Protes di Indonesia dan Krisis Politik Thailand Guncang Pasar Saham Asia Tenggara

Minggu, 31 Agu 2025, 16:30 WIB

JAKARTA — Meningkatnya aksi protes di Indonesia dan dinamika politik di Thailand memicu gejolak di pasar saham Asia Tenggara. Kedua negara yang menjadi pasar berkembang terbesar di kawasan ini menghadapi tekanan signifikan, baik dari sisi ekonomi maupun politik, yang berdampak langsung pada pergerakan indeks saham.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Indonesia anjlok 1,5% pada Jumat, menjadi penurunan terbesar di dunia di antara indeks nasional yang dipantau Bloomberg. Sementara itu, pasar saham Thailand juga merosot 1,1%, menempatkan negara tersebut dalam jajaran bursa yang paling terpuruk.

Ket. Foto: — Sumber: Bloomberg

Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, bahkan membatalkan rencana kunjungannya ke Tiongkok setelah pecah kerusuhan mematikan yang dipicu kenaikan biaya hidup dan ketimpangan ekonomi. Demonstran dilaporkan menargetkan rumah Menteri Keuangan serta sejumlah anggota parlemen. Di sisi lain, Thailand menghadapi ketidakpastian politik setelah Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra didiskualifikasi, memicu perebutan kursi kepemimpinan pemerintahan berikutnya.

Situasi ini muncul di tengah momentum positif bagi Asia Tenggara yang sebelumnya dipandang sebagai tujuan potensial bagi rotasi dana global. Valuasi saham yang relatif rendah dan prospek penurunan suku bunga seharusnya menjadi daya tarik utama, namun ketidakstabilan politik justru menambah risiko bagi investor.

“Risiko politik Indonesia akan meningkat, begitu pula premi risiko ekuitas,” kata John Foo, pendiri Valverde Investment Partners Pte. di Singapura. “Kami kurang memperhatikan Indonesia karena valuasinya tidak mencerminkan permasalahan mendasar dalam perekonomian.”

Thailand sendiri sudah lama menghadapi perpecahan politik yang membuat laju pertumbuhan ekonominya tertinggal dibandingkan negara pesaing di kawasan. Anutin Charnvirakul, tokoh politik konservatif, mengklaim pada Jumat malam bahwa dirinya telah mengantongi cukup dukungan dari parlemen untuk menjadi perdana menteri baru. “Negara tidak boleh berhenti total,” ujarnya.

Foo menilai prospek Thailand relatif lebih positif dibandingkan Indonesia. Ia menekankan valuasi yang rendah dan harapan adanya kebijakan baru dari pemerintahan yang akan terbentuk. “Pasar siap untuk pergantian PM di Thailand,” kata dia.

Menurut data Bloomberg, pasar saham Indonesia masih mencatatkan aliran dana asing bersih sebesar 676 juta dolar AS sepanjang Agustus. Sebaliknya, Thailand justru mencatat arus keluar modal sebesar 670 juta dolar AS pada periode yang sama. Sejak awal tahun, saham Thailand sudah turun sekitar 10%, sedangkan pasar saham Indonesia sempat naik 11% dan mencapai rekor tertinggi sebelum kerusuhan meluas.

Namun, analis Aletheia Capital, Nirgunan Tiruchelvam, menilai turbulensi yang terjadi saat ini tidak serta-merta mengubah prospek jangka panjang kedua negara. Menurutnya, pelonggaran kebijakan moneter dan valuasi yang menarik masih memberi alasan bagi investor untuk bertahan.

Di Indonesia, Prabowo Subianto yang baru berkuasa sejak tahun lalu telah memprioritaskan ekspansi ekonomi dengan agenda populis. Salah satunya program makanan gratis berskala besar yang menuai kekhawatiran terhadap stabilitas fiskal. Selain itu, presiden juga meluncurkan dana kekayaan negara baru, Danantara, yang mengawasi hampir 900 perusahaan BUMN dengan aset kelolaan mencapai 1 triliun dolar AS.

Meski demikian, kebijakan populis tersebut dinilai belum memberikan dampak signifikan bagi masyarakat miskin. Direktur investasi Aberdeen Investments, Xin-Yao Ng, menilai arah kebijakan ekonomi Indonesia masih belum jelas.

“Saya tetap prihatin dengan lintasan ekonomi dan menunggu untuk melihat apa yang dapat dicapai Danantara dalam hal ini,” kata Yao Ng.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.