Daniil Medvedev vs Penonton US Open: Drama, Amarah, dan Euforia di Flushing Meadows

Selasa, 26 Agu 2025, 09:10 WIB

NEW YORK, AMERIKA SERIKAT – Jika ada satu petenis yang identik dengan hubungan penuh gejolak bersama publik US Open, maka nama Daniil Medvedev berada di barisan terdepan. Mantan juara Grand Slam asal Russia ini berkali-kali terlibat dalam drama emosional di Flushing Meadows,dari adu mulut, sindiran tajam, hingga perayaan penuh kontroversi.

Berikut rangkaian momen panas yang membentuk “kisah cinta-benci” Medvedev dengan penonton New York:

Ket. Foto: Daniil Medvedev — Sumber: AFP

2025 – Tirai Karir Ditutup dengan Kekacauan?

Pada babak pertama melawan Benjamin Bonzi, Medvedev sempat berada di ambang kekalahan straight set. Situasi memanas ketika seorang fotografer memasuki lapangan saat Bonzi melakukan servis, memaksa wasit memberi pengulangan.

Merasa dirugikan, Medvedev melancarkan protes keras. Tak berhenti di situ, ia justru memprovokasi penonton agar berteriak “Second serve!” berulang-ulang. Suasana ricuh berlangsung lebih dari enam menit, hingga Bonzi nyaris meninggalkan lapangan dan sempat meminta lawannya didiskualifikasi.

Meski Medvedev berhasil merebut set keempat, akhirnya ia tetap tumbang 3-6, 5-7, 6-7(5), 6-0, 4-6. Usai laga, pernyataannya terdengar sarat emosi:

“Saya emosional. Saat mengalaminya, saya berpikir mungkin ini cara yang menyenangkan untuk menutup karir saya di US Open.”

2023 – Bentrok dengan Fans O’Connell

Dalam duel babak kedua kontra Christopher O’Connell, Medvedev yang unggul dua set tiba-tiba digoyang comeback lawan. Penonton Louis Armstrong Stadium larut dalam dukungan penuh untuk petenis Australia itu.

Medvedev yang gagal menutup laga di tiebreak set ketiga pun kehilangan kesabaran. Saat beberapa penonton masuk tribun di momen krusial, ia berteriak lantang: “Bisakah kalian diam? Kalian bodoh atau bagaimana?”

Meski demikian, ia berhasil mengendalikan pertandingan lagi dan menutup kemenangan 6-2, 6-2, 6-7(8), 6-2.

2021 – Gelar Pertama di Tengah Cemoohan

Final melawan Novak Djokovic seharusnya jadi panggung terbesar karier Medvedev. Namun, penonton Arthur Ashe Stadium justru menghadirkan tekanan dengan cemoohan dan siulan panjang di setiap servisnya.

Dalam suasana riuh penuh tekanan, Medvedev tetap bertahan hingga akhirnya menang 6-4, 6-4, 6-4, meraih gelar Grand Slam pertamanya sekaligus menggagalkan misi Djokovic menyapu bersih semua major dalam satu tahun.

“Itu sulit. Saya membuat beberapa double fault karenanya. Tapi kemenangan ini terasa lebih manis karena akhirnya saya bisa menyelesaikannya di match point ketiga,” ungkapnya.

2019 – Awal Perseteruan Panjang

Segalanya bermula empat tahun sebelumnya. Pada babak ketiga melawan Feliciano Lopez, Medvedev merebut paksa handuk dari ballboy, melempar raket ke arah wasit, lalu mengacungkan jari tengah. Penonton pun langsung memboikotnya dengan ejekan keras.

Alih-alih mereda, Medvedev justru menantang balik setelah menang 7-6(1), 4-6, 7-6(7), 6-4. Dengan tangan terentang, ia menatap tribun lalu berkata tegas:

“Saya ingin kalian semua tahu, ketika tidur malam ini, saya menang karena kalian. Semakin kalian melakukan ini, semakin saya akan menang untuk kalian.”

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.