Rupiah Melemah, Terpukul Rencana Burden Sharing, Pasar Obligasi Kian Tertekan

Kamis, 04 Sep 2025, 18:50 WIB

JAKARTA - Pelemahan kurs rupiah terjadi seiring meningkatnya tekanan di pasar obligasi pemerintah, yang dipicu oleh rencana Bank Indonesia (BI) untuk kembali menerapkan skema burden sharing atau pembagian beban bunga dalam penyerapan obligasi negara. 

Skema ini menimbulkan persepsi hati-hati dari investor, karena berpotensi memengaruhi kredibilitas kebijakan moneter serta menambah risiko terhadap stabilitas fiskal. 

Ket. Foto: Ilustrasi - Uang kertas rupiah dan dolar AS. — Sumber: Antara.

Tekanan jual di obligasi mendorong kenaikan imbal hasil (yield), sehingga rupiah turut tertekan akibat aliran dana asing yang menurun. 

Dari sisi fundamental, pasar menilai langkah burden sharing penting untuk mendukung pembiayaan fiskal, namun dilema muncul karena dapat memunculkan keraguan atas independensi bank sentral. 

Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan BI menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembiayaan negara dan stabilitas pasar keuangan.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Kamis (4/9) sore, melemah sebesar 9 poin atau 0,05 persen menjadi Rp16.425 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.416 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Kamis (4/8), juga melemah ke level Rp16.438 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.424 per dolar AS.

Menurut Analis Bank Woori Saudara Rully Nova, penyebab utama pelemahan kurs rupiah karena tekanan di pasar obligasi pemerintah karena dampak dari rencana Bank Indonesia untuk sharing burden (pembagian beban bunga) terhadap penyerapan obligasi negara.

“Penyerapan obligasi negara yang diterbitkan pemerintah untuk pembiayaan program-program pemerintah seperti makan bergizi, rumah subsidi, kesehatan, pendidikan,” ucap dia.

“Sementara itu, faktor global seharusnya mendukung penguatan rupiah seiring meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga The Fed bulan ini,” ungkap Rully.

Sementara itu, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah yang terbatas pada Kamis sejalan dengan antisipasi investor menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS)

“Rupiah melanjutkan tren pergerakan yang terbatas pada perdagangan hari Kamis, sejalan dengan investor yang mengantisipasi data ketenagakerjaan AS di hari Jumat (5/9) dan juga antisipasi dari libur Maulid Nabi di hari Jumat (5/9),” kata Josua di Jakarta, Kamis.

Selama pekan ini, pelaku pasar akan menantikan data Purchasing Managers' Index (PMI) Jasa AS yang akan dirilis pada hari ini, serta data ketenagakerjaan atau Non-Farm Payrolls (NFP) AS pada Jumat (5/9).

Sepanjang pekan, kurs rupiah disebut sudah menguat 0,43 persen week to week, didukung pemulihan sentimen domestik pasca demonstrasi di Indonesia mereda.

Memasuki minggu depan, rupiah berpotensi menguat akibat ekspektasi deflasi AS, serta peningkatan angka pengangguran AS.

“Rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.325-16.450 per dolar AS,” ujar Josua.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.