan langsung dirasakan oleh produsen rokok besar. PT Gudang Garam Tbk (GGRM), salah satu emiten rokok terbesar, baru-baru ini melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap ribuan karyawannya. Langkah ini secara terbuka diakui perusahaan sebagai strategi untuk mengoptimalkan efisiensi di tengah menurunnya volume penjualan dan beban operasional yang tinggi.

Kita ingat juga pada tahun lalu, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) juga telah melakukan langkah serupa dengan melakukan PHK besar-besaran, yang juga diduga kuat akibat penyusutan pasar untuk produk-produknya.

Ironi dibalik Perubahan Industri Rokok

Fenomena yang telah kita bahas diatas menunjukkan sebuah ironi. Pemerintah menaikkan cukai rokok, kebijakan fiskal yang bertujuan salahsatunya untuk kesehatan publik justru memicu dua dampak ekonomi yang kompleks: di satu sisi, industri besar terpukul dan harus melakukan efisiensi tenaga kerja, yang berpotensi menambah angka pengangguran. Di sisi lain, industri menengah (tier-2) justru mendapatkan angin segar, meskipun secara keseluruhan target pengendalian tembakau mungkin tidak tercapai secara optimal karena rokok tetap terjangkau dalam bentuk yang berbeda.

Kedepannya, pemerintah dan semua pemangku kepentingan perlu melihat fenomena ini secara holistik. Kebijakan cukai tidak bisa hanya melihat dampak kesehatan secara simplistik, tetapi juga harus mempertimbangkan dinamika pasar tenaga kerja, struktur industri, dan perilaku ekonomi masyarakat yang riil. Pergeseran dari rokok premium ke tier-2 adalah sinyal nyata bahwa beban ekonomi masyarakat sudah berada di titik kritis, dan mereka akan selalu mencari cara untuk mempertahankan kebiasaan, meski dengan mengorbankan kualitas dan memicu gelombang PHK di sektor industri.

Akhirnya dapat kami simpulkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, lanskap industri rokok Indonesia—negara dengan prevalensi perokok laki-laki tertinggi di dunia—sedang mengalami transformasi signifikan, perokok lebih memilih rokok mode-hemat, asal ngebul, dan ramai-ramai meninggalkan merk rokok terkenal yang kami sebut tier-1 karena faktor harga yang makin tak terjangkau serta tentunya faktor ekonomi si perokok yang sedang tidak baik-baik saja.(wwn).

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Winoto Wahyu

Berita Terbaru

DPR Sebut RUU Perampasan Aset Disusun dengan Hati-hati

Atasi Kebakaran Gambut di Kalimantan Barat, Wamen LH Diaz Hendropriyono Dorong Swasta Bangun Sekat Kanal

Resmikan RS Toto Tentrem, Gubernur Pramono Dorong Penguatan Layanan Stem Cell Jakarta

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

Udara Jakarta Terancam Polusi, Pramono Minta Masyarakat Hentikan Kebiasaan Bakar Sampah

Karhutla Makin Serius! Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Bantu Atasi Kebakaran

Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.