Pusat Edukasi Sejarah Brimob Diresmikan untuk Wisata Pendidikan

Rabu, 27 Agu 2025, 02:35 WIB

BOGOR -  Komandan Korps Brimob Komjen Pol Imam Widodo, meresmikan “Wisata Juang Korps Brimob” di Gunungputri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (26/8). Kelak tempat ini sebagai pusat edukasi sejarah perjalanan Brimob.

Gedung Wisata Juang ini dibangun untuk merekam perjalanan Polri yang bermula dari Polisi Istimewa pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945. Saat itu, Inspektur Muhammad Yasin memproklamasikan Polisi Istimewa menjadi Polri pada tanggal 21 Agustus 1945.

Ket. Foto: Korps Brimob — Sumber: ist

Ketua Pelaksana Pembangunan Wisata Juang Korps Brimob, Brigjen Pol Agustri Heriyanto menjelaskan, pembangunan gedung lebih mudah daripada mengumpulkan riwayat perjuangan. Karena itu, kurasi pameran melibatkan masukan para sesepuh Brimob agar arsip, kebijakan, dan jejak operasi dapat terekam lengkap.

Wisata Juang Brimob menampilkan 60 pataka, dua Jakor Brimob, serta miniatur artefak nasional seperti Tugu Rumbati dan Benteng Guraba. Selain itu, koleksi digital memungkinkan pengunjung, termasuk wartawan dan masyarakat, menambahkan data sejarah. "Kami ingin museum ini hidup, bukan sekadar benda mati," ujar Agustri.

Saat ini Brimob memiliki 38 Satbrimob Polda dengan total sekitar 56.500 personel. Struktur organisasi mencakup empat resimen dan 16 batalyon, serta berbagai pataka yang menjadi identitas pasukan. Pameran juga memuat perjalanan 31 Dankor Brimob sejak masa Presiden Soekarno hingga sekarang.

Gedung tersebut diberi nama R Suprapto, seorang Dankor Brimob yang dikenal sederhana, lugas, dan efektif dalam memimpin. "Kami ingin meneladani gaya kepemimpinan beliau yang efisien," kata Agustri. Wisata Juang dibuka setiap hari pukul 08.00–15.00 tanpa pungutan biaya. Panitia juga menyiapkan layanan khusus bagi kunjungan sekolah pada akhir pekan. “Kami ingin Brimob hadir untuk masyarakat, bukan ditakuti,” ujarnya.

Wisata Juang Korps Brimob ini untuk memperlihatkan sisi humanis pasukan elite Polri tersebut. Agustri Heriyanto menjelaskan konsep yang dipilih bukan “museum rakyat” yang dianggap terlalu sakral, melainkan “wisata juang” agar lebih inklusif. “Kami ingin Brimob bukan ditakuti, tetapi untuk masyarakat, nusa, dan bangsa,” ujarnya.

Pengunjung dapat melihat pataka, jakor, serta arsip operasi Brimob, sekaligus menyumbang data sejarah lewat platform digital. Dengan begitu, perjalanan Brimob tidak berhenti pada benda mati, melainkan terus hidup melalui narasi kolektif. Wisata Juang dibuka setiap hari tanpa biaya masuk. Panitia pun tidak menempatkan penjagaan ketat agar suasana lebih ramah.

“Kami ingin pengunjung merasa nyaman, bukan seakan-akan berada di tempat yang angker,” ujar Agustri. Perpaduan antara kesiapan operasional menjaga negara dan keterbukaan sejarah lewat Wisata Juang diharapkan dapat memperkuat citra Brimob yang disiplin namun juga humanis. 

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.