Biodiesel Jadi Primadona, Konsumsi Domestik Tembus 15,6 Juta KL
Kamis, 28 Agu 2025, 23:00 WIBJAKARTA â Program biodiesel merupakan salah satu strategi energi terbarukan yang tidak hanya bertujuan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional.
Melalui pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku utama, program ini memberi nilai tambah pada sektor perkebunan, memperluas pasar domestik bagi petani, sekaligus menekan defisit transaksi berjalan akibat impor BBM.
Namun, di sisi lain, tantangan terkait keberlanjutan lingkungan, fluktuasi harga CPO, dan kesiapan infrastruktur distribusi menjadi faktor krusial yang harus dikelola agar program biodiesel benar-benar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hijau tanpa mengorbankan stabilitas sektor lainnya.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) memproyeksikan konsumsi biodiesel dalam negeri untuk tahun 2025 berada di angka 15,6 juta kiloliter.
âKonsumsi biodiesel di tahun 2024 mencapai 13 juta kiloliter. Untuk tahun 2025, konsumsi domestik ditargetkan sebesar 15,6 juta kiloliter,â kata Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono di Jakarta, Kamis (28/8).
Menurut Djatmiko, angka ini selaras dengan produksi biodiesel nasional yang terus mencatatkan peningkatan hingga mencapai 13,9 juta kiloliter pada tahun lalu. Angka ini pun memiliki potensi untuk bertambah pada tahun ini.
Ia melanjutkan terdapat setidaknya 26 produsen biodiesel yang tersebar di 12 provinsi. Peningkatan konsumsi dan produksi biodiesel pun ia nilai sejalan dengan upaya pemerintah terkait percepatan transisi energi hijau dan berkelanjutan (sustainable), serta memiliki dampak ekonomi yang luas.
âSelain itu, proyeksi penyerapan tenaga kerja industri biodiesel mencapai 14 ribu orang di sektor off-farm dan 1,95 juta orang di sektor on-farm,â ujar Djatmiko.
Sementara itu, Kemendag memproyeksikan ekspor biodiesel ke Uni Eropa (UE) stabil di angka 6,7 persen menyusul kemenangan sengketa DS618 terkait penerapan bea imbalan/countervailing duties (CVD) di Panel Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Berdasarkan data yang dibagikan oleh Kemendag, ekspor biodiesel Indonesia cukup fluktuatif selama 10 tahun terakhir.
Selama masa pengenaan CVD (2020-2024), ekspor biodiesel Indonesia ke UE tetap tumbuh sebesar 6,7 persen dengan rata-rata nilai ekspor 319,7 juta dolar AS.
Namun, Djatmiko juga menekankan bahwa Indonesia juga memerlukan biodiesel untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, yang sejalan dengan tujuan transisi energi nasional.
âKarena kita juga punya kebutuhan dalam negeri sampai 2045 itu diperkirakan bakal konsumsi 15,6 juta kiloliter. Kalau ke depannya produksi biodiesel juga terserap untuk program transisi energi Indonesia, pastinya akan berdampak pada kinerja ekspor,â kata Djatmiko.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Bulan Inklusi Keuangan 2025 di Surabaya
-
Rupiah Hari Ini Melemah di Tengah Tarik-Ulur Kebijakan The Fed
-
Terminal Khusus Kilang Balongan, Penopang Distribusi Energi Indonesia
-
Beach Pool Ancol Jadi Opsi Terbaik Liburan Favorit Warga Jakarta
-
Tim SAR Gabungan Cari Pria Hilang di Hutan Desa Danau Bambure Kalteng
-
Bulog Tegaskan Swasembada Merupakan Kunci Kedaulatan
-
Kedelai Jadi Jembatan, AS-RI Pererat Kolaborasi Strategis
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.