Penurunan Suku Bunga Tidak Otomatis Dorong Investasi di Sektor Riil

Selasa, 26 Agu 2025, 01:05 WIB

JAKARTA - Pidato Gubernur Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell di Jackson Hole akhir pekan lalu memberi sinyal peningkatan prospek pemangkasan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September mendatang. 

Powell seperti dikutip dari Antara dalam pertemuan di simposium Jackson Hole, menekankan risiko inflasi yang cenderung naik dan risiko ketenagakerjaan cenderung menurun dalam waktu dekat, sehingga menciptakan situasi yang sulit.

Ket. Foto: Gubernur Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell — Sumber: koran jakarta/m fachri

Powell juga menyampaikan bahwa kebijakan moneter tidak berada di jalur yang telah ditentukan sebelumnya, dan anggota FOMC akan membuat keputusan terkait suku bunga hanya berdasarkan penilaian mereka pada data dan implikasinya terhadap prospek ekonomi maupun keseimbangan risiko.

“Situasi yang tidak biasa ini menunjukkan bahwa risiko penurunan lapangan kerja meningkat,” kata Powell, memperingatkan bahwa risiko tersebut dapat dengan cepat terwujud dalam bentuk PHK dan lonjakan pengangguran.

Merespon pidato tersebut, perusahaan pialang besar, termasuk Barclays, BNP Paribas, dan Deutsche Bank, memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan September 2025.

Barclays memajukan perkiraan pemangkasan suku bunga September 2026 menjadi September 2025, dengan mengatakan bahwa pidato Powell memperkenalkan bias pelonggaran dan meningkatkan standar untuk tidak melakukan pemangkasan.

“Powell menegaskan bahwa The Fed bermaksud untuk melakukan pemangkasan suku bunga 'fine-tuning' pada bulan September kecuali jika data menunjukkan sebaliknya,” sebut para ekonom BNP, yang dipimpin oleh Calvin Tse seperti dikutip dari Reuters, Minggu (24/8).

Sementara itu, Macquarie dan Deutsche Bank merevisi ekspektasi pemangkasan suku bunga masing-masing pada bulan September dan Desember, menjadi pemangkasan sebesar 25 basis poin dalam dua bulan tersebut.

Mengalir ke AS

Pengamat Ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo, menilai langkah The Fed mempertahankan suku bunga tinggi selama ini dapat dimaklumi karena masih menjadi daya tarik utama bagi investor global.

“Kita lihat time series-nya, Bank Indonesia cenderung menurunkan suku bunga, bank sentral negara lain juga demikian. Tapi The Fed tetap menahan suku bunga tinggi. Itu wajar karena dengan kurs dollar AS yang kuat ditambah suku bunga menarik, investasi portofolio tetap mengalir ke AS,” kata Susilo, Senin (25/8).

Menurut dia, investor global tidak selalu bertindak kompleks, karena pada akhirnya dollar AS tetap menjadi pilihan utama. "Di manapun, termasuk Indonesia, dollar adalah pilihan utama. Jika di AS suku bunganya tinggi, maka investasi akan mengalir ke sana. Ini bagian dari upaya AS mempertahankan hegemoni kekuatan mata uangnya,” katanya.

Sri Susilo menambahkan, tren penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) bisa berdampak positif terhadap perekonomian domestik. Dengan BI rate yang lebih rendah, diharapkan suku bunga perbankan dan pinjaman ikut turun, sehingga investasi meningkat dan roda ekonomi bergerak lebih cepat.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa penurunan suku bunga tidak otomatis mendorong investasi riil di Indonesia. “Apakah harapan itu berhasil belum tentu. Kalau suku bunga di Indonesia tidak menarik, investor akan tetap memilih ke Amerika,” jelasnya.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.