Fenomena Menyedihkan di Korea Selatan, Minimarket Disulap Jadi Obat Ampuh Pengusir Kesepian

Senin, 25 Agu 2025, 11:00 WIB

JAKARTA - Bayangkan sebuah minimarket yang biasanya hanya dipenuhi rak penuh mie instan, minuman, dan camilan, kini berubah menjadi ruang pelarian dari kesepian. 

Inilah yang sedang terjadi di Korea Selatan. Di tengah hiruk pikuk kota Seoul yang super sibuk, pemerintah meluncurkan program unik, “Minimarket Penuh Kasih Sayang.”

Ket. Foto: Warga Korea Selatan memilih minimarket untuk melepas rasa kesepian — Sumber: Unsplash

Konsepnya sederhana tapi penuh makna, sebuah toko serba ada yang dirancang seperti ruang tamu rumah. Ada sofa empuk, bean bag, layar film, hingga ramen gratis. 

Namun, tujuan utamanya bukan sekadar tempat jajan, melainkan wadah bagi orang-orang yang merasa kesepian dan tidak diterima di masyarakat.

Program ini hadir seiring kampanye “Seoul Without Loneliness” yang diluncurkan pada akhir 2024. Tak heran, karena sebuah studi pada 2022 mengungkap ada lebih dari 130 ribu anak muda Seoul usia 19–39 tahun yang mengalami isolasi sosial. Bahkan, hampir 40 persen rumah tangga di ibu kota kini hanya dihuni satu orang.

Banyak faktor yang memicu, biaya hidup tinggi, rumah sempit, tekanan kerja, hingga penurunan angka kelahiran dan pernikahan. Generasi muda menolak berumah tangga, sementara kaum lansia ditinggalkan sendiri di masa tua.

Hasilnya? Kesepian menjadi epidemi baru yang membayangi Korea Selatan.

Di Dongdaemun, misalnya, puluhan warga dari berbagai usia berkumpul di minimarket ini. Ada yang menonton film, ada yang rebahan di kursi pijat otomatis, sementara yang lain sekadar duduk ditemani semangkuk ramen hangat. 

“Ramen adalah simbol kenyamanan dan kehangatan di Korea,” jelas Kim Se Heon, pejabat kota yang mengelola program ini.

Tak tanggung-tanggung, dalam beberapa bulan pertama saja, lebih dari 20 ribu orang sudah berkunjung ke empat minimarket penuh kasih sayang. Angka itu jauh di atas ekspektasi pemerintah yang hanya menargetkan 5 ribu pengunjung di tahun pertama.

Bagi banyak orang, tempat ini bukan sekadar toko, melainkan rumah kedua, tempat mereka merasa diterima tanpa stigma. Nama “minimarket” dipilih agar tidak menimbulkan kesan seperti klinik kesehatan mental, mengingat stigma terhadap isu psikologis masih kuat di kalangan lansia Korea.

Minimarket ini mungkin kecil, tapi bagi mereka yang tenggelam dalam kesepian, tempat ini adalah cahaya. Bukti bahwa bahkan di tengah kota modern yang dingin, kehangatan manusia tetap dibutuhkan lebih dari segalanya.

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.